
Kuatbaca - Gelombang demonstrasi kembali mengguncang ibu kota India setelah ribuan anggota Cockroach Janta Party (CJP) turun ke jalan untuk menyuarakan tuntutan agar Menteri Pendidikan India, Dharmendra Pradhan, mengundurkan diri dari jabatannya. Aksi yang berlangsung pada 20 Juli 2026 itu berakhir ricuh setelah massa dan aparat kepolisian terlibat bentrokan saat demonstran berusaha bergerak menuju kompleks parlemen.
Unjuk rasa tersebut menjadi salah satu aksi protes terbesar yang terjadi dalam beberapa waktu terakhir. Ribuan peserta datang dari berbagai wilayah dengan membawa spanduk, poster, dan berbagai atribut yang berisi tuntutan agar pemerintah bertanggung jawab atas polemik yang muncul dalam penyelenggaraan ujian nasional.
Ketegangan meningkat ketika aparat keamanan berupaya membatasi pergerakan massa yang hendak memasuki kawasan dengan pengamanan ketat. Situasi yang semula berlangsung damai berubah menjadi bentrokan yang menyebabkan sejumlah demonstran dan petugas mengalami luka-luka.
Akar persoalan demonstrasi ini berasal dari dugaan kebocoran soal National Eligibility cum Entrance Test (NEET), yaitu ujian nasional yang menjadi syarat utama bagi calon mahasiswa untuk memasuki fakultas kedokteran di India.
NEET merupakan salah satu ujian paling kompetitif di negara tersebut. Setiap tahun, jutaan pelajar mengikuti seleksi ini dengan harapan memperoleh kursi di perguruan tinggi kedokteran. Karena tingkat persaingan yang sangat tinggi, setiap dugaan pelanggaran dalam pelaksanaan ujian langsung memicu reaksi luas dari masyarakat.
Munculnya tuduhan mengenai kebocoran soal membuat banyak peserta ujian merasa dirugikan. Mereka menilai integritas sistem seleksi telah tercoreng sehingga kesempatan memperoleh hasil yang adil menjadi dipertanyakan.
Kondisi itu kemudian berkembang menjadi tekanan politik terhadap pemerintah, khususnya Kementerian Pendidikan yang dianggap bertanggung jawab atas penyelenggaraan ujian tersebut.
Dalam aksi menuju parlemen, aparat keamanan berusaha menghentikan laju demonstran dengan menerapkan pengamanan berlapis di sejumlah ruas jalan utama. Upaya tersebut memicu ketegangan yang akhirnya berujung bentrokan.
Laporan dari lapangan menyebutkan bahwa ratusan orang mengalami luka akibat kericuhan tersebut. Selain itu, puluhan peserta aksi juga diamankan aparat untuk menjalani pemeriksaan lebih lanjut.
Meski demikian, bentrokan tidak menghentikan gerakan protes. Cockroach Janta Party menyatakan akan terus menggelar demonstrasi hingga tuntutan mereka dipenuhi.
Kelompok tersebut menilai penyelesaian kasus dugaan kebocoran ujian tidak cukup hanya melalui investigasi administratif. Mereka menginginkan adanya pertanggungjawaban politik dari pejabat yang dianggap bertanggung jawab atas polemik tersebut.
Sehari setelah bentrokan terjadi, pendiri Cockroach Janta Party, Abhijeet Dipke, mendatangi sejumlah pendukung yang menjalani perawatan di rumah sakit di New Delhi.
Kunjungan tersebut dilakukan sebagai bentuk dukungan moral kepada para demonstran yang mengalami luka selama aksi berlangsung. Dalam kesempatan itu, Dipke juga menyampaikan simpati kepada seluruh peserta aksi yang menjadi korban bentrokan.
Melalui pernyataan di media sosial, ia mengungkapkan keprihatinannya terhadap kondisi para demonstran, termasuk sejumlah perempuan yang disebut mengalami tindakan kekerasan saat kericuhan berlangsung.
Pernyataan tersebut semakin memperkuat sikap CJP yang menilai aparat telah menggunakan tindakan berlebihan dalam membubarkan massa. Di sisi lain, aparat keamanan tetap berupaya menjaga ketertiban umum dan mencegah demonstrasi meluas ke kawasan yang dinilai vital.
Kasus dugaan kebocoran soal NEET kembali membuka perdebatan mengenai sistem pendidikan dan mekanisme seleksi masuk perguruan tinggi di India.
Selama bertahun-tahun, ujian tersebut menjadi pintu utama bagi jutaan pelajar yang bercita-cita menjadi dokter. Tingginya persaingan membuat pelaksanaan ujian harus memenuhi standar transparansi dan integritas yang ketat.
Ketika muncul dugaan pelanggaran, kepercayaan publik terhadap sistem seleksi pun ikut terguncang. Banyak kalangan menilai pemerintah perlu melakukan evaluasi menyeluruh agar kejadian serupa tidak kembali terulang.
Selain menyangkut masa depan para pelajar, persoalan ini juga dianggap berkaitan dengan kredibilitas lembaga pendidikan nasional yang menjadi fondasi pembangunan sumber daya manusia India.
Dengan sikap Cockroach Janta Party yang menyatakan akan terus menggelar aksi, ketegangan politik di India diperkirakan belum akan mereda dalam waktu dekat.
Apabila tuntutan demonstran tidak segera direspons, gelombang protes berpotensi meluas ke berbagai kota lain. Hal tersebut dapat meningkatkan tekanan terhadap pemerintah, terutama menjelang berbagai agenda politik nasional yang akan datang.
Sementara itu, aparat keamanan diperkirakan akan tetap memperketat pengamanan di kawasan strategis, termasuk gedung parlemen dan pusat pemerintahan di New Delhi, guna mengantisipasi demonstrasi lanjutan.
Publik kini menantikan langkah pemerintah dalam menyikapi tuntutan para demonstran, sekaligus hasil penyelidikan terkait dugaan kebocoran soal NEET yang menjadi pemicu utama gelombang protes tersebut. Penyelesaian yang transparan dan akuntabel dinilai menjadi kunci untuk meredakan ketegangan sekaligus memulihkan kepercayaan masyarakat terhadap sistem pendidikan di India.