
Kuatbaca.com - Kementerian Perindustrian (Kemenperin) melihat industri halal sebagai salah satu sektor yang memiliki peluang besar untuk terus dikembangkan di Indonesia. Selain ditopang oleh jumlah penduduk muslim yang besar, sektor ini juga memiliki potensi untuk memperkuat posisi industri nasional di pasar internasional.
Kontribusi industri halal terhadap Industri Pengolahan Nonmigas (IPNM) tercatat mencapai 50,55 persen atau sekitar Rp1.102 triliun. Angka tersebut menunjukkan besarnya peran sektor halal dalam aktivitas industri pengolahan nasional sekaligus membuka ruang pengembangan usaha bagi pelaku industri, termasuk generasi muda.
Potensi tersebut menjadi salah satu topik dalam kegiatan Industrial Festival 2026 melalui kuliah umum bertajuk Make Your Move: Your Journey to the Future of Industry. Kegiatan tersebut menjadi ruang untuk mendorong mahasiswa dan generasi muda agar melihat industri bukan sekadar sebagai tempat bekerja, tetapi juga sebagai ruang untuk menciptakan produk, teknologi, bisnis, dan inovasi baru.
Kemenperin menilai keterlibatan anak muda semakin penting karena perkembangan industri berlangsung cepat. Perubahan teknologi, pola konsumsi, isu keberlanjutan, dan persaingan pasar global membuat pelaku industri harus mampu beradaptasi.
1. Kemenperin Dorong Generasi Muda Jadi Pelaku Industri
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita mengatakan generasi muda memiliki posisi penting dalam menentukan arah perkembangan industri Indonesia. Menurutnya, transformasi industri tidak cukup hanya mengandalkan teknologi, tetapi membutuhkan sumber daya manusia yang mampu menghasilkan gagasan dan menciptakan nilai tambah.
"Masa depan industri nasional akan sangat ditentukan oleh kemampuan kita menyiapkan generasi muda yang inovatif dan produktif. Karena itu, kami ingin semakin banyak anak muda tidak hanya menjadi pengguna produk, tetapi juga tampil sebagai pencipta teknologi, inovator, wirausaha industri, dan pemilik jenama nasional yang mampu bersaing di pasar global," kata Agus.
Menurut Agus, industri halal dapat menjadi salah satu ruang yang terbuka luas bagi anak muda untuk mengembangkan kreativitas. Besarnya pasar domestik seharusnya tidak membuat Indonesia hanya menjadi konsumen produk halal, tetapi juga mampu meningkatkan kapasitas produksi dan menciptakan produk dengan daya saing internasional.
"Indonesia mempunyai pasar domestik yang sangat besar sekaligus basis industri yang kuat. Ini merupakan modal penting agar Indonesia tidak sekadar menjadi konsumen produk halal, tetapi mampu memperkuat posisi sebagai produsen dan pemain utama dalam rantai nilai industri halal dunia. Di sinilah kreativitas, teknologi, inovasi, dan keberanian generasi muda sangat dibutuhkan," tutur Agus.
2. Pasar Muslim Indonesia Capai Ratusan Juta Konsumen
Besarnya peluang industri halal juga terlihat dari jumlah penduduk muslim Indonesia. Kepala Badan Standardisasi dan Kebijakan Jasa Industri (BSKJI) Emmy Suryandari mengatakan jumlah penduduk muslim Indonesia diperkirakan mencapai sekitar 252,8 juta jiwa atau 87,14 persen dari total populasi.
Besarnya jumlah konsumen tersebut menciptakan pasar domestik yang sangat luas bagi berbagai produk halal. Produk makanan dan minuman, fesyen, kosmetik, farmasi, hingga barang konsumsi rumah tangga menjadi bagian dari sektor yang memiliki peluang untuk dikembangkan.
"Indonesia juga memiliki pasar domestik yang sangat besar, dengan jumlah penduduk muslim sekitar 252,8 juta jiwa atau 87,14% dari total penduduk. Estimasi konsumsi rumah tangga masyarakat muslim Indonesia pada semester I-2026 mencapai sekitar Rp5.974,9 triliun," ungkap Emmy di ICE BSD Tangerang, Kamis (24/9).
Besarnya konsumsi domestik tersebut dapat menjadi fondasi bagi pengembangan industri halal nasional. Namun, peluang pasar perlu diikuti kemampuan industri untuk menghasilkan produk yang kompetitif dari sisi kualitas, harga, desain, teknologi, hingga distribusi.
