
Pemerintah memastikan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi dan gas LPG subsidi tetap dipertahankan meskipun kondisi geopolitik global masih memengaruhi pergerakan harga energi dunia. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menyampaikan kepastian tersebut usai mengikuti rapat bersama Presiden Prabowo Subianto di Istana Kepresidenan, Jakarta, Selasa (28/7/2026). Keputusan untuk mempertahankan harga energi bersubsidi diambil sebagai upaya menjaga daya beli masyarakat sekaligus memberikan kepastian bagi sektor ekonomi yang masih menghadapi tantangan akibat ketidakstabilan harga minyak internasional.
Menurut pemerintah, konflik yang masih berlangsung di kawasan Timur Tengah menjadi salah satu faktor utama yang menyebabkan harga minyak mentah dunia bergerak naik turun dalam beberapa waktu terakhir. Ketidakpastian geopolitik membuat pasar energi global mengalami volatilitas sehingga memengaruhi harga minyak internasional. Meski demikian, pemerintah menegaskan bahwa perubahan harga di pasar global belum berdampak pada penyesuaian harga BBM bersubsidi maupun LPG subsidi di dalam negeri. Kebijakan tersebut diambil agar masyarakat tetap memperoleh akses terhadap energi dengan harga yang stabil di tengah dinamika ekonomi global.
Selain memastikan harga tetap stabil, pemerintah juga menyampaikan bahwa ketersediaan energi nasional masih berada dalam kondisi aman. Cadangan bahan bakar minyak, minyak mentah (crude oil), maupun LPG disebut berada di atas batas minimum yang telah ditetapkan sebagai standar nasional. Kondisi ini memberikan ruang bagi pemerintah untuk menjaga kelancaran distribusi energi kepada masyarakat dan sektor industri. Dengan stok yang memadai, risiko gangguan pasokan akibat gejolak pasar internasional diharapkan dapat diminimalkan sehingga kebutuhan energi nasional tetap terpenuhi tanpa hambatan berarti.
Pemerintah juga terus memperkuat ketahanan energi melalui kebijakan impor minyak dari berbagai negara mitra. Salah satu langkah yang telah direalisasikan adalah tahap awal impor minyak dari Rusia sebagai bagian dari strategi diversifikasi pasokan energi. Kebijakan ini bertujuan menjaga kecukupan cadangan nasional sekaligus memastikan pasokan minyak mentah tetap tersedia untuk mendukung kebutuhan kilang dan konsumsi dalam negeri. Dengan memperluas sumber pasokan, pemerintah berharap dapat mengurangi risiko kekurangan energi apabila terjadi gangguan pada jalur distribusi atau lonjakan permintaan global.
Di tengah situasi geopolitik yang masih berkembang, pemerintah menempatkan stabilitas harga energi sebagai salah satu prioritas utama. Langkah menjaga harga BBM dan LPG subsidi tetap tidak berubah diharapkan mampu memberikan kepastian bagi masyarakat, pelaku usaha, dan sektor industri. Selain mempertahankan stok energi yang memadai, pemerintah juga terus memantau perkembangan harga minyak dunia agar dapat merespons perubahan kondisi pasar secara cepat dan terukur. Dengan kombinasi kebijakan pengelolaan cadangan energi, diversifikasi impor, serta pengawasan terhadap dinamika global, pemerintah berupaya menjaga ketahanan energi nasional sekaligus meminimalkan dampak gejolak internasional terhadap perekonomian Indonesia.