
Kuatbaca.com-Masyarakat yang berencana berbelanja kebutuhan maupun produk gaya hidup di pusat perbelanjaan perlu bersiap menghadapi potensi kenaikan harga pada akhir tahun 2026. Sejumlah pelaku industri ritel memperkirakan harga berbagai jenis barang akan mengalami penyesuaian memasuki kuartal IV seiring meningkatnya biaya produksi dan distribusi.
Kenaikan harga diperkirakan tidak terjadi secara tiba-tiba, melainkan berlangsung bertahap. Pada semester pertama hingga awal semester kedua 2026, sebagian besar produk yang beredar masih berasal dari stok lama sehingga dampak kenaikan biaya produksi belum sepenuhnya dirasakan oleh konsumen.
Namun, kondisi tersebut diperkirakan berubah ketika produk-produk baru mulai memenuhi etalase toko menjelang akhir tahun.
1. Barang yang Dijual pada Akhir Tahun Diproduksi dengan Biaya Lebih Tinggi
Ketua Umum Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI), Alphonzus Widjaja, menjelaskan bahwa produk yang akan dipasarkan pada semester kedua merupakan hasil produksi terbaru yang dibuat ketika biaya bahan baku sudah mengalami kenaikan.
Akibatnya, harga jual barang baru hampir dipastikan ikut menyesuaikan agar pelaku usaha dapat menutup peningkatan biaya produksi.
Dalam keterangannya, Alphonzus mengatakan:
"Sekarang ini di triwulan II, triwulan III, relatif harga masih naik harga tapi belum signifikan. Karena itu adalah barang-barang produk hasil stok yang lama. Tapi nanti di triwulan IV hampir pasti harga akan naik. Jadi saya kira itu yang harus diantisipasi."
Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa kenaikan harga diperkirakan akan lebih terasa menjelang musim belanja akhir tahun, ketika stok lama mulai habis dan digantikan oleh produk baru.
2. Kenaikan Biaya Logistik, Energi, dan Kurs Jadi Faktor Utama
Menurut APPBI, terdapat sejumlah faktor yang mendorong kenaikan harga barang di pusat perbelanjaan. Salah satunya adalah meningkatnya biaya logistik yang membuat ongkos distribusi produk menjadi lebih mahal dibandingkan sebelumnya.
Selain itu, biaya energi yang terus meningkat juga berdampak langsung terhadap proses produksi dan operasional pelaku usaha. Faktor lain yang tidak kalah penting adalah fluktuasi nilai tukar rupiah terhadap mata uang asing yang memengaruhi harga bahan baku impor maupun produk yang didatangkan dari luar negeri.
Alphonzus menjelaskan kondisi tersebut masih diperparah oleh berbagai tantangan ekonomi yang sedang dihadapi dunia usaha.
"Ditambah lagi situasi di dalam kondisi dalam negeri juga saya kira penuh dengan tantangan. Biaya logistik naik, biaya energi naik, nilai tukar rupiah naik, kemudian tingkat suku bunga pinjaman juga naik."
Kenaikan suku bunga pinjaman juga turut meningkatkan beban biaya operasional perusahaan karena banyak pelaku usaha memanfaatkan fasilitas pembiayaan untuk menjaga arus kas maupun memperluas bisnis.
3. Hampir Semua Kategori Barang Diprediksi Mengalami Penyesuaian Harga
Potensi kenaikan harga diperkirakan tidak hanya terjadi pada satu jenis produk tertentu. Berbagai kategori barang yang dijual di pusat perbelanjaan berpotensi mengalami penyesuaian harga karena sebagian besar menghadapi tantangan biaya yang sama.
Mulai dari produk fesyen, elektronik, perlengkapan rumah tangga, hingga kebutuhan gaya hidup diperkirakan akan terdampak oleh meningkatnya ongkos produksi dan distribusi.
Selain faktor ekonomi, kondisi operasional juga sempat dipengaruhi gangguan pasokan listrik yang terjadi di sejumlah wilayah. Situasi tersebut dinilai menambah tantangan bagi pelaku usaha dalam menjaga efisiensi biaya.
Karena itu, konsumen kemungkinan akan mulai melihat perubahan harga ketika koleksi dan stok terbaru mulai dipasarkan menjelang akhir tahun.
4. Daya Beli Masyarakat Berpotensi Semakin Tertekan
Kenaikan harga barang diperkirakan memberikan dampak paling besar bagi masyarakat berpenghasilan menengah ke bawah. Kelompok ini dinilai lebih sensitif terhadap perubahan harga karena sebagian besar pengeluaran dialokasikan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Di sisi lain, pemulihan daya beli masyarakat dinilai belum sepenuhnya kembali ke kondisi normal setelah menghadapi berbagai tantangan ekonomi dalam beberapa tahun terakhir.
Alphonzus mengingatkan bahwa kondisi tersebut perlu menjadi perhatian semua pihak.
"Kalau harga naik yang terdampak itu adalah kelas menengah bawah. Karena memang daya beli sekarang kan masih belum pulih normal. Jadi itu yang harus diantisipasi saya kira di triwulan."
Apabila harga berbagai kebutuhan terus meningkat, masyarakat kemungkinan akan lebih selektif dalam berbelanja serta menunda pembelian barang yang bukan menjadi kebutuhan utama.