
Kuatbaca.com - Pemerintah memastikan kondisi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) hingga akhir Mei 2026 masih berada dalam jalur yang sehat dan terkendali. Meskipun APBN mencatatkan defisit, posisi tersebut dinilai masih berada dalam batas aman dan tidak mengganggu stabilitas ekonomi nasional.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menjelaskan bahwa defisit APBN hingga 31 Mei 2026 tercatat sebesar Rp180,4 triliun atau setara 0,70 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Angka tersebut menunjukkan bahwa pengelolaan fiskal pemerintah masih berjalan sesuai rencana dan tetap menjaga keseimbangan antara pendapatan serta belanja negara.
Dalam konferensi pers APBN KiTA yang digelar di Jakarta, Purbaya menegaskan bahwa kondisi tersebut tidak perlu dikhawatirkan karena penerimaan negara menunjukkan tren perbaikan yang cukup kuat.
"Defisitnya sampai dengan Mei 2026 0,70%. Bisa kita kendalikan karena pajak dan bea cukai ada perbaikan signifikan," kata Purbaya.
1. Pendapatan Negara Tumbuh Positif Sepanjang Lima Bulan Pertama
Kinerja penerimaan negara menjadi salah satu faktor utama yang menopang kesehatan fiskal nasional. Hingga Mei 2026, pendapatan negara berhasil mencapai Rp1.185 triliun atau meningkat 19,1 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Peningkatan tersebut mencerminkan aktivitas ekonomi yang semakin membaik sekaligus hasil dari berbagai upaya reformasi di sektor perpajakan dan penerimaan negara.
Secara rinci, penerimaan negara berasal dari beberapa sumber utama, yakni:
Penerimaan pajak sebesar Rp834,4 triliun atau tumbuh 22,1 persen.
Penerimaan kepabeanan dan cukai sebesar Rp123,8 triliun atau meningkat 0,7 persen.
Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) sebesar Rp226,4 triliun atau tumbuh 19,9 persen.
Pertumbuhan tersebut menjadi sinyal positif bahwa basis penerimaan negara semakin kuat dibandingkan tahun sebelumnya.
2. Performa Pajak Berbalik Arah dan Menjadi Penopang Utama APBN
Salah satu pencapaian yang paling mendapat perhatian adalah lonjakan penerimaan pajak. Setelah sempat mengalami tekanan pada tahun sebelumnya, kini penerimaan pajak berhasil mencatatkan pertumbuhan yang signifikan.
Menurut Purbaya, kondisi ini menunjukkan adanya perubahan yang cukup besar dalam kinerja penerimaan negara. Ia membandingkan situasi saat ini dengan periode yang sama pada tahun lalu yang masih mengalami kontraksi.
"Bandingkan tahun lalu di bulan yang sama tuh pajak negatif 11,3%, cukai positif, PNBP negatif 33,2%. Jadi ada perbaikan yang signifikan di pajak utamanya dibandingkan kondisi tahun lalu. Tahun lalu full year pertumbuhan pajaknya tuh negatif. Sekarang positif, mungkin nanti akan 20% atau lebih kita coba dorong ke atas terus seiring dengan perbaikan di perpajakan," tutur Purbaya.
Kenaikan penerimaan pajak menjadi indikator bahwa aktivitas ekonomi dan kepatuhan perpajakan menunjukkan perkembangan yang lebih baik dibandingkan tahun sebelumnya.
3. Belanja Negara Dipercepat untuk Mendukung Pertumbuhan Ekonomi
Di sisi lain, pemerintah juga terus mempercepat realisasi belanja negara guna menjaga momentum pertumbuhan ekonomi nasional. Hingga akhir Mei 2026, belanja negara telah mencapai Rp1.365,4 triliun atau meningkat 34,4 persen secara tahunan.
Realisasi tersebut terdiri dari belanja pemerintah pusat sebesar Rp1.059,3 triliun dan transfer ke daerah sebesar Rp306,1 triliun.
Percepatan belanja ini dinilai penting untuk mendukung berbagai program pembangunan, menjaga daya beli masyarakat, serta memperkuat aktivitas ekonomi di berbagai wilayah Indonesia.
Purbaya menegaskan bahwa pertumbuhan belanja negara yang tinggi merupakan bagian dari strategi pemerintah dalam menggerakkan ekonomi nasional.
"Belanja negara tetap tumbuh 34,4% bagus, artinya sesuai dengan target. Kita ingin selalu mempercepat belanja mencapai Rp1.365,4 triliun," imbuh Purbaya.
4. Surplus Keseimbangan Primer Jadi Bukti APBN Tetap Sehat
Selain defisit yang masih terkendali, pemerintah juga mencatatkan surplus keseimbangan primer sebesar Rp58,6 triliun hingga akhir Mei 2026.
Keseimbangan primer merupakan indikator penting dalam kesehatan fiskal karena menggambarkan kemampuan pemerintah membiayai pengeluaran di luar pembayaran bunga utang. Surplus pada pos ini menunjukkan bahwa kondisi APBN masih cukup kuat dan berkelanjutan.
Pencapaian tersebut menjadi salah satu alasan pemerintah optimistis terhadap arah kebijakan fiskal sepanjang tahun 2026.
5. Purbaya Bantah Anggapan Pengelolaan Anggaran Dilakukan Secara Ugal-Ugalan
Menanggapi berbagai pandangan yang mempertanyakan kondisi fiskal nasional, Purbaya secara tegas membantah anggapan bahwa pemerintah mengelola anggaran negara secara sembrono atau tidak terukur.
Menurutnya, berbagai indikator utama justru menunjukkan kondisi yang positif, mulai dari peningkatan penerimaan pajak, defisit yang terkendali, hingga surplus keseimbangan primer.
"Di situ menunjukkan bahwa ya anggaran kita bagus. Jangan dibilang ugal-ugalan atau Purbaya membuat anggaran yang kacau sehingga mengganggu stabilitas nilai tukar, saya agak bingung darimana? Dari sini bagus semua. Pajaknya naik, defisitnya terjaga. Jadi kondisi fiskal amat baik," pungkas Purbaya.