CORE Indonesia Prediksi Ekonomi RI Melambat, Pertumbuhan Kuartal II 2026 Diperkirakan di Bawah 5 Persen

29 July 2026 17:24 WIB
WhatsApp Image 2026-07-29 at 16.42.41.jpeg

Kuatbaca.com - Lembaga riset ekonomi CORE Indonesia memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II 2026 melambat ke kisaran 4,8 hingga 4,9 persen. Angka tersebut berada di bawah level 5 persen dan mencerminkan tekanan yang semakin besar terhadap perekonomian nasional sepanjang semester pertama tahun ini.

Direktur Riset Bidang Makroekonomi, Kebijakan Fiskal, dan Moneter CORE Indonesia, Ahmad Akbar Susamto, mengatakan perlambatan ekonomi terjadi karena sektor riil sudah menghadapi berbagai tekanan bahkan sebelum Bank Indonesia menaikkan suku bunga acuannya sebesar 100 basis poin.

“Hasil hitung-hitungan itu bahwa kami memperkirakan bahwa laju pertumbuhan ekonomi pada triwulan kedua 2026 adalah antara 4,8 sampai 4,9 persen,” kata Akbar dalam CORE Mid-Year Review 2026 di CORE Sight Hub, Tebet, Jakarta Selatan pada Rabu (29/7/2026).

Akbar menegaskan, tekanan terhadap sektor riil semakin besar setelah BI menaikkan suku bunga untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.

“Ketika sektor riil sudah dalam tekanan kemudian Bank Indonesia menaikkan tingkat suku bunga maka tekanannya nambah,” ujar Akbar.

Menurutnya, kenaikan suku bunga membuat biaya pendanaan semakin mahal sehingga rumah tangga menunda konsumsi, sementara pelaku usaha mengurangi ekspansi investasi.

“Pengusaha tadinya mau investasi beli mesin, beli alat, macam-macam… ketika tingkat suku bunga naik jadi enggak jadi karena terasa terlalu mahal. Apa yang terjadi? Tertunda investasinya,” katanya.

Akbar menjelaskan kondisi tersebut memperberat situasi industri manufaktur yang sebelumnya sudah dibebani kenaikan biaya produksi, ketidakpastian global, hingga perlambatan permintaan domestik.

Rupiah Melemah karena Faktor Domestik

Dalam kesempatan yang sama, Ekonom CORE Indonesia, Dipo, menilai pelemahan rupiah saat ini lebih banyak dipengaruhi persoalan domestik dibandingkan faktor global.

“Kalau menurut kami mungkin lebih banyak faktor domestik memang. Faktor global betul ada… tetapi yang tetap menjadi masalah hari ini adalah faktor domestik itu. Faktor global itu mungkin 30-40 persen, domestik mungkin 60-70 persen dari masalah,” ujarnya.

Ia menyoroti rupiah menjadi salah satu mata uang dengan pelemahan terdalam di kawasan Asia, sementara mata uang negara tetangga justru mulai menguat.

Menurut Dipo, salah satu penyebab utama ialah menurunnya kepercayaan investor terhadap arah kebijakan pemerintah.

“Yang menjadi concern adalah sebenarnya masalah kebijakan yang selalu berubah-ubah. Unpredictable policy bahkan di rating agency tema itu selalu keluar,” katanya.

Dipo juga menilai Bank Indonesia telah mengeluarkan berbagai instrumen untuk menahan pelemahan rupiah, mulai dari intervensi pasar, kenaikan suku bunga hingga instrumen non-suku bunga. Namun, langkah tersebut dinilai hanya mampu mengurangi volatilitas dalam jangka pendek.

“Bank Indonesia ini sebenarnya sudah cukup desperate. Dia sudah mati-matian menjaga intervensi di pasar spot, pasar DNDF, dia bahkan mengeluarkan produk-produk ini, suku bunga dia sudah naikin 1 persen, dan rupiah masih belum turun juga,” ujarnya.

Fiskal Diproyeksi Semakin Berat

Sementara itu, Manajer Riset Strategis CORE Indonesia, Yusuf Rendy Manilet, mengatakan kondisi APBN semester pertama memang terlihat lebih baik dibandingkan tahun lalu, tetapi tekanan diperkirakan meningkat pada paruh kedua 2026.

Menurut Yusuf, kenaikan harga minyak dunia, potensi restitusi pajak, serta perlambatan penerimaan negara berisiko memperlebar defisit anggaran.

“Kami sendiri memperkirakan kalau kondisinya seperti sekarang, ada masih ada peluang terjadinya shortfall penerimaan perpajakan dengan angka di kisaran 73 hingga 149 triliun di sepanjang tahun ini,” kata Yusuf.

Ia menambahkan, kenaikan harga minyak di atas asumsi APBN juga akan meningkatkan beban subsidi pemerintah.

“Apabila kemudian harga minyaknya itu mengalami peningkatan, terutama di angka katakanlah 90 hingga 100 US dollar per barel, maka itu akan mendorong kenaikan belanja beban subsidi, dan itu juga akan mempengaruhi kenaikan defisit anggaran yang lebih besar,” ujarnya.

Dampak Langsung ke Masyarakat

Akbar menilai perlambatan ekonomi yang diperkirakan berlanjut hingga akhir 2026 akan memberikan dampak paling besar kepada masyarakat berpenghasilan rendah. Menurutnya, kelompok bawah sejak awal memang telah berada dalam kondisi yang sulit sehingga tekanan ekonomi akan semakin terasa.

“Kalau ditanya tentang bagaimana dampaknya bagi masyarakat saya kira lebih banyak kalau untuk masyarakat yang bawah ya sulit saya harus mengakui bahwa itu sulit,” kata Akbar.

Akbar menilai pertumbuhan ekonomi sekitar 5 persen belum banyak dirasakan masyarakat bawah. Ia menyebut kelompok penganggur dan pekerja serabutan masih sulit memperoleh manfaat dari pertumbuhan tersebut.

“Kalaupun pertumbuhan ekonomi kita itu kelihatan sekitar 5 persen, itu untuk siapa? … yang di bawah itu dapatnya hampir nggak ada, kalaupun dapat ya sedikit banget,” ujarnya.

Menurutnya, kondisi tersebut diperparah karena pemerintah pusat maupun daerah masih disibukkan persoalan anggaran dan berbagai masalah internal sehingga belum optimal membantu masyarakat.

“Jadi saya kira memang situasinya sulit, saya harus mengakui kita posisinya sulit ini… kita sedang tidak baik-baik saja menurut saya,” pungkas Akbar.

EkonomiIndonesia
PertumbuhanEkonomi
COREIndonesia

Fenomena Terkini






Trending