
Kuatbaca - Kebijakan pemerintah dalam pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali menjadi perhatian. Salah satu aturan yang mendapat sorotan adalah larangan penggunaan susu kental manis (SKM) serta minuman rasa susu sebagai bagian dari pemberian makanan dalam program tersebut.
Ketua DPP PKB Daniel Johan menilai perubahan tersebut tidak hanya berkaitan dengan aspek pemenuhan gizi bagi penerima manfaat. Menurutnya, kebijakan itu juga dapat membawa dampak lebih luas terhadap sektor peternakan, khususnya peternak sapi perah lokal.
Salah satu persoalan yang menjadi perhatian adalah pemahaman mengenai produk yang diberikan kepada penerima MBG. Susu kental manis tidak dapat begitu saja ditempatkan dalam kategori yang sama dengan susu segar atau produk susu yang memiliki kandungan gizi sesuai kebutuhan.
Karena itu, penataan kembali penggunaan produk susu dalam program MBG dinilai penting. Bahan pangan yang diberikan kepada masyarakat, terutama anak-anak, perlu disesuaikan dengan standar dan tujuan program pemenuhan gizi.
Perubahan tersebut seharusnya tidak berhenti pada mengganti satu jenis minuman dengan produk lainnya. Ada persoalan yang lebih besar, yakni bagaimana anggaran program MBG dapat sekaligus menciptakan manfaat bagi sektor pangan dalam negeri.
Salah satu peluang yang dapat dikembangkan adalah memperbesar penyerapan produk susu yang berasal dari peternak lokal. Dengan adanya permintaan dalam jumlah besar dan berkelanjutan, sektor peternakan sapi perah berpotensi mendapatkan pasar yang lebih luas.
Program MBG memiliki cakupan penerima yang besar sehingga kebutuhan bahan pangan juga tidak sedikit. Kondisi tersebut membuka peluang bagi pelaku usaha pangan dalam negeri untuk masuk dalam rantai pasok program.
Jika kebutuhan susu dapat dipenuhi sebagian melalui produksi peternak lokal, maka program pemerintah tidak hanya memberikan manfaat kepada penerima makanan bergizi. Dampaknya juga dapat dirasakan oleh peternak yang selama ini menghadapi tantangan dalam memperluas pasar.
Meningkatnya permintaan terhadap susu lokal berpotensi mendorong peternak meningkatkan produksi. Namun, peluang tersebut tentu harus diikuti dengan dukungan terhadap kualitas, produktivitas, distribusi, dan kemampuan peternak dalam memenuhi kebutuhan pasar.
Tanpa dukungan tersebut, kenaikan permintaan justru dapat menjadi beban bagi peternak karena mereka harus memenuhi kebutuhan dalam jumlah besar dengan kemampuan produksi yang terbatas.
Karena itu, kebijakan mengenai susu dalam MBG perlu dilihat sebagai bagian dari pembangunan rantai pasok pangan nasional. Peternak, koperasi, pengolah susu, distributor, hingga penyedia makanan dalam program MBG memiliki peran yang saling berkaitan.
Rantai pasok yang kuat akan membuat produk lokal lebih mudah masuk ke dalam program pemerintah. Pada saat yang sama, ketersediaan bahan pangan juga dapat lebih terjamin karena sumber pasokannya berada di dalam negeri.
Kepastian pasar menjadi salah satu hal yang dibutuhkan peternak. Produksi susu memiliki karakteristik berbeda dibandingkan komoditas yang dapat disimpan dalam waktu lama. Susu membutuhkan penanganan dan distribusi yang cepat agar kualitasnya tetap terjaga.
Jika program MBG dapat menjadi salah satu pasar yang konsisten, peternak memiliki peluang untuk memperoleh kepastian penyerapan. Kondisi tersebut dapat membantu mereka membuat perencanaan produksi dengan lebih baik.
Manfaat ekonomi dari peningkatan penggunaan susu lokal tidak hanya berhenti pada peternak. Aktivitas tersebut juga dapat menggerakkan sektor lain, seperti pengumpulan susu, pengolahan, transportasi, penyimpanan, hingga distribusi.
Dengan demikian, kebijakan dalam program MBG berpotensi menciptakan efek berantai terhadap perekonomian daerah. Semakin banyak pelaku usaha lokal yang terlibat, semakin besar pula nilai ekonomi yang berputar di dalam negeri.
Meski peluang ekonominya besar, kualitas pangan tidak boleh dikesampingkan. Produk yang masuk ke dalam program MBG harus memenuhi persyaratan keamanan dan mutu pangan.
