
Kuatbaca.com - Pemerintah Indonesia terus mematangkan rencana ekspor listrik bersih ke Singapura sebagai bagian dari penguatan kerja sama ekonomi kedua negara. Proyek strategis ini menjadi salah satu agenda penting dalam pertemuan bilateral antara Presiden Prabowo Subianto dan Perdana Menteri Singapura Lawrence Wong di Istana Merdeka, Jakarta.
Kerja sama tersebut diharapkan tidak hanya memperkuat hubungan ekonomi Indonesia dan Singapura, tetapi juga membuka peluang investasi baru di sektor energi terbarukan. Selain menjadi sumber pendapatan baru, proyek ini juga diyakini mampu mendorong pengembangan kawasan industri energi hijau di Indonesia.
Dalam kesempatan tersebut, Presiden Prabowo mengungkapkan bahwa pemerintah telah menunjuk Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara sebagai pelaksana utama kerja sama perdagangan listrik lintas negara.
"Indonesia telah menunjuk BPI Danantara untuk implementasi kerja sama perdagangan listrik lintas batas."
1. Danantara Diberi Mandat Jalankan Berbagai Proyek Strategis
Selain menangani proyek ekspor listrik, BPI Danantara juga dipercaya menjalankan berbagai kerja sama strategis lainnya bersama Singapura. Ruang lingkup kolaborasi mencakup perdagangan, pengembangan ekonomi digital, pembangunan ekosistem digital, hingga penguatan keamanan siber.
Pemerintah menilai kerja sama kedua negara telah berkembang ke berbagai sektor yang saling mendukung pertumbuhan ekonomi kawasan. Tidak hanya itu, Indonesia dan Singapura juga sepakat memperkuat kolaborasi pada bidang ketahanan pangan, rantai pasok, serta implementasi kerja sama pertahanan dan keamanan yang telah disepakati sebelumnya.
Presiden Prabowo menegaskan komitmen kedua negara untuk terus memperluas kerja sama tersebut.
"Kita bersepakat untuk terus kolaborasi juga di bidang pangan, dan rantai pasok. Di bidang pertahanan keamanan, kita juga akan implementasi perjanjian kerja sama kita."
2. Proyek Ekspor Listrik Disiapkan Sebagai Investasi Jangka Panjang
Chief Executive Officer (CEO) BPI Danantara, Rosan Roeslani, menjelaskan bahwa proyek ekspor listrik ini telah dipersiapkan sejak beberapa tahun terakhir. Saat ini, Danantara bekerja sama dengan sejumlah perusahaan energi asal Singapura untuk merealisasikan pembangunan infrastruktur yang dibutuhkan.
Menurut Rosan, proyek tersebut dirancang sebagai investasi jangka panjang yang memberikan manfaat ekonomi bagi kedua negara. Selain meningkatkan nilai investasi sektor energi, proyek ini juga diharapkan mampu menciptakan lapangan kerja baru selama proses pembangunan maupun operasional.
Rosan mengatakan pemerintah mendapat arahan langsung agar proyek tersebut segera diwujudkan melalui sinergi dengan dunia usaha.
"Tadi Bapak Presiden mengamanatkan untuk Danantara bersama-sama nanti dengan dunia usaha, dengan private sector untuk membangun, ini kan sudah lama sebenarnya, sudah empat tahun lah ya lebih. Untuk supaya kerja sama ini bisa terlaksana."
3. Target Ekspor Mencapai 3,4 Gigawatt Secara Bertahap
Dalam rencana jangka panjang, Indonesia menargetkan ekspor listrik ke Singapura mencapai kapasitas sekitar 3,4 gigawatt (GW). Namun, pembangunan akan dilakukan secara bertahap agar kesiapan infrastruktur dan pasokan listrik tetap terjaga.
Pada fase awal, kapasitas ekspor diperkirakan berada di kisaran 600 megawatt (MW) hingga 1,2 gigawatt. Setelah seluruh fasilitas pembangkit dan jaringan transmisi selesai dibangun, kapasitas tersebut akan terus ditingkatkan hingga mencapai target akhir.
Rosan menjelaskan tahapan pembangunan tersebut sebagai strategi untuk memastikan proyek berjalan sesuai perencanaan.
