Eri Cahyadi Minta Pagar Mal di Surabaya Diturunkan demi Menjaga Keterbukaan Kota

5 August 2026 20:02 WIB
6a63536d4587b.jpeg

Kuatbaca.com- Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi meminta pengelola sejumlah pusat perbelanjaan menyesuaikan ketinggian pagar yang terpasang di area luar gedung. Menurutnya, pagar tetap dapat digunakan untuk mendukung keamanan dan mengatur pergerakan pengunjung, tetapi desainnya tidak boleh membuat kawasan terlihat tertutup. Pagar yang terlalu tinggi dikhawatirkan mengurangi estetika kota sekaligus menghalangi pandangan masyarakat yang melintas di sekitar pusat perbelanjaan. Pemerintah Kota Surabaya tidak langsung memerintahkan pembongkaran karena pemasangan pagar tersebut hanya ditemukan di beberapa mal, bukan seluruh pusat perbelanjaan di Kota Pahlawan. Pendekatan yang dipilih adalah melakukan koordinasi dengan pihak pengelola agar ketinggiannya dapat diturunkan tanpa menghilangkan fungsi utamanya. Eri berharap lingkungan di sekitar mal tetap terasa terang, terbuka, dan nyaman bagi pejalan kaki. Penyesuaian desain juga dinilai penting karena pusat perbelanjaan berada di kawasan ramai yang menjadi bagian dari wajah kota. Setiap perubahan pada bagian luar bangunan perlu mempertimbangkan bukan hanya kepentingan pengelola, tetapi juga dampaknya terhadap ruang publik serta kenyamanan masyarakat.

Kesan Surabaya Tidak Aman Ingin Dihindari

Pemasangan pagar besi setinggi sekitar 2,5 meter di sejumlah pusat perbelanjaan sebelumnya menjadi pembicaraan masyarakat. Beberapa lokasi yang disorot antara lain kawasan Pakuwon Mall, Royal Plaza, Tunjungan Plaza, dan Pakuwon City. Kemunculan pagar tinggi dalam waktu yang hampir bersamaan memicu berbagai spekulasi di media sosial. Sebagian masyarakat mengaitkannya dengan kemungkinan aksi demonstrasi, gangguan keamanan, hingga kekhawatiran mengenai kondisi ekonomi. Namun, pengelola pusat perbelanjaan menyatakan pemasangan tersebut dilakukan untuk mendukung ketertiban dan kenyamanan pengunjung. Eri menilai pagar yang menjulang dapat menimbulkan kesan seolah-olah masyarakat atau pengelola sedang merasa takut terhadap situasi tertentu. Padahal, kondisi keamanan Surabaya tetap terkendali dan aktivitas warga berjalan normal. Karena itu, tampilan fasilitas pengamanan sebaiknya tidak menciptakan gambaran yang bertolak belakang dengan keadaan sebenarnya. Pemerintah kota ingin Surabaya tetap dikenal sebagai wilayah yang aman, ramah, dan terbuka bagi masyarakat maupun wisatawan. Penataan keamanan tetap diperlukan, tetapi penerapannya harus proporsional agar tidak menghadirkan suasana tertutup seperti bangunan yang sedang menghadapi ancaman.


Pagar Tetap Dibutuhkan untuk Mengatur Pejalan Kaki

Keberadaan pagar di sekitar pusat perbelanjaan pada dasarnya juga memiliki fungsi keselamatan, terutama untuk mengarahkan pergerakan pejalan kaki. Di sekitar Tunjungan Plaza, misalnya, masih ditemukan pengunjung yang menyeberang langsung di Jalan Basuki Rahmat meskipun telah tersedia fasilitas penyeberangan. Jalan tersebut memiliki arus kendaraan yang padat sehingga tindakan menyeberang sembarangan dapat membahayakan pejalan kaki maupun pengendara. Pagar dibutuhkan untuk mengarahkan masyarakat menuju titik penyeberangan yang lebih aman dan mencegah mereka memasuki badan jalan dari lokasi yang tidak semestinya. Pemerintah Kota Surabaya juga memasang pembatas beton di sejumlah bagian Jalan Basuki Rahmat agar warga tidak memotong jalur secara sembarangan. Pembatas beton dinilai lebih kokoh daripada pembatas berbahan plastik yang mudah bergeser atau dipindahkan. Meski demikian, fungsi keselamatan tersebut tetap dapat dipenuhi tanpa memasang pagar yang terlalu tinggi. Pengelola dapat menggunakan desain yang lebih rendah, terbuka, dan tetap mampu membatasi akses. Dengan begitu, kebutuhan pengamanan, keteraturan lalu lintas, serta keindahan kawasan dapat berjalan secara bersamaan tanpa harus saling mengorbankan.

Pemkot Akan Berkoordinasi dengan Pengelola Mal

Pemerintah Kota Surabaya akan melanjutkan komunikasi dengan pengelola pusat perbelanjaan yang memasang pagar tinggi. Koordinasi diperlukan untuk menentukan desain dan ukuran yang tetap memenuhi kebutuhan keamanan tanpa mengurangi kenyamanan ruang kota. Pemkot tidak ingin mengambil langkah tergesa-gesa karena setiap pusat perbelanjaan memiliki kondisi lingkungan dan kebutuhan pengaturan pengunjung yang berbeda. Namun, pengelola tetap diminta memperhatikan dampak visual serta persepsi masyarakat terhadap pemasangan fasilitas pengamanan. Eri juga mengajak warga menggunakan fasilitas publik secara tertib, termasuk memanfaatkan jembatan penyeberangan