3. Ekspor Produk Industri Halal Capai US$35,72 Miliar
Peluang industri halal Indonesia tidak hanya berasal dari pasar dalam negeri. Aktivitas perdagangan internasional juga menunjukkan adanya ruang yang cukup besar bagi produk halal buatan Indonesia.
Pada semester I 2026, ekspor produk industri halal Indonesia tercatat sekitar US$35,72 miliar. Kontribusi ekspor tersebut berasal dari sejumlah sektor industri, dengan makanan dan minuman menjadi salah satu kelompok produk utama.
Selain makanan dan minuman, produk tekstil dan pakaian jadi, kulit dan alas kaki, farmasi, serta perlengkapan dan peralatan rumah tangga juga menjadi bagian dari ekspor industri halal Indonesia.
"Artinya, kita memiliki dua kekuatan sekaligus, yakni pasar domestik yang besar dan basis industri yang dapat terus dikembangkan. Kedua modal tersebut harus dimanfaatkan untuk memperkuat posisi Indonesia dalam industri halal global," imbuh Emmy.
Kombinasi pasar domestik dan kemampuan ekspor tersebut menjadi peluang untuk meningkatkan nilai tambah industri. Tantangannya adalah memastikan produk Indonesia tidak hanya memenuhi persyaratan halal, tetapi juga memiliki kualitas dan karakter yang mampu bersaing dengan produk dari negara lain.
4. Industri Halal Tidak Berhenti pada Sertifikasi
Pengembangan industri halal saat ini tidak lagi cukup hanya berfokus pada pemenuhan sertifikasi. Kemenperin mendorong agar konsep halal berjalan beriringan dengan kualitas produk, keamanan, inovasi, keberlanjutan, dan kemampuan membangun merek.
Emmy menekankan bahwa status halal dapat menjadi bagian dari nilai tambah sebuah produk apabila diikuti dengan standar produksi dan kualitas yang baik.
"Halal bukan sekadar baseline compliance. Produk halal juga harus memberikan jaminan keamanan, higienitas, dan kualitas tinggi. Halal dapat menjadi nilai tambah dan meningkatkan daya saing karena menjadi bagian dari value proposition dan branding produk di pasar internasional," ungkapnya.
Pendekatan tersebut juga berkaitan dengan konsep thayyib, yaitu bagaimana produk tidak hanya memenuhi ketentuan halal, tetapi juga memberikan manfaat dan diproduksi dengan memperhatikan aspek yang lebih luas.
Dalam konteks industri modern, hal tersebut dapat mencakup penggunaan teknologi yang efisien, proses produksi yang ramah lingkungan, praktik perdagangan yang adil, serta penerapan prinsip keberlanjutan.
5. Indonesia Berpeluang Perkuat Posisi di Industri Halal Global
Potensi industri halal global terus berkembang. Berdasarkan State of the Global Islamic Economy Report 2025/2026, konsumsi masyarakat muslim pada enam sektor ekonomi syariah mencapai US$2,6 triliun pada 2024 dan diproyeksikan meningkat menjadi US$3,56 triliun pada 2029.
Indonesia sendiri berada di peringkat keempat dalam ekosistem industri halal dunia. Pada sektor yang berkaitan dengan industri manufaktur, Indonesia tercatat berada di peringkat pertama untuk modest fashion, peringkat ketiga untuk makanan halal, serta peringkat keempat untuk farmasi dan kosmetik halal.
Posisi tersebut menunjukkan bahwa Indonesia memiliki basis industri yang dapat dikembangkan lebih jauh. Namun, peningkatan posisi global membutuhkan lebih dari sekadar jumlah konsumen.
Kemampuan riset, inovasi produk, penguasaan teknologi, kualitas sumber daya manusia, efisiensi produksi, serta kekuatan merek menjadi sejumlah faktor yang dapat menentukan daya saing produk Indonesia di pasar global.
6. Generasi Muda Bisa Masuk dari Berbagai Bidang
Kemenperin juga menilai generasi muda tidak harus memiliki satu jalur tertentu untuk berkontribusi terhadap industri halal. Mahasiswa yang memiliki kemampuan teknologi dapat mengembangkan solusi untuk meningkatkan efisiensi produksi. Sementara mereka yang memiliki kemampuan desain dapat membangun identitas produk dan merek.
