Purbaya Yudhi Sadewa Nilai Rating S&P untuk Indonesia Sudah Fair, Optimistis Ekonomi RI Makin Kuat

15 July 2026 08:22 WIB
1780990758-3688x2459.webp

Kuatbaca.com - Peringkat kredit Indonesia kembali menjadi sorotan setelah lembaga pemeringkat internasional Standard & Poor's (S&P) memutuskan mempertahankan rating kredit Indonesia pada level BBB untuk jangka panjang dan A-2 untuk jangka pendek dengan outlook stabil. Keputusan tersebut disambut positif oleh Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa yang menilai penilaian S&P lebih mencerminkan kondisi ekonomi Indonesia dibandingkan sejumlah lembaga pemeringkat lainnya.

Menurut Purbaya, keputusan S&P menjadi sinyal bahwa fundamental ekonomi nasional masih berada di jalur yang sehat. Ia juga menilai berbagai kekhawatiran mengenai kondisi fiskal Indonesia yang sempat berkembang dalam beberapa bulan terakhir tidak terbukti berdasarkan hasil evaluasi terbaru dari lembaga tersebut.

1. Purbaya Sebut Penilaian S&P Lebih Adil Dibanding Lembaga Pemeringkat Lain

Purbaya mengungkapkan bahwa keputusan S&P mempertahankan rating Indonesia dengan prospek stabil menunjukkan proses penilaian yang dilakukan berdasarkan kondisi ekonomi terbaru.

Ia membandingkan hasil evaluasi tersebut dengan penilaian sejumlah lembaga pemeringkat internasional lain, seperti Moody's dan Fitch. Meski kedua lembaga tersebut masih mempertahankan peringkat utang Indonesia, mereka sebelumnya merevisi prospek (outlook) dari stabil menjadi negatif.

Menurut Purbaya, perubahan outlook tersebut dilakukan sebelum data pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan pertama tersedia sehingga dinilai terlalu cepat dalam mengambil kesimpulan.

Purbaya Yudhi Sadewa mengatakan:

"Saya sudah bilang berkali-kali kan, lembaga-lembaga sebelumnya yang lain, ada kemungkinan mereka offside karena mereka melakukan assessment sebelum data (pertumbuhan ekonomi) triwulan pertama keluar. Ingat kan itu? Saya bilang ya terlalu cepat, bukan mereka salah, ya terlalu cepat. Jadi ini (S&P) yang lebih fair saya pikir."

Pernyataan tersebut menggambarkan keyakinan pemerintah bahwa evaluasi terhadap kondisi ekonomi sebaiknya dilakukan berdasarkan data yang lebih lengkap agar menghasilkan penilaian yang objektif.

2. Rating S&P Dinilai Menjadi Bukti Kebijakan Fiskal Indonesia Berjalan Baik

Purbaya menilai keputusan S&P mempertahankan peringkat kredit Indonesia merupakan bentuk pengakuan internasional terhadap pengelolaan fiskal pemerintah yang dinilai tetap disiplin dan berhati-hati.

Menurutnya, selama beberapa waktu terakhir muncul berbagai kekhawatiran bahwa Indonesia berpotensi mengalami penurunan peringkat kredit akibat kondisi fiskal yang dianggap memburuk. Namun, keputusan S&P justru memperlihatkan gambaran berbeda.

Ia optimistis jika pemerintah mampu mempertahankan kebijakan ekonomi yang konsisten, peluang peningkatan peringkat kredit Indonesia pada masa mendatang akan semakin terbuka.

Purbaya mengatakan:

"Kalau Anda lihat kan dari akhir tahun lalu, awal tahun terus kita diserang dengan kemungkinan downgrade peringkat dan lain-lain dari MSCI, Moody's, Fitch dan lain-lain seolah-olah kita buruk, mereka bilang menuju kehancuran, Indonesia akan krisis. Ini update dari S&P merupakan konfirmasi bahwa kita berjalan di arah yang benar, dengan kebijakan yang baik dan hati-hati."

3. S&P Dinilai Memiliki Standar Penilaian yang Ketat dan Independen

Dalam pandangan Purbaya, S&P dikenal memiliki standar penilaian yang tinggi dalam menentukan peringkat utang suatu negara.

Ia menilai lembaga tersebut mengedepankan analisis berbasis data sehingga tidak mudah dipengaruhi oleh faktor-faktor di luar aspek ekonomi.

Selain itu, pemerintah juga terus menjalin komunikasi dengan S&P selama proses evaluasi berlangsung. Diskusi tersebut dilakukan untuk memberikan informasi yang dibutuhkan agar penilaian terhadap kondisi ekonomi Indonesia dilakukan secara menyeluruh.

Purbaya menjelaskan:

"Standarnya paling tinggi, jadi dia nggak akan main-main, nggak akan terpengaruh politik, jadi lihat apa adanya. Selama ini juga kita melakukan diskusi dengan S&P ketika mereka mencari informasi lebih dalam, pendalaman terhadap informasi yang ada."

Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa proses pemeringkatan tidak hanya didasarkan pada angka-angka ekonomi, tetapi juga melalui pendalaman informasi secara langsung dengan pemerintah.

4. Purbaya Dorong Investor Kembali Melirik Pasar Saham Indonesia

Menanggapi hasil pemeringkatan S&P, Purbaya juga memberikan pandangannya terhadap kondisi pasar modal Indonesia.

Ia menilai keputusan S&P dapat meningkatkan kepercayaan investor karena menunjukkan bahwa kondisi ekonomi nasional masih dinilai stabil oleh lembaga internasional.

Oleh sebab itu, ia mendorong para pelaku pasar yang berinvestasi di saham agar lebih percaya diri terhadap prospek ekonomi Indonesia ke depan.

Purbaya menyampaikan:

"Jadi, beli saham kalau Anda pemain saham, jangan takut lagi."

Pernyataan tersebut merupakan pandangan pribadi Purbaya terkait prospek pasar modal setelah keluarnya hasil pemeringkatan terbaru dari S&P.

5. Rupiah Diprediksi Menguat, Purbaya Singgung Kepemilikan Dolar AS

Selain menyoroti pasar saham, Purbaya juga menilai nilai tukar rupiah berpotensi menguat apabila kepercayaan investor terhadap ekonomi Indonesia terus meningkat.

Ia berpendapat bahwa hasil evaluasi S&P dapat menjadi salah satu faktor yang memperkuat sentimen positif terhadap mata uang nasional.

Dalam kesempatan tersebut, Purbaya bahkan menyampaikan pandangannya mengenai kepemilikan dolar Amerika Serikat di tengah prospek penguatan rupiah.

Ia mengatakan:

"Kalau punya dolar, jual dolarnya. Rupiah juga akan menguat ke depan otomatis, S&P saja bilang menguat Rp 17.000. (Sekarang masih Rp 18.000) nggak apa-apa karena orang pada takut atau saya belum ngomong kali bahwa ini berita yang bagus."

Pernyataan tersebut merupakan pandangan Purbaya mengenai potensi pergerakan nilai tukar rupiah setelah keluarnya penilaian dari S&P dan bukan merupakan rekomendasi investasi yang bersifat mengikat.

kredit
purbaya yudhi sadewa
S&P Global

Fenomena Terkini






Trending