Prabowo Sebut BRICS Punya Peran Penting dalam Memperkuat Ketahanan Global

1. Prabowo Nilai BRICS Punya Kekuatan Kolektif Besar
Presiden Prabowo Subianto menilai BRICS memiliki peran strategis dalam memperkuat ketahanan global. Menurutnya, kekuatan kelompok tersebut berasal dari besarnya jumlah penduduk, kapasitas ekonomi, perdagangan, hingga sumber daya energi yang dimiliki negara-negara anggotanya.
Hal itu disampaikan Prabowo saat menghadiri sesi terbatas bertema Inclusive Global Governance and Strengthening Multilateralism dalam Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) BRICS 2026 di Bharat Mandapam, New Delhi, India, Sabtu (12/9/2026).
Prabowo melihat BRICS sebagai wadah yang menyatukan sejumlah pasar besar dunia sekaligus negara-negara yang memiliki peran penting dalam produksi energi. Kondisi tersebut membuat kelompok ini memiliki potensi besar untuk mengambil bagian dalam menghadapi berbagai tantangan global.
2. BRICS Didorong Perkuat Ketahanan Pangan dan Energi
Menurut Prabowo, kekuatan kolektif BRICS perlu diarahkan untuk memperkuat ketahanan pangan dan energi. Dua sektor tersebut dinilai sangat penting karena berkaitan langsung dengan stabilitas ekonomi dan kehidupan masyarakat.
Selain memastikan ketersediaan pangan dan energi, negara-negara BRICS juga dinilai dapat meningkatkan kontribusinya melalui pembangunan infrastruktur dan penguatan ekonomi. Mobilisasi sumber daya untuk kebutuhan tersebut diyakini dapat membantu negara-negara berkembang meningkatkan kemampuan mereka dalam membiayai pembangunan secara mandiri.
Langkah tersebut juga dapat memperkuat posisi kelompok negara berkembang atau Global South dalam menghadapi perubahan ekonomi dan politik dunia.
3. Konektivitas Pasar dan Teknologi Jadi Kunci
Prabowo juga menyoroti pentingnya meningkatkan keterhubungan antara negara-negara BRICS. Konektivitas tersebut mencakup pasar, modal, sumber daya, teknologi, hingga pengetahuan.
Dengan hubungan yang semakin terintegrasi, negara-negara berkembang dinilai dapat memperoleh lebih banyak peluang untuk mendorong pembangunan. Kerja sama tersebut juga dapat membuka akses terhadap sumber pembiayaan, teknologi, dan berbagai sumber daya yang dibutuhkan untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi.
Menurut Prabowo, penguatan hubungan antarnegara BRICS pada akhirnya dapat meningkatkan kapasitas Global South dalam menentukan arah pembangunan dan masa depannya sendiri.
4. Prabowo Dorong Reformasi Tata Kelola Global
Dalam forum BRICS, Prabowo turut menekankan perlunya membangun sistem multilateral yang lebih kuat dan mampu mengakomodasi kepentingan seluruh negara. Menurutnya, sistem internasional harus memberikan ruang yang lebih seimbang bagi negara besar maupun kecil.
Prabowo juga menilai Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) tetap harus menjadi pusat sistem multilateral dunia. Namun, lembaga tersebut dinilai perlu melakukan reformasi agar lebih representatif, responsif, dan mampu menghasilkan kebijakan yang memberikan dampak nyata bagi masyarakat.
Selain PBB, lembaga keuangan internasional juga dinilai perlu beradaptasi dengan perubahan kondisi ekonomi global. Sistem perdagangan dan keuangan, menurut Prabowo, perlu dijaga agar tidak digunakan sebagai instrumen tekanan terhadap negara lain.
5. BRICS Diharapkan Ciptakan Tatanan Dunia Lebih Adil
Penguatan BRICS dan reformasi tata kelola global dinilai dapat membuka jalan menuju tatanan internasional yang lebih adil dan setara. Prabowo mendorong agar negara-negara Global South memiliki ruang yang lebih besar dalam menentukan kebijakan yang memengaruhi masa depan mereka.
Dengan potensi ekonomi, perdagangan, sumber daya, dan teknologi yang dimiliki anggotanya, BRICS dinilai memiliki kapasitas untuk memberikan kontribusi lebih besar terhadap ketahanan dunia. Kerja sama tersebut diharapkan tidak hanya menguntungkan negara anggota, tetapi juga membantu menciptakan peluang pembangunan yang lebih luas bagi negara berkembang.
KTT ke-18 BRICS sendiri berlangsung di Bharat Mandapam, New Delhi, pada 12-13 September 2026 di bawah keketuaan India. Bagi Indonesia, forum tersebut menjadi momentum untuk memperkuat kerja sama sekaligus memperluas peran dalam pembahasan berbagai isu global.