Pelaku Usaha Aceh Tamiang Dapat Pembekalan Ketahanan Bisnis dan Strategi Digital

1. Puluhan Pelaku Usaha Aceh Tamiang Ikuti Lokakarya
Sebanyak 80 pelaku usaha di Kabupaten Aceh Tamiang, Aceh, mendapatkan pembekalan untuk memperkuat ketahanan bisnis sekaligus memulihkan aktivitas ekonomi setelah terdampak bencana. Kegiatan tersebut dikemas melalui lokakarya “Aktivasi Ruang Kreatif Merah Putih” yang digelar Kementerian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif di Aula Dinas Pertanian dan Perkebunan Kabupaten Aceh Tamiang pada Jumat (11/9/2026) dan Sabtu (12/9/2026). Peserta berasal dari berbagai latar belakang, mulai dari pelaku usaha lokal, penggerak komunitas hingga perintis bisnis berusia 18-45 tahun. Program tersebut diarahkan untuk membantu masyarakat kembali menjalankan kegiatan ekonomi sekaligus membangun kemampuan usaha agar lebih siap menghadapi berbagai risiko di masa mendatang.
2. Pelaku Usaha Didorong Lebih Siap Menghadapi Risiko
Pendampingan yang diberikan tidak hanya berfokus pada bagaimana usaha kembali berproduksi setelah bencana, tetapi juga membangun kemampuan pelaku usaha dalam mengantisipasi gangguan. Peserta mendapatkan pemahaman mengenai mitigasi risiko dan ketahanan bisnis sehingga dapat mengenali berbagai kondisi yang berpotensi menghambat kegiatan usaha. Dengan pemahaman tersebut, pelaku usaha diharapkan mampu menyiapkan langkah adaptasi apabila kembali menghadapi situasi darurat. Penguatan kapasitas menjadi bagian penting dalam pemulihan ekonomi karena keberlangsungan usaha masyarakat turut menentukan pemulihan sumber penghasilan di daerah terdampak bencana. Usaha yang lebih tangguh juga diharapkan dapat berkembang secara berkelanjutan setelah kondisi daerah berangsur pulih.
3. Strategi Digital Diberikan untuk Perluas Pasar
Selain ketahanan usaha, peserta juga memperoleh materi mengenai pemanfaatan media digital untuk mendukung promosi. Strategi tersebut dinilai penting karena kanal digital dapat membantu pelaku usaha memperkenalkan produk kepada konsumen yang lebih luas tanpa hanya mengandalkan pasar di sekitar tempat usaha. Materi kebencanaan dalam lokakarya disampaikan Wakil Rektor Bidang Keuangan dan Umum Universitas Samudra Furqan Ishak Aksa, sedangkan materi mengenai media digital diberikan oleh praktisi media digital Hardian Lutfi Silitonga. Melalui pembekalan tersebut, pelaku usaha diharapkan tidak hanya mampu mempertahankan bisnis ketika menghadapi gangguan, tetapi juga memanfaatkan perkembangan teknologi untuk meningkatkan pemasaran dan membuka peluang pasar baru.
4. Ekonomi Kreatif Jadi Bagian dari Upaya Pemulihan
Kementerian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif menempatkan penguatan kapasitas pelaku usaha sebagai salah satu bagian dari upaya menghidupkan kembali ekosistem ekonomi kreatif di Aceh Tamiang. Pemulihan tidak berhenti pada mengembalikan aktivitas usaha seperti sebelum bencana, tetapi juga diarahkan agar masyarakat memiliki sumber penghidupan yang lebih kuat dan adaptif. Dalam kegiatan tersebut, Menteri Ekonomi Kreatif Teuku Riefky Harsya turut berinteraksi dengan para peserta dan ikut membuat konten bersama sebagai bagian dari praktik pemanfaatan media digital. Keterlibatan tersebut menjadi contoh bahwa strategi promosi melalui platform digital dapat dipraktikkan secara langsung oleh pelaku ekonomi kreatif untuk memperkenalkan aktivitas dan produk mereka kepada masyarakat yang lebih luas.
5. Ruang Terdampak Banjir Dimanfaatkan untuk Kolaborasi
Program Aktivasi Ruang Kreatif Merah Putih juga memanfaatkan fasilitas yang tersedia di daerah sebagai ruang pelatihan dan kolaborasi. Salah satunya adalah pemanfaatan gedung yang sebelumnya terdampak banjir untuk mendukung kegiatan masyarakat dan pelaku usaha. Langkah tersebut menunjukkan bahwa pemulihan pascabencana dapat dilakukan dengan menghidupkan kembali ruang-ruang yang tersedia agar memiliki fungsi produktif. Dengan adanya tempat untuk belajar, bertukar pengalaman, dan mengembangkan jaringan usaha, pelaku ekonomi kreatif di Aceh Tamiang diharapkan dapat membangun kembali aktivitas bisnis secara bertahap. Penguatan keterampilan, pemahaman risiko, serta kemampuan digital diharapkan menjadi bekal untuk menciptakan ekosistem usaha yang lebih tangguh dan berkelanjutan.