
PT Pertamina (Persero) memberikan bantuan 45 alat tenun kepada masyarakat Desa Adat Sade, Kabupaten Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat, untuk membantu memulihkan aktivitas ekonomi setelah kebakaran yang terjadi pada Agustus 2026. Bantuan tersebut ditujukan kepada para perajin yang kehilangan peralatan dan mengalami gangguan usaha akibat musibah tersebut. Selain menyediakan alat produksi, Pertamina juga memberikan pendampingan pelatihan agar masyarakat dapat kembali menghasilkan kain tenun dan memperoleh penghasilan. Penyerahan bantuan dilakukan secara simbolis oleh Komisaris Utama Pertamina Mochamad Iriawan di panggung festival kawasan Pertamina Mandalika International Circuit. Program ini merupakan bagian dari tanggung jawab sosial dan lingkungan perusahaan untuk mendukung pemberdayaan masyarakat. Melalui dukungan tersebut, para perajin diharapkan dapat kembali menjalankan kegiatan produksi secara bertahap sekaligus mempertahankan keberlangsungan usaha yang menjadi sumber penghidupan keluarga.
Kebakaran yang melanda Desa Adat Sade pada 22 Agustus 2026 memberikan dampak terhadap kehidupan masyarakat setempat. Sejumlah bangunan terdampak, termasuk rumah warga dan fasilitas penunjang kegiatan ekonomi maupun budaya, seperti toko seni, lumbung, serta bale baleq. Kerusakan tersebut turut memengaruhi kegiatan masyarakat yang selama ini mengandalkan usaha kerajinan, penjualan suvenir, dan layanan wisata. Bagi perajin tenun, kehilangan alat produksi menjadi hambatan untuk kembali bekerja dan menghasilkan pendapatan. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa pemulihan pascabencana tidak hanya berkaitan dengan perbaikan bangunan, tetapi juga membutuhkan dukungan terhadap mata pencaharian warga. Bantuan peralatan dan pelatihan menjadi salah satu langkah untuk membantu masyarakat memulai kembali kegiatan produktif. Dengan pulihnya usaha lokal, warga diharapkan dapat membangun kembali sumber penghasilan sekaligus menghidupkan aktivitas ekonomi desa yang sempat terganggu akibat kebakaran.
Pemberian 45 alat tenun menjadi salah satu upaya untuk mengatasi kendala produksi yang dihadapi para perajin setelah kebakaran. Peralatan tersebut diharapkan dapat membantu warga kembali membuat kain tenun sebagai produk kerajinan khas masyarakat Sasak. Selain menyediakan sarana produksi, pendampingan pelatihan juga menjadi bagian dari program pemulihan agar para perajin memperoleh dukungan dalam menjalankan kembali kegiatan usahanya. Pemulihan kapasitas produksi penting karena usaha tenun tidak hanya menjadi sumber pendapatan keluarga, tetapi juga berkaitan dengan keberlanjutan keterampilan tradisional yang diwariskan antargenerasi. Apabila kegiatan produksi kembali berjalan, hasil tenun dapat dipasarkan kepada wisatawan maupun pembeli yang tertarik pada kerajinan lokal. Meski demikian, keberhasilan pemulihan usaha juga dipengaruhi oleh ketersediaan bahan baku, akses pemasaran, dan permintaan terhadap produk. Karena itu, dukungan lanjutan dapat berperan penting dalam menjaga keberlangsungan usaha para perajin dalam jangka panjang.
Desa Adat Sade dikenal sebagai salah satu destinasi wisata budaya masyarakat Sasak di Lombok. Tradisi menenun memiliki peran penting dalam kehidupan warga karena menggabungkan keterampilan kerajinan, nilai budaya, dan potensi ekonomi lokal. Kain yang dihasilkan para perajin menjadi produk yang menarik bagi pengunjung sekaligus bagian dari identitas masyarakat setempat. Ketika kegiatan menenun terganggu akibat kebakaran, dampaknya tidak hanya dirasakan dari sisi pendapatan, tetapi juga terhadap keberlangsungan aktivitas budaya yang telah lama dijalankan. Oleh karena itu, pemulihan usaha tenun menjadi langkah yang relevan untuk menjaga warisan tradisi sekaligus mendukung kehidupan masyarakat. Ketersediaan alat produksi dan pelatihan dapat membantu para perajin kembali berkarya, sementara keberlanjutan tradisi membutuhkan keterlibatan generasi muda serta dukungan pasar. Dengan demikian, pelestarian tenun Sasak dapat berjalan beriringan dengan upaya memperkuat ekonomi masyarakat Desa Adat Sade.
Melalui program tanggung jawab sosial dan lingkungan, Pertamina berupaya mendukung masyarakat di sekitar kawasan Mandalika agar dapat merasakan manfaat dari perkembangan pariwisata. Dukungan kepada perajin Desa Adat Sade menjadi salah satu bentuk pemberdayaan yang menghubungkan pemulihan ekonomi dengan pelestarian budaya lokal. Corporate Secretary Pertamina Arya Dwi Paramita menyampaikan bahwa bantuan alat tenun dan pendampingan pelatihan diharapkan membantu warga kembali produktif serta menghasilkan karya. Upaya ini juga memperlihatkan pentingnya kerja sama antara perusahaan dan masyarakat dalam memperkuat usaha lokal setelah menghadapi bencana. Agar manfaatnya berkelanjutan, pemulihan perlu disertai upaya memperluas pemasaran produk, meningkatkan daya tarik kerajinan, dan menghubungkan perajin dengan peluang ekonomi dari sektor pariwisata. Dengan produksi yang kembali berjalan dan akses pasar yang semakin baik, kain tenun Sasak berpotensi terus menjadi sumber penghidupan sekaligus daya tarik budaya bagi wisatawan yang berkunjung ke Lombok.