
Kuatbaca.com-Bank Indonesia (BI) memperluas pendekatan kebijakannya dalam mendongkrak pertumbuhan kredit perbankan nasional. Bank sentral menegaskan bahwa upaya memacu intermediasi perbankan tidak lagi cukup hanya dengan melonggarkan kebijakan moneter dan mengguyur likuiditas ke sistem perbankan (supply side), melainkan harus dibarengi dengan langkah proaktif menjaring dan memetakan calon debitur potensial di sektor riil (demand side) yang siap menyerap pembiayaan perbankan secara produktif.
BI terus mengoptimalkan Kebijakan Insentif Likuiditas Makroprudensial (KLM) guna memacu perbankan menyalurkan pembiayaan ke sektor-sektor prioritas pencipta lapangan kerja, hilirisasi industri, perumahan, serta transisi ekonomi hijau. Melalui skema KLM, bank-bank yang aktif menyalurkan kredit ke sektor prioritas dan UMKM akan memperoleh keringanan pemenuhan Giro Wajib Minimum (GWM), sehingga ruang ekspansi pembiayaan bagi pelaku usaha menjadi jauh lebih longgar dan kompetitif.
Guna menjembatani jurang informasi antara industri perbankan dan dunia usaha, BI secara aktif menggelar berbagai forum temu bisnis (business matching) dan kurasi proyek potensial di berbagai kantor perwakilan daerah. Langkah ini ditujukan untuk menyaring ribuan pelaku usaha yang memiliki kelayakan bisnis (feasible) dan kepatuhan finansial (bankable) agar dapat dipertemukan langsung dengan lembaga perbankan yang memiliki kelebihan likuiditas dan komitmen penyaluran kredit.
Penguatan dari sisi permintaan pembiayaan ini diharapkan mampu mempercepat laju pertumbuhan kredit nasional menuju target dua digit, sekaligus menjadi katalis utama bagi pemulihan konsumsi dan investasi domestik. BI bersama Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan pemerintah terus memperkuat sinergi bauran kebijakan demi menjaga stabilitas sistem keuangan serta memastikan roda pembiayaan sektor riil berputar optimal dalam menopang pertumbuhan ekonomi nasional.