
Kuatbaca - Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali membuat pernyataan mengenai perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI). Kali ini, Trump menyebut istilah yang selama ini digunakan untuk teknologi tersebut sebaiknya diganti menjadi “super intelligence”.
Pernyataan itu disampaikan Trump setelah bertemu dengan Presiden China Xi Jinping dalam rangkaian kunjungan kenegaraan Xi ke Amerika Serikat. Trump kemudian menyebut bahwa Xi turut menyukai penggunaan istilah baru tersebut.
Klaim tersebut disampaikan Trump melalui platform media sosial Truth Social sehari setelah jamuan makan malam kenegaraan di Gedung Putih. Acara itu mempertemukan Trump dan Xi dengan sejumlah tokoh penting dari industri teknologi Amerika Serikat.
Trump menggambarkan pertemuan dengan Xi sebagai pembicaraan yang menghasilkan perkembangan positif bagi hubungan kedua negara. Dalam unggahannya, ia menyatakan bahwa istilah “super intelligence” mendapat respons positif dari Xi dan para tamu yang hadir dalam jamuan makan malam tersebut.
Namun, pernyataan tersebut perlu ditempatkan sebagai klaim dari Trump. Dalam pernyataan publik Xi yang terdokumentasi selama kunjungan tersebut, fokus pembahasan mengenai AI lebih banyak berkaitan dengan pengembangan teknologi secara bertanggung jawab dan perlunya teknologi tetap berada dalam kendali manusia.
Dengan demikian, belum terdapat pernyataan publik Xi yang secara terpisah mengonfirmasi bahwa ia secara resmi mendukung perubahan istilah “artificial intelligence” menjadi “super intelligence”.
Jamuan makan malam di Gedung Putih menjadi salah satu agenda penting dalam kunjungan Xi ke Amerika Serikat. Acara tersebut dihadiri sejumlah eksekutif perusahaan teknologi terbesar dunia.
Beberapa nama yang hadir antara lain CEO Nvidia Jensen Huang, CEO OpenAI Sam Altman, CEO Apple Tim Cook, CEO Google Sundar Pichai, pendiri Amazon Jeff Bezos, CEO Meta Mark Zuckerberg, serta sejumlah tokoh bisnis lainnya.
Kehadiran para pemimpin perusahaan teknologi tersebut menunjukkan besarnya perhatian terhadap perkembangan AI dalam hubungan Amerika Serikat dan China. Kedua negara saat ini menjadi dua kekuatan utama dalam pengembangan teknologi AI, sehingga isu tersebut memiliki kaitan tidak hanya dengan bisnis, tetapi juga perdagangan, keamanan nasional, dan persaingan teknologi.
Sebelum pertemuan dengan Xi berlangsung, Trump telah menyebut “Super Intelligence” sebagai salah satu topik yang akan dibicarakan. Istilah tersebut menjadi pilihan Trump ketika merujuk pada teknologi yang selama ini dikenal luas sebagai artificial intelligence.
Perubahan istilah yang diusulkan Trump bukan sekadar persoalan bahasa. Di baliknya terdapat perdebatan yang lebih luas mengenai seberapa jauh kemampuan sistem AI akan berkembang pada masa mendatang.
Teknologi AI saat ini telah berkembang dari sekadar perangkat yang mampu menjawab pertanyaan atau menghasilkan konten menjadi sistem yang dapat membantu pekerjaan kompleks, menganalisis data dalam jumlah besar, membuat kode, dan menjalankan berbagai tugas secara lebih mandiri.
Dalam agenda resmi di Gedung Putih, Xi juga menyampaikan pandangan mengenai perkembangan AI. Ia menekankan bahwa Amerika Serikat dan China sama-sama memiliki posisi penting dalam pengembangan teknologi tersebut.
Xi juga membawa pesan mengenai perlunya pengembangan AI dilakukan secara bertanggung jawab dan tetap berada di bawah kendali manusia. Pandangan tersebut menjadi salah satu bagian dari pembahasan teknologi dalam pertemuan kedua pemimpin.
Sikap tersebut menunjukkan bahwa pembicaraan mengenai AI antara Washington dan Beijing tidak hanya menyentuh persoalan kemampuan teknologi, tetapi juga bagaimana teknologi tersebut dikelola dan digunakan.
Di balik pembicaraan mengenai istilah baru tersebut terdapat persaingan teknologi antara Amerika Serikat dan China. Kedua negara berlomba mengembangkan model AI dengan kemampuan semakin tinggi serta membangun infrastruktur yang diperlukan untuk menjalankannya.
Persaingan tersebut melibatkan perusahaan teknologi, pusat penelitian, produsen chip, serta pemerintah masing-masing negara. Kemajuan dalam bidang AI bahkan semakin erat dikaitkan dengan kepentingan ekonomi dan keamanan nasional.
