
Kuatbaca.com- Musim panas dengan suhu tinggi dan tingkat kelembapan yang menyiksa membuat sejumlah pekerja di Tokyo, Jepang, melakukan perubahan yang sebelumnya dianggap tidak biasa. Jika selama bertahun-tahun pakaian kerja formal seperti jas, celana panjang, dan kemeja rapi menjadi standar di lingkungan perkantoran Jepang, kini sebagian pekerja mulai memilih mengenakan celana pendek saat bekerja.
Fenomena tersebut muncul sebagai respons terhadap kondisi cuaca ekstrem sekaligus upaya mengurangi penggunaan pendingin ruangan atau AC di gedung perkantoran. Bagi sebagian pekerja, pakaian yang lebih santai dianggap mampu memberikan kenyamanan tanpa mengurangi produktivitas.
Perubahan gaya berpakaian ini menjadi perhatian karena budaya kerja Jepang selama ini dikenal cukup konservatif, terutama dalam hal penampilan profesional.
1. Pegawai Pemerintah Tokyo Mulai Tinggalkan Celana Panjang
Salah satu pekerja yang mencoba kebiasaan baru tersebut adalah Noboru Watanabe, seorang pejabat pemerintah metropolitan Tokyo berusia 50 tahun. Ia mengaku awalnya merasa canggung ketika harus datang ke kantor dengan pakaian yang memperlihatkan bagian kaki.
Lingkungan kerja yang biasanya dipenuhi pegawai dengan setelan formal membuat keputusan memakai celana pendek terasa cukup berbeda baginya. Namun, setelah menjalaninya, Watanabe justru merasakan manfaat besar dari perubahan tersebut.
"Awalnya saya merasa malu. Tapi begitu Anda mencobanya, Anda akan sadar betapa nyamannya celana pendek ini," ujar Watanabe.
Meski tetap menggunakan kemeja formal untuk menjaga kesan profesional, ia menilai celana pendek membantu mengurangi rasa panas, terutama saat suhu udara meningkat drastis.
2. Program Hemat Energi Jadi Alasan Utama
Penggunaan celana pendek di kantor bukan sekadar tren mode, tetapi berkaitan dengan upaya pemerintah Tokyo menghadapi tantangan energi. Gubernur Tokyo Yuriko Koike sebelumnya telah mengeluarkan imbauan agar pekerja lebih fleksibel dalam memilih pakaian kerja selama musim panas.
Kebijakan tersebut muncul karena meningkatnya kebutuhan listrik akibat penggunaan AC secara besar-besaran. Kondisi energi global yang tidak stabil juga ikut memberikan tekanan terhadap biaya operasional, termasuk kebutuhan listrik di berbagai sektor.
Dengan mengizinkan pakaian yang lebih ringan, pemerintah berharap suhu pendingin ruangan dapat diatur lebih hemat sehingga konsumsi energi bisa ditekan.
3. Kelanjutan Kampanye Hemat Energi Cool Biz
Kebijakan berpakaian santai tersebut merupakan pengembangan dari kampanye "Cool Biz", sebuah gerakan penghematan energi yang pertama kali diperkenalkan pada 2005.
Saat itu, tujuan utama kampanye adalah mengurangi penggunaan AC di gedung pemerintahan dan perkantoran dengan cara mendorong masyarakat mengenakan pakaian yang lebih nyaman saat cuaca panas.
Yuriko Koike yang saat itu menjabat sebagai Menteri Lingkungan Hidup menjadi salah satu tokoh yang memperkenalkan gerakan tersebut.
"Kami mendorong gaya berpakaian 'keren' yang mengutamakan kenyamanan, termasuk kaos polo, kaos oblong, sepatu kets, dan celana pendek yang disesuaikan dengan beban pekerjaan masing-masing," kata Koike.
Melalui pendekatan tersebut, pemerintah Jepang ingin menunjukkan bahwa efisiensi energi dapat dilakukan melalui perubahan kebiasaan sederhana.
4. Celana Pendek di Kantor Picu Perdebatan Publik
Meski mendapat dukungan dari sebagian pekerja, penggunaan celana pendek di lingkungan kantor juga menimbulkan pro dan kontra. Beberapa orang menilai pakaian tersebut terlalu santai dan kurang mencerminkan suasana profesional.
Perdebatan terutama muncul karena budaya kerja Jepang masih sangat menghargai penampilan formal sebagai simbol keseriusan dan kedisiplinan.
Sachie Koike, seorang agen properti berusia 52 tahun, mengaku belum sepenuhnya menerima perubahan tersebut.
"Saya pribadi mengaitkan celana pendek dengan hari libur. Menurut saya, melihat kaki berbulu (di kantor) rasanya kurang rapi," ujarnya.
Menurutnya, meskipun kenyamanan penting, pakaian kerja tetap harus mempertimbangkan citra profesional seseorang.
5. Sebagian Pekerja Merasakan Manfaat Besar
Di sisi lain, banyak pekerja yang merasakan dampak positif dari kebijakan berpakaian lebih fleksibel tersebut. Mereka menilai celana pendek membuat aktivitas sehari-hari jauh lebih nyaman, terutama ketika harus berjalan di luar ruangan dalam kondisi panas ekstrem.
Takuya Ozawa, seorang pegawai pemerintah Tokyo berusia 38 tahun, mengatakan perjalanan pulang kerja menjadi lebih mudah setelah menggunakan pakaian yang lebih ringan.
"Perjalanan pulang kerja rasanya sangat menyiksa kalau pakai celana panjang. Tapi begitu pakai celana pendek, rasanya langsung sejuk dan nyaman," ungkap Ozawa.
Bagi kelompok pekerja ini, perubahan aturan berpakaian bukan hanya soal gaya, tetapi juga berkaitan dengan kesehatan dan kenyamanan saat menghadapi suhu tinggi.