
Memiliki ijazah sarjana tidak otomatis membuat seorang fresh graduate langsung mendapatkan pekerjaan yang sesuai dengan jurusan kuliahnya. Persaingan di pasar kerja membuat lulusan baru harus menghadapi berbagai persyaratan yang ditetapkan perusahaan, mulai dari pengalaman, kemampuan teknis, hingga keterampilan digital. Kondisi tersebut akhirnya membuat sebagian lulusan memperluas pilihan pekerjaan. Posisi yang sebelumnya diharapkan sesuai dengan bidang pendidikan bisa saja ditinggalkan ketika kesempatan kerja yang tersedia justru berasal dari sektor lain. Bagi sebagian lulusan, mendapatkan pekerjaan terlebih dahulu menjadi pilihan realistis sembari terus mencari posisi yang lebih sesuai dengan latar belakang dan rencana karier mereka.
Pengamat ketenagakerjaan Timboel Siregar menjelaskan bahwa lulusan baru pada awalnya masih memiliki ruang untuk mencari pekerjaan yang benar-benar sesuai dengan keinginan mereka. Dukungan finansial dari keluarga membuat sebagian pencari kerja dapat menunggu lebih lama sebelum menerima pekerjaan yang tersedia. Namun, kondisi tersebut tidak dapat berlangsung tanpa batas. Ketika masa menganggur semakin panjang, tekanan untuk memperoleh penghasilan juga meningkat sehingga pekerjaan yang sebelumnya tidak masuk dalam rencana karier mulai dipertimbangkan. Dalam kondisi seperti ini, pekerjaan di sektor jasa, ekonomi digital, pemasaran, maupun pekerjaan berbasis aplikasi dapat menjadi pilihan sementara sambil meningkatkan keterampilan dan mencari peluang yang lebih sesuai.
Salah satu persoalan yang ikut memengaruhi sulitnya lulusan baru masuk ke dunia kerja adalah ketidaksesuaian antara kompetensi yang dimiliki dengan kebutuhan industri atau mismatch. Lulusan perguruan tinggi bisa saja mempunyai pemahaman teori yang cukup dari bangku kuliah, tetapi belum memiliki kemampuan praktis yang secara langsung dibutuhkan perusahaan. Kondisi ini membuat gelar pendidikan belum tentu menjadi jaminan seseorang mampu memenuhi persyaratan sebuah posisi. Masalah tersebut juga dapat muncul ketika lulusan memiliki pengetahuan yang terlalu umum sehingga kesulitan menjelaskan keterampilan spesifik yang dapat mereka gunakan untuk menyelesaikan pekerjaan di perusahaan.
Perubahan kebutuhan dunia kerja membuat perusahaan semakin membutuhkan calon pekerja yang memiliki kemampuan spesifik. Lulusan dari satu jurusan bisa memiliki peluang pekerjaan yang sangat beragam dan masing-masing membutuhkan keahlian berbeda. Misalnya, lulusan ekonomi tidak hanya dituntut memahami teori ekonomi secara umum, tetapi dapat menghadapi kebutuhan perusahaan pada bidang analisis data, keuangan, pemasaran, perbankan, atau pekerjaan lain yang membutuhkan kemampuan teknis tertentu. Perkembangan teknologi juga membuat keterampilan digital semakin penting dalam banyak jenis pekerjaan. Karena itu, lulusan baru perlu mampu menerjemahkan pendidikan yang dimiliki menjadi keterampilan praktis yang dapat ditunjukkan kepada calon pemberi kerja.
Masa mencari pekerjaan dapat dimanfaatkan lulusan baru untuk menambah kompetensi yang lebih relevan dengan kebutuhan pasar. Selain mengirim lamaran ke berbagai perusahaan, pencari kerja dapat mengikuti pelatihan, mempelajari perangkat digital, membangun portofolio, mengambil proyek lepas, atau mencari pengalaman melalui pekerjaan sementara. Langkah tersebut dapat membantu mengurangi kesenjangan antara kemampuan yang diperoleh di perguruan tinggi dan keterampilan yang dibutuhkan industri. Masalahnya bukan hanya soal seberapa tinggi pendidikan seseorang, tetapi juga seberapa jelas kemampuan tersebut dapat diterapkan dalam pekerjaan. Dengan demikian, mengambil pekerjaan di luar jurusan tidak selalu berarti meninggalkan bidang pendidikan, karena pengalaman dan keterampilan yang diperoleh tetap dapat menjadi bekal untuk berpindah ke pekerjaan yang lebih sesuai pada tahap berikutnya.