Hal tersebut menjadi semakin penting karena penerima program mencakup anak-anak dan kelompok masyarakat yang membutuhkan asupan bergizi. Pemilihan bahan makanan harus didasarkan pada kandungan dan manfaatnya, bukan semata-mata pertimbangan harga atau kemudahan distribusi.
Daniel menilai pelarangan SKM dan minuman rasa susu dapat menjadi bagian dari pembenahan tata kelola MBG. Program dengan cakupan besar membutuhkan sistem pengadaan dan distribusi yang jelas agar tujuan pemenuhan gizi dapat tercapai secara optimal.
Pengawasan juga menjadi bagian penting. Mulai dari pemilihan bahan, proses pengadaan, hingga makanan sampai kepada penerima harus memiliki standar yang jelas dan dapat dipertanggungjawabkan.
Di sisi lain, besarnya anggaran dan kebutuhan bahan pangan untuk MBG dapat menjadi peluang bagi peternak dalam negeri. Jangan sampai kebutuhan tersebut justru lebih banyak dipenuhi dari produk luar sementara peternak lokal kesulitan mendapatkan pasar.
Penguatan produksi dalam negeri membutuhkan keberpihakan kebijakan yang tetap mempertimbangkan kualitas dan kemampuan pasokan. Jika dilakukan dengan tepat, program pemerintah dapat menjadi salah satu instrumen untuk memperkuat sektor peternakan nasional.
Namun, menjadikan peternak lokal sebagai pemasok utama bukan perkara sederhana. Produksi susu nasional masih menghadapi berbagai tantangan, mulai dari produktivitas ternak, ketersediaan pakan, kesehatan hewan, kualitas susu, hingga fasilitas penyimpanan.
Peternak juga membutuhkan akses terhadap teknologi dan pendampingan agar mampu meningkatkan produktivitas. Tanpa peningkatan kapasitas produksi, permintaan besar dari program MBG akan sulit dipenuhi secara konsisten.
Karena itu, kebijakan larangan penggunaan SKM dalam MBG sebaiknya diikuti dengan langkah konkret untuk memperkuat ekosistem susu lokal. Pemerintah dapat mendorong kerja sama antara peternak, koperasi, industri pengolahan, dan penyedia makanan dalam program tersebut.
Pendekatan seperti ini akan membuat perubahan kebijakan tidak sekadar menghasilkan larangan terhadap suatu produk, tetapi juga menciptakan alternatif yang lebih baik dan memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat.
Program Makan Bergizi Gratis pada dasarnya memiliki ruang yang luas untuk menjadi bagian dari penguatan sektor pangan nasional. Pengadaan bahan pangan dari produsen lokal dapat membuat manfaat program menjangkau lebih banyak lapisan masyarakat.
Penerima manfaat memperoleh makanan bergizi, sementara petani dan peternak mendapatkan pasar. Jika rantai pasoknya dibangun dengan baik, pelaku usaha kecil dan menengah juga dapat ikut mengambil peran dalam proses tersebut.
Larangan penggunaan SKM dan minuman rasa susu dalam MBG akhirnya tidak hanya menjadi persoalan mengenai jenis produk yang boleh atau tidak boleh diberikan. Kebijakan tersebut dapat menjadi momentum untuk mengevaluasi keseluruhan tata kelola pengadaan bahan pangan dalam program.
Mulai dari standar gizi, keamanan pangan, mekanisme pengadaan, hingga pemberdayaan produsen lokal perlu berjalan secara beriringan. Dengan sistem yang lebih baik, tujuan kesehatan dan manfaat ekonomi dapat dikejar secara bersamaan.
Harapan agar kebijakan ini mampu memajukan peternak susu lokal pada akhirnya akan bergantung pada pelaksanaan di lapangan. Permintaan yang besar harus benar-benar diterjemahkan menjadi peluang bagi peternak, bukan sekadar wacana.
Jika pemerintah mampu membangun sistem yang membuat produk susu lokal terserap secara berkelanjutan, program MBG berpotensi menjadi salah satu pasar strategis bagi peternakan nasional. Sebaliknya, tanpa perencanaan yang matang, peluang tersebut bisa sulit diwujudkan.
Perbaikan kualitas makanan dalam program MBG dan penguatan ekonomi peternak sebenarnya dapat ditempatkan dalam satu kebijakan yang saling mendukung. Asalkan standar pangan tetap menjadi dasar utama, pemanfaatan produk lokal dapat memberikan manfaat yang lebih luas.
Dengan demikian, pembenahan penggunaan produk susu dalam MBG bukan hanya soal mengganti bahan makanan. Lebih jauh, kebijakan tersebut dapat menjadi langkah untuk membangun rantai pangan nasional yang lebih kuat, sekaligus membuka ruang lebih besar bagi peternak susu lokal untuk berkembang.