
1. Desil Tidak Menentukan Besaran Penghasilan
Desil sering digunakan untuk menggambarkan posisi kesejahteraan suatu keluarga. Namun, angka desil tidak bisa disamakan dengan besaran gaji atau penghasilan yang diterima seseorang setiap bulan.
Kepala BPS DKI Jakarta Kadarmanto menjelaskan, desil merupakan metode statistik untuk mengelompokkan populasi yang telah diurutkan berdasarkan tingkat kesejahteraan. Populasi tersebut kemudian dibagi menjadi 10 kelompok dengan proporsi yang relatif sama.
Dalam Data Tunggal Sosial dan Ekonomi Nasional (DTSEN), desil digunakan untuk melihat posisi relatif suatu keluarga dibandingkan keluarga lainnya dalam distribusi kesejahteraan secara nasional.
Dengan demikian, desil 1 menggambarkan sekitar 10 persen keluarga dengan tingkat kesejahteraan relatif paling rendah, sedangkan desil 10 berada pada kelompok dengan tingkat kesejahteraan relatif paling tinggi. Artinya, penghasilan Rp5 juta tidak otomatis membuat seseorang masuk desil 5, begitu pula penghasilan Rp10 juta tidak berarti berada di desil 10.
2. Penentuan Desil Menggunakan Banyak Indikator
Posisi desil sebuah keluarga tidak ditentukan hanya berdasarkan satu variabel ekonomi. Ada berbagai indikator sosial dan ekonomi yang digunakan untuk menggambarkan kondisi rumah tangga secara lebih menyeluruh.
Dalam pemutakhiran data, terdapat sejumlah indikator yang mencakup kondisi fisik tempat tinggal, daya listrik, tingkat pendidikan kepala keluarga, kepemilikan aset, kendaraan, barang elektronik, hingga pengeluaran rumah tangga.
Karena menggunakan kombinasi indikator, kondisi dua keluarga dengan penghasilan yang sama belum tentu menghasilkan posisi desil yang sama. Begitu pula keluarga dengan pendapatan berbeda dapat memiliki posisi kesejahteraan yang relatif berdekatan.
Posisi desil juga tidak bersifat permanen. Ketika kondisi sosial ekonomi suatu keluarga berubah dan data diperbarui, posisi relatif keluarga tersebut dalam distribusi kesejahteraan juga dapat mengalami perubahan.
3. Pengeluaran Per Kapita Berbeda dengan Desil
Desil juga perlu dibedakan dari pengeluaran per kapita. Pengeluaran per kapita menggambarkan rata-rata jumlah pengeluaran setiap orang dalam sebuah rumah tangga, sedangkan desil menunjukkan posisi relatif keluarga dalam distribusi kesejahteraan.
Perbedaan tersebut penting karena kondisi ekonomi keluarga tidak hanya dilihat dari berapa banyak uang yang diterima atau dibelanjakan. Karakteristik rumah, kepemilikan aset, pendidikan, hingga kondisi anggota keluarga turut memberikan gambaran mengenai kesejahteraan rumah tangga.
Karena itu, masyarakat tidak dapat langsung menyimpulkan kondisi ekonominya hanya dengan melihat satu angka. Desil merupakan hasil pengelompokan berdasarkan berbagai indikator dan berfungsi untuk menunjukkan posisi relatif, bukan nominal penghasilan tertentu.
4. Garis Kemiskinan Juga Tidak Ditentukan dari Gaji
Selain desil, BPS menggunakan garis kemiskinan untuk melihat kondisi kemiskinan masyarakat. Ukuran ini didasarkan pada pengeluaran minimum yang dibutuhkan seseorang untuk memenuhi kebutuhan dasar makanan dan nonmakanan.
Di DKI Jakarta, garis kemiskinan pada Maret 2026 tercatat sebesar Rp925.525 per kapita per bulan. Jika dikalikan dengan rata-rata jumlah anggota rumah tangga sekitar 4,9 orang, nilainya mencapai sekitar Rp4,53 juta per rumah tangga setiap bulan.
Rumah tangga dengan pengeluaran di bawah batas tersebut dikategorikan sebagai rumah tangga miskin. Sementara itu, rumah tangga dengan pengeluaran di atas garis kemiskinan masuk kelompok tidak miskin.
Hal ini menunjukkan bahwa ukuran kemiskinan BPS juga tidak semata-mata melihat besaran pendapatan. Pengeluaran digunakan sebagai pendekatan untuk melihat kemampuan rumah tangga memenuhi kebutuhan dasar.
5. Kelas Menengah Belum Tentu Memiliki Keuangan yang Kokoh
Berada di atas garis kemiskinan juga tidak otomatis berarti sebuah rumah tangga sudah memiliki kondisi finansial yang kuat. BPS membagi kelompok di atas garis kemiskinan ke dalam beberapa kategori berdasarkan kelipatan garis kemiskinan.
Kelompok rentan miskin berada pada kisaran 1 hingga 1,5 kali garis kemiskinan. Meskipun secara statistik sudah berada di atas garis kemiskinan, kelompok ini masih memiliki risiko cukup besar untuk kembali jatuh miskin apabila menghadapi guncangan ekonomi.
Selanjutnya, kelompok yang menuju kelas menengah atau aspiring middle class berada pada 1,5 hingga 3,5 kali garis kemiskinan. Kelompok ini relatif lebih aman dari kemiskinan dasar, tetapi kondisi finansialnya belum sepenuhnya stabil.
Sementara itu, kelas menengah berada pada kisaran 3,5 hingga 17 kali garis kemiskinan. Kelompok ini secara umum memiliki kemampuan lebih besar untuk memenuhi kebutuhan sekunder dan tersier, memperoleh perlindungan kesehatan, serta mengalokasikan pengeluaran untuk pendidikan.
Perbedaan antara desil, garis kemiskinan, dan kelompok kelas ekonomi tersebut menunjukkan bahwa kondisi kesejahteraan masyarakat tidak dapat disederhanakan hanya berdasarkan besaran gaji. Sebuah keluarga dapat memiliki penghasilan tertentu, tetapi posisi kesejahteraannya tetap dipengaruhi berbagai kondisi sosial ekonomi lain yang tercermin dalam data.