
Kuatbaca.com -Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyampaikan pandangan optimistis terkait arah pergerakan harga bahan bakar minyak (BBM) non subsidi di Indonesia, khususnya Pertamax dan Pertamax Green 95. Menurutnya, harga BBM yang sempat mengalami kenaikan pada 9 Juni 2026 berpotensi kembali turun dalam waktu mendatang.
Optimisme tersebut didasari oleh perkembangan global, terutama meredanya ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran yang selama ini turut mempengaruhi fluktuasi harga minyak dunia.
1. Dampak Konflik Global terhadap Harga Energi
Dalam beberapa waktu terakhir, harga minyak dunia mengalami tekanan akibat ketidakpastian geopolitik global. Kondisi ini berdampak langsung pada biaya energi di berbagai negara, termasuk Indonesia yang masih sangat bergantung pada dinamika pasar internasional.
Kenaikan harga minyak global menjadi salah satu faktor yang membuat harga BBM non subsidi di dalam negeri ikut mengalami penyesuaian. Pemerintah sebelumnya terpaksa melakukan penyesuaian harga untuk menjaga stabilitas fiskal dan mengurangi dampak beban subsidi.
Purbaya menilai situasi tersebut sebagai bagian dari tantangan ekonomi global yang harus dihadapi dengan kebijakan adaptif.
Dalam pernyataannya, ia menyebut:
"Jadi memang ketika ketidakpastian meningkat seperti kemarin, harga minyak dunia tinggi sekali, kita dalam ujian yang berat."
2. Harapan Turunnya Harga Pertamax dan Dampaknya ke Ekonomi
Dengan adanya potensi penurunan harga minyak dunia, pemerintah berharap harga BBM non subsidi seperti Pertamax dan Pertamax Green 95 juga akan ikut terkoreksi turun. Kondisi ini dinilai akan memberikan dampak positif terhadap daya beli masyarakat serta stabilitas ekonomi nasional.
Purbaya menilai bahwa penurunan harga energi akan memperkuat fondasi pertumbuhan ekonomi Indonesia dalam jangka menengah.
Ia menegaskan keyakinannya terhadap tren positif tersebut dengan menyampaikan:
"Saya yakin dengan potensi menurunnya harga minyak dunia, harga Pertamax dan lain-lain pun akan turun sehingga pondasi pertumbuhan ekonomi kita akan semakin kuat."
3. Situasi Ekonomi Indonesia Mulai Menuju Stabilitas Baru
Menurut Purbaya, jika perkembangan global terus menunjukkan arah yang lebih stabil, maka kuartal II tahun 2026 bisa menjadi periode pemulihan ekonomi yang lebih baik bagi Indonesia. Ia melihat adanya peluang untuk memperbaiki struktur ekonomi yang sempat tertekan akibat gejolak eksternal.
Meski kondisi sebelumnya dinilai penuh tantangan, pemerintah tetap berupaya menjaga agar pertumbuhan ekonomi tidak mengalami perlambatan signifikan.
Dalam pandangannya, situasi ekonomi Indonesia saat ini sudah mulai memasuki fase pemulihan setelah melewati tekanan berat di periode sebelumnya.
4. Kebijakan Adaptif Hadapi Ketidakpastian Global
Purbaya juga menekankan bahwa kebijakan pemerintah selama ini lebih bersifat adaptif dalam menghadapi ketidakpastian global. Penyesuaian harga BBM non subsidi menjadi salah satu langkah strategis untuk menjaga keseimbangan antara stabilitas fiskal dan dampak ekonomi terhadap masyarakat.
Ia menyebut bahwa meskipun kondisi global tidak ideal, pemerintah tetap berupaya memastikan pertumbuhan ekonomi tetap terjaga.
Dalam pernyataan lainnya, ia menambahkan:
"Jadi keadaan memang bukan ideal, tetapi kita terpaksa mengambil tindakan untuk memitigasi dampak global supaya kita masih bisa bertahan dan alhamdulillah sampai sekarang masih bisa tumbuh baik kan."