Bagi Washington, mempertahankan posisi dalam pengembangan AI menjadi salah satu bagian dari persaingan teknologi dengan Beijing. Sementara China juga terus mendorong perusahaan domestiknya untuk meningkatkan kemampuan di bidang teknologi canggih.
Pertemuan Trump dan Xi dengan para pemimpin industri teknologi menjadi gambaran mengenai semakin dekatnya hubungan antara kebijakan pemerintah dan perkembangan AI.
Nama-nama besar yang hadir bukan hanya berasal dari perusahaan yang mengembangkan model AI. Beberapa di antaranya merupakan perusahaan yang menyediakan chip, perangkat keras, layanan cloud, platform digital, serta infrastruktur yang dibutuhkan untuk menjalankan teknologi tersebut.
Kehadiran mereka juga menunjukkan bahwa perkembangan AI memiliki dampak yang semakin luas terhadap berbagai sektor industri. Keputusan pemerintah mengenai perdagangan, chip, investasi, keamanan data, dan regulasi dapat memengaruhi perkembangan industri AI secara langsung.
Istilah “super intelligence” sendiri bukan istilah yang sepenuhnya baru dalam dunia teknologi. Para peneliti dan pelaku industri sebelumnya telah menggunakan istilah tersebut dalam pembahasan mengenai sistem AI yang kemampuan intelektualnya melampaui manusia dalam berbagai bidang.
Karena itu, apabila istilah tersebut semakin sering digunakan dalam komunikasi politik, masyarakat tetap perlu membedakan antara istilah umum dalam penelitian AI dan perubahan nama resmi terhadap teknologi.
Sampai saat ini, tidak ada perubahan resmi yang menjadikan “super intelligence” sebagai nama pengganti artificial intelligence secara global. Istilah AI tetap digunakan secara luas oleh pemerintah, perusahaan teknologi, akademisi, dan organisasi internasional.
Perdebatan mengenai nama teknologi tersebut muncul ketika negara-negara di dunia sedang menghadapi pertanyaan yang lebih besar mengenai aturan penggunaan AI.
Sejumlah perusahaan teknologi dan tokoh industri sebelumnya telah mendorong adanya kerja sama internasional untuk mengantisipasi risiko yang muncul dari perkembangan model AI yang semakin kuat. OpenAI, misalnya, menyerukan adanya standar internasional dan kerja sama antara Amerika Serikat dan China dalam menghadapi risiko teknologi AI tingkat lanjut.
Di sisi lain, pemerintahan Trump selama ini menekankan pentingnya mempertahankan kecepatan inovasi AI Amerika Serikat agar tidak tertinggal dari China. Perbedaan pendekatan mengenai pengawasan dan pengembangan AI menjadi salah satu isu yang terus dibahas di Washington.
Pertemuan Trump dan Xi sebenarnya tidak hanya membahas AI. Hubungan Amerika Serikat dan China mencakup berbagai persoalan strategis, mulai dari perdagangan, keamanan, Taiwan, teknologi, hingga konflik internasional.
Kedua negara merupakan kekuatan ekonomi terbesar dunia sehingga hubungan keduanya memiliki dampak terhadap perekonomian global. Karena itu, pertemuan tingkat tinggi antara Trump dan Xi mendapat perhatian luas dari pemerintah dan pelaku bisnis internasional.
AI menjadi salah satu bagian penting dalam hubungan tersebut karena teknologi ini semakin terkait dengan daya saing ekonomi dan kemampuan industri kedua negara.
Pernyataan Trump mengenai dukungan Xi terhadap istilah “super intelligence” akhirnya menjadi salah satu bagian yang paling menarik perhatian dari pertemuan tersebut. Trump menyatakan bahwa Xi dan para peserta jamuan makan malam menyukai istilah itu.
Namun, sampai saat ini, klaim tersebut perlu dibaca dalam konteks pernyataan Trump sendiri. Pernyataan publik Xi yang tersedia lebih menekankan kerja sama, pengembangan AI yang bertanggung jawab, serta pentingnya memastikan teknologi tetap berada dalam kendali manusia.
Terlepas dari perdebatan mengenai nama, perkembangan AI tetap menjadi salah satu isu teknologi paling penting saat ini. Kemampuan sistem AI terus bertambah dan penggunaannya semakin luas di berbagai bidang.
Pertemuan Trump dan Xi juga menunjukkan bahwa perkembangan AI telah menjadi bagian dari pembicaraan diplomatik tingkat tinggi. Teknologi tersebut tidak lagi hanya dipandang sebagai persoalan industri teknologi, tetapi juga berkaitan dengan ekonomi, keamanan, perdagangan, dan hubungan antarnegara.
Untuk sementara, “artificial intelligence” tetap menjadi istilah yang digunakan secara luas untuk teknologi tersebut. Sementara “super intelligence” yang dipopulerkan kembali oleh Trump dalam pernyataannya lebih tepat dipahami sebagai istilah yang ia dorong untuk menggambarkan arah perkembangan AI yang semakin maju.