
Kembalinya aktivitas pelayaran di Selat Hormuz setelah meredanya ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran dinilai menjadi kabar positif bagi perekonomian global, termasuk Indonesia. Jalur pelayaran strategis tersebut memiliki peran penting dalam distribusi minyak dunia sehingga normalisasi aktivitasnya berpotensi menekan harga energi di pasar internasional.
Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Abra Talattov, menilai kondisi yang lebih stabil di kawasan Timur Tengah dapat mendorong penurunan harga minyak mentah dunia. Jika tren tersebut berlanjut, harga bahan bakar minyak (BBM) non subsidi di Indonesia berpotensi mengalami penyesuaian ke level yang lebih rendah dalam waktu mendatang.
Sebelumnya, lonjakan harga minyak dunia sempat memunculkan kekhawatiran terhadap ketahanan fiskal nasional. Kenaikan harga energi global berpotensi meningkatkan beban subsidi dan kompensasi energi pemerintah, sehingga stabilitas pasokan minyak dunia menjadi faktor penting dalam menjaga kesehatan anggaran negara dan mengendalikan risiko pelebaran defisit.
Penurunan harga energi juga diperkirakan akan memberikan dampak positif bagi sektor industri. Biaya produksi yang lebih rendah dapat membantu pelaku usaha meningkatkan efisiensi operasional, memperkuat daya saing, serta mempercepat pemulihan aktivitas bisnis yang sebelumnya terdampak tingginya harga energi dan ketidakpastian ekonomi global.
Dengan berkurangnya tekanan biaya energi, perusahaan diperkirakan memiliki ruang yang lebih besar untuk mempertahankan tenaga kerja dan meningkatkan kapasitas produksi. Kondisi ini diharapkan mampu menekan laju pemutusan hubungan kerja (PHK) sekaligus membuka peluang penyerapan tenaga kerja baru seiring membaiknya aktivitas industri dalam beberapa bulan ke depan.