Dari Cilacap, AI Bantu Nelayan Membaca Kondisi Laut Sebelum Berlayar

30 August 2026 19:02 WIB
6a93f6e3c6649.jpg

1. Teknologi AI Bantu Nelayan Menentukan Waktu Melaut

Ketidakpastian hasil tangkapan selama ini menjadi salah satu tantangan yang dihadapi nelayan tradisional. Mereka harus mengeluarkan biaya bahan bakar, tenaga, dan waktu sebelum berangkat ke laut tanpa selalu mengetahui apakah perjalanan tersebut akan menghasilkan tangkapan yang cukup. Kondisi tersebut mendorong MetaSeaco, startup yang merupakan alumni program Pertamuda, mengembangkan teknologi berbasis kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) bernama Iwak. Teknologi ini dirancang untuk membantu nelayan memperoleh gambaran mengenai kondisi laut sebelum memutuskan berlayar. Iwak memanfaatkan kombinasi AI dan data satelit untuk memberikan rekomendasi yang berkaitan dengan waktu terbaik melaut, jenis ikan yang berpotensi ditemukan, hingga lokasi penangkapan yang dinilai memiliki peluang lebih besar. Inovasi tersebut dikembangkan berdasarkan persoalan nyata yang dialami nelayan di Cilacap Selatan, Jawa Tengah. Berdasarkan pencatatan MetaSeaco terhadap 6.806 perjalanan melaut, sekitar 41 persen perjalanan tercatat mengalami kerugian. Angka tersebut menunjukkan bahwa keputusan mengenai kapan dan ke mana nelayan harus melaut memiliki pengaruh besar terhadap efisiensi biaya operasional dan pendapatan mereka.

2. Iwak Manfaatkan Data Satelit untuk Mencari Lokasi Potensial

Iwak dikembangkan sebagai alat bantu pengambilan keputusan bagi nelayan sebelum mereka berangkat melaut. Melalui teknologi tersebut, nelayan dapat memperoleh informasi mengenai waktu yang dianggap paling sesuai untuk melakukan aktivitas penangkapan ikan. Sistem juga memberikan rekomendasi mengenai jenis ikan yang berpotensi menjadi target serta titik koordinat yang diperkirakan memiliki peluang tangkapan lebih tinggi. Pemanfaatan data satelit menjadi salah satu komponen penting karena kondisi perairan dapat berubah dan memengaruhi keberadaan ikan di suatu wilayah. Informasi yang kemudian diolah menggunakan teknologi AI diharapkan dapat membantu nelayan mengurangi keputusan berdasarkan perkiraan semata. Dengan mengetahui gambaran kondisi laut sejak dari rumah, nelayan dapat mempertimbangkan kembali apakah perjalanan perlu dilakukan atau ditunda. Cara tersebut berpotensi mengurangi perjalanan yang tidak produktif sekaligus menekan pengeluaran bahan bakar. Bagi nelayan dengan modal operasional terbatas, penghematan biaya menjadi faktor penting karena perjalanan melaut yang gagal mendapatkan hasil tangkapan tetap menghasilkan pengeluaran. Kehadiran teknologi seperti Iwak menjadi contoh bagaimana pengolahan data dapat diterapkan pada sektor perikanan untuk membantu masyarakat mengambil keputusan yang lebih terukur.