Bidang riset juga membutuhkan generasi muda untuk menciptakan material, teknologi, metode produksi, maupun formulasi baru. Di sisi lain, mereka yang memiliki kemampuan bisnis dapat mengembangkan produk menjadi usaha yang memiliki pasar.
"Tidak semua harus menjadi pengusaha dan tidak semua harus mendirikan startup. Tetapi setiap orang bisa menemukan perannya. Mereka yang belajar teknologi dapat menciptakan solusi agar proses produksi lebih efisien. Mereka yang memiliki ketertarikan pada desain dan komunikasi dapat membangun produk menjadi jenama yang dipercaya. Sementara itu, mereka yang tertarik pada riset dapat menghasilkan inovasi baru," jelas Emmy.
Menurutnya, industri membutuhkan kombinasi berbagai keahlian. Karena itu, generasi muda dapat memilih peran sesuai dengan kompetensi dan bidang yang diminati.
7. Smart Batik Jadi Contoh Pengembangan Industri Kreatif Halal
Salah satu contoh yang disampaikan Kemenperin adalah Smart Batik Indonesia. Usaha tersebut dirintis dengan keterbatasan modal dan berkembang secara bertahap melalui pemahaman terhadap pasar serta pengembangan motif batik yang memiliki karakter tersendiri.
Smart Batik Indonesia kemudian memperoleh Indonesia Halal Industry Awards 2025 untuk kategori Industri Tekstil dan Apparel Halal Terbaik, subkategori Industri Kecil Menengah.
Usaha tersebut juga telah memberikan manfaat kepada lebih dari 60 perajin batik. Produk yang dihasilkan bahkan dapat dipasarkan hingga mencapai harga sekitar Rp1,5 juta per potong kain.
"Contoh tersebut memperlihatkan bahwa inovasi tidak selalu harus dimulai dengan menciptakan sesuatu yang sepenuhnya baru. Inovasi bisa lahir ketika kita melihat sesuatu yang sudah dimiliki, kemudian mencari cara agar produk tersebut menjadi lebih baik, lebih relevan, lebih ramah lingkungan, lebih mudah diakses, atau mempunyai nilai tambah yang lebih tinggi," ujar Emmy.
Contoh tersebut menunjukkan bahwa pengembangan industri halal dapat berjalan bersamaan dengan pelestarian budaya dan penguatan pelaku usaha lokal.
8. Mahasiswa Diminta Mulai Menciptakan Inovasi
Kemenperin mendorong mahasiswa untuk tidak menunggu sampai memasuki dunia kerja untuk mulai menghasilkan karya. Inovasi dapat dimulai dari persoalan sederhana yang ditemukan di lingkungan kampus maupun masyarakat.
Riset kecil, prototipe, proyek perkuliahan, produk sederhana, dan kolaborasi antarmahasiswa dapat menjadi langkah awal. Dari proses tersebut, ide yang awalnya sederhana dapat dikembangkan menjadi produk atau solusi yang memiliki nilai ekonomi.
"Masa depan industri Indonesia tidak cukup hanya kita tunggu. Masa depan itu harus kita bentuk bersama. Mahasiswa tidak harus menunggu suatu hari nanti untuk menjadi bagian dari perubahan. Mulailah dari kampus, dari bidang yang dikuasai, dan dari masalah yang paling dekat dengan kehidupan kita," pesan Emmy.
Ia menilai keberanian untuk mencoba menjadi salah satu modal penting bagi generasi muda. Kemampuan melihat masalah sebagai peluang dapat membuka jalan bagi lahirnya inovasi baru di berbagai sektor industri.
9. Industri Halal Membuka Ruang bagi Inovasi Anak Muda
Besarnya kontribusi industri halal terhadap sektor industri pengolahan menunjukkan bahwa sektor tersebut memiliki peran ekonomi yang signifikan. Dengan kontribusi sekitar Rp1.102 triliun, pasar domestik yang besar, serta nilai ekspor mencapai US$35,72 miliar pada semester I 2026, industri halal memiliki ruang untuk terus berkembang.
Namun, pertumbuhan tersebut membutuhkan sumber daya manusia yang mampu menciptakan produk dengan kualitas dan nilai tambah tinggi. Generasi muda dapat mengambil peran melalui teknologi, riset, desain, kewirausahaan, manufaktur, hingga pengembangan merek.
"Jangan hanya menjadi generasi yang menyaksikan perubahan. Jadilah generasi yang ikut menciptakan perubahan itu," pungkas Emmy.