"Totalnya sih nantinya tuh selama berapa tahun tuh 3,4 gigawatt, tapi pembangunan pertama antara 600 megawatt sampai 1,2 gigawatt."
4. Batam, Bintan, dan Karimun Menjadi Pusat Pengembangan Energi Terbarukan
Sebagai bagian dari proyek tersebut, Indonesia akan membangun pembangkit listrik berbasis energi terbarukan di kawasan Batam, Bintan, dan Karimun, Provinsi Kepulauan Riau.
Lokasi tersebut dipilih karena memiliki posisi geografis yang strategis dan berdekatan dengan Singapura sehingga dinilai lebih efisien dalam mendukung pembangunan jaringan listrik lintas negara.
Dalam kerja sama yang telah disepakati, Danantara menandatangani nota kesepahaman dengan Singapore Energy Interconnections, Keppel Electric, dan Sembcorp Energy. Nantinya, Keppel dan Sembcorp akan berperan sebagai pembeli atau off-taker listrik yang diproduksi di Indonesia.
Rosan menjelaskan peran kedua perusahaan tersebut dalam proyek ini.
"Keppel dan Sembcorp sebagai off-taker ya. Ya, karena mereka kan juga BUMN."
5. Pemerintah Masih Bernegosiasi Soal Harga Ekspor Listrik
Meski kerja sama terus berjalan, pemerintah menegaskan bahwa kesepakatan mengenai harga jual listrik masih belum tercapai. Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) masih melakukan pembahasan intensif dengan pihak Singapura agar nilai transaksi memberikan manfaat yang seimbang bagi kedua negara.
Pemerintah menilai harga menjadi faktor penting karena akan menentukan kelayakan investasi, keuntungan nasional, serta keberlanjutan proyek dalam jangka panjang.
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia mengatakan pembahasan harga masih menjadi fokus utama sebelum proyek memasuki tahap implementasi penuh.
"Terkait dengan listrik ke Singapura, proses tahapannya berjalan, tapi kan kita masih menegosiasi tentang harga, dan regulasi kita kan memang harga itu ada di pemerintah. Kita pengin ada win-win, saling menguntungkan. Kerja sama itu harus saling menguntungkan. Nah, oleh karena saling menguntungkan, tinggal di titik itu saja."
6. Harga yang Ditawarkan Dinilai Belum Menguntungkan Indonesia
Bahlil menegaskan bahwa hingga saat ini pemerintah belum menyetujui harga yang diajukan karena masih dianggap belum memberikan keuntungan yang seimbang bagi Indonesia.
Meski proses negosiasi terus berlangsung, pemerintah tetap berkomitmen menjaga kepentingan nasional agar ekspor listrik tidak hanya meningkatkan kerja sama bilateral, tetapi juga memberikan nilai ekonomi yang optimal.
Saat ditanya mengenai status kesepakatan harga, Bahlil memberikan jawaban tegas.
"Belum win-win. Saya merasa belum win-win kalau sekarang harganya."
Pemerintah juga belum mengungkap besaran harga yang sedang dinegosiasikan karena pembahasan masih berlangsung di tingkat teknis.
7. Pemerintah Optimistis Kesepakatan Segera Tercapai
Walaupun belum menemukan titik temu terkait harga, pemerintah optimistis proses negosiasi tidak akan berlangsung terlalu lama. Komunikasi antara kedua negara disebut berjalan dengan baik sehingga peluang tercapainya kesepakatan dinilai cukup besar.
Apabila seluruh proses negosiasi berhasil diselesaikan, proyek ekspor listrik berbasis energi terbarukan ini berpotensi menjadi salah satu kerja sama energi terbesar antara Indonesia dan Singapura. Selain meningkatkan investasi hijau, proyek tersebut juga dapat memperkuat posisi Indonesia sebagai pemasok energi bersih di kawasan Asia Tenggara.
Bahlil menegaskan bahwa pemerintah tetap mengedepankan prinsip saling menguntungkan dalam setiap kesepakatan yang akan dicapai.
"Kalau sudah ada pembahasan, tapi saya pikir sebentar lagi akan ada titik temu kok. Kita pengin semuanya harus punya manfaat yang, yang win-win lah untuk kedua belah pihak ya."