3. Pendapatan Nelayan Naik dan Biaya Operasional Berkurang

Penerapan teknologi Iwak saat ini telah dilakukan pada 15 perahu nelayan di wilayah Cilacap. Dari penerapan tersebut, terdapat perubahan pada sejumlah indikator ekonomi nelayan. Biaya operasional dilaporkan dapat ditekan sekitar 23 persen, sementara rata-rata pendapatan nelayan meningkat hingga 68 persen. Persentase perjalanan yang mengalami kerugian juga turun dari sebelumnya sekitar 41 persen menjadi kurang lebih 30 persen. Hasil tersebut menunjukkan bahwa pemanfaatan teknologi informasi tidak hanya berfungsi sebagai alat bantu navigasi, tetapi juga dapat memberikan dampak terhadap efisiensi kegiatan ekonomi nelayan. Sistem prediksi yang digunakan Iwak juga menunjukkan tingkat akurasi berbeda untuk sejumlah jenis ikan. Prediksi untuk ikan tenggiri batang mencapai sekitar 91 persen, bawal putih 85 persen, sedangkan layur berada di angka 70 persen. Salah satu perjalanan bahkan menghasilkan pendapatan sekitar Rp3 juta setelah nelayan mengikuti rekomendasi koordinat dengan tingkat prediksi tinggi. Meski demikian, teknologi prediksi tetap perlu dipahami sebagai alat bantu karena kondisi laut dan aktivitas ikan dapat berubah. Faktor cuaca, gelombang, keterampilan nelayan, serta kondisi perairan tetap menjadi bagian yang harus dipertimbangkan sebelum melakukan perjalanan.

4. Inovasi MetaSeaco Berpeluang Diperluas ke Desa Lain

Keberhasilan awal penerapan Iwak di Cilacap membuka peluang untuk memperluas penggunaan teknologi tersebut ke wilayah lain. Melalui kolaborasi program Desa Energi Berdikari (DEB) Pertamina dengan Pertamuda, inovasi yang dikembangkan MetaSeaco direncanakan dapat direplikasi untuk mendukung masyarakat binaan Pertamina di sekitar wilayah operasional perusahaan. Pengembangan tersebut menjadi bagian dari Festival Desa Energi Berdikari Pertamina 2026 yang berlangsung di Grha Pertamina, Jakarta, pada Jumat (28/8/2026). Konsep tersebut memperlihatkan bahwa program pemberdayaan masyarakat tidak hanya berkaitan dengan penyediaan infrastruktur energi, tetapi juga dapat menjadi ruang penerapan teknologi yang menjawab kebutuhan spesifik masyarakat. Untuk sektor perikanan, teknologi seperti Iwak berpotensi membantu nelayan mengurangi risiko perjalanan yang tidak menghasilkan sekaligus meningkatkan efisiensi penggunaan bahan bakar. Jika penerapannya diperluas, teknologi tersebut perlu disesuaikan dengan karakteristik perairan, jenis ikan, serta kebiasaan nelayan di setiap daerah. Pendekatan berbasis data juga dapat dikembangkan secara bertahap sehingga teknologi yang digunakan benar-benar relevan dengan kondisi masyarakat setempat.

5. AI dan Teknologi Tepat Guna Didorong Beri Dampak Nyata

Pemanfaatan AI untuk membantu nelayan membaca kondisi laut menjadi salah satu contoh penerapan teknologi tepat guna yang diarahkan untuk menyelesaikan persoalan sehari-hari. Selain MetaSeaco dengan Iwak, kolaborasi Pertamuda dan Desa Energi Berdikari juga membuka peluang bagi inovasi lain untuk diterapkan di tengah masyarakat. Salah satunya adalah Terangin, startup energi terbarukan yang masuk dalam tiga besar kategori Energy Future pada 2025. Teknologi yang dikembangkan Terangin berupa sistem penghalau burung berbasis laser otomatis yang ditujukan untuk membantu petani mengurangi gangguan hama pada lahan pertanian. Pengembangan berbagai inovasi tersebut menunjukkan bahwa teknologi tidak harus selalu hadir dalam bentuk yang rumit untuk memberikan manfaat. Justru, solusi yang mampu menjawab kebutuhan masyarakat secara langsung berpotensi menghasilkan dampak yang lebih terasa. Bagi nelayan di Cilacap, Iwak memberikan pendekatan baru dalam menentukan waktu dan lokasi melaut dengan memanfaatkan data. Ke depan, pengembangan teknologi semacam ini diharapkan tidak hanya meningkatkan produktivitas, tetapi juga membantu masyarakat mengurangi biaya, mengelola risiko, dan memperoleh hasil ekonomi yang lebih baik melalui keputusan yang didukung informasi.

TeknologiAI
NelayanCilacap
Pertamuda

Fenomena Terkini






Trending