
JAKARTA – Kementerian Luar Negeri (Kemlu) RI memastikan seluruh warga negara Indonesia (WNI) yang berada di Kolombia dalam kondisi aman setelah gempa bumi bermagnitudo 7,4 mengguncang wilayah barat negara tersebut pada Senin (10/8/2026). Informasi mengenai kondisi WNI diperoleh Kemlu melalui koordinasi dengan Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Bogota. Meskipun belum ada laporan WNI menjadi korban, pemerintah Indonesia tetap meningkatkan pemantauan karena situasi di sejumlah wilayah Kolombia masih dalam penanganan setelah gempa menimbulkan kerusakan bangunan dan korban jiwa. KBRI Bogota juga terus berkomunikasi dengan WNI sekaligus memantau kemungkinan terjadinya gempa susulan.
Kemlu menyampaikan bahwa hasil pemantauan KBRI Bogota menunjukkan seluruh WNI yang berada di Kolombia sejauh ini berada dalam kondisi aman. Pemerintah tetap melakukan pemantauan karena gempa dengan kekuatan M 7,4 tersebut terasa di sejumlah wilayah dan menimbulkan dampak cukup besar. Pendataan dan komunikasi dengan WNI menjadi langkah penting untuk memastikan tidak ada warga Indonesia yang luput dari perhatian di tengah situasi darurat. KBRI Bogota juga berkoordinasi dengan otoritas setempat untuk memperoleh perkembangan terbaru mengenai kondisi wilayah terdampak. Pemerintah Indonesia akan terus memperbarui informasi apabila ditemukan perkembangan yang berkaitan dengan keselamatan WNI. Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya perlindungan warga Indonesia yang berada di luar negeri ketika terjadi bencana alam.
Gempa bumi yang terjadi pada 10 Agustus 2026 tersebut berpusat di Departemen Choco, wilayah barat Kolombia, dengan lokasi episentrum sekitar 280 kilometer dari Bogota. Guncangan dilaporkan terasa cukup kuat di sejumlah kota, termasuk Bogota, Cali, Medellin, Pereira, Manizales, dan Ibague. Luasnya wilayah yang merasakan gempa membuat pemerintah Kolombia harus mengerahkan berbagai sumber daya untuk melakukan penanganan dan asesmen dampak bencana. Selain dirasakan di sejumlah wilayah Kolombia, getaran gempa juga dilaporkan sampai ke negara tetangga, termasuk Ekuador dan Panama. Kondisi tersebut menunjukkan besarnya energi gempa yang terjadi sehingga kewaspadaan masyarakat masih diperlukan, terutama terhadap kemungkinan gempa susulan dan bangunan yang mengalami kerusakan struktural.
Meskipun seluruh WNI dilaporkan aman, KBRI Bogota tetap menyiapkan langkah antisipasi apabila kondisi darurat kembali terjadi. WNI yang berada di wilayah terdampak diimbau untuk mengikuti arahan otoritas Kolombia, memantau informasi melalui sumber resmi, serta menjaga komunikasi dengan perwakilan Indonesia. Komunikasi menjadi penting untuk memudahkan pemerintah mengetahui keberadaan dan kondisi WNI apabila terjadi perubahan situasi. KBRI juga akan terus mengikuti perkembangan penanganan bencana dan berkoordinasi dengan pihak terkait. Bagi WNI yang membutuhkan bantuan dalam kondisi darurat, KBRI Bogota menyediakan saluran komunikasi yang dapat digunakan untuk mendapatkan bantuan. Pemerintah mengingatkan agar masyarakat tidak mudah mempercayai informasi yang belum terverifikasi dan selalu mengutamakan keselamatan ketika berada di kawasan yang terdampak bencana.
Gempa M 7,4 tersebut menimbulkan kerusakan cukup luas di sejumlah wilayah Kolombia. Sekitar 1.600 bangunan dilaporkan terdampak, sementara puluhan bangunan mengalami kerusakan hingga runtuh sepenuhnya. Tim penyelamat bersama masyarakat masih melakukan pencarian di sejumlah lokasi untuk menemukan korban yang kemungkinan tertimbun material bangunan. Data korban juga masih dapat berubah seiring berlangsungnya proses evakuasi dan pencarian. Pemerintah Kolombia telah mengaktifkan mekanisme tanggap darurat nasional untuk mempercepat koordinasi penanganan bencana. Langkah tersebut mencakup asesmen kebutuhan masyarakat, pencarian dan penyelamatan korban, serta penanganan dampak kerusakan infrastruktur. Kondisi lapangan yang masih dinamis membuat masyarakat di wilayah terdampak diminta tetap berhati-hati.
Kemlu memastikan pemantauan terhadap WNI di Kolombia akan terus dilakukan selama situasi pascagempa belum sepenuhnya stabil. Pemerintah Indonesia melalui KBRI Bogota akan mengikuti perkembangan informasi dari otoritas setempat sekaligus memastikan saluran komunikasi dengan masyarakat Indonesia tetap terbuka. Bagi WNI yang berada di Kolombia, kewaspadaan menjadi hal penting, khususnya bagi mereka yang tinggal atau melakukan aktivitas di wilayah yang mengalami kerusakan. Apabila terjadi keadaan darurat, WNI dapat menghubungi layanan KBRI Bogota untuk memperoleh bantuan dan informasi. Pemerintah Indonesia juga akan menyesuaikan langkah perlindungan apabila terdapat perubahan kondisi di lapangan. Dengan pemantauan berkelanjutan dan komunikasi yang baik, keselamatan WNI di tengah proses pemulihan pascagempa diharapkan tetap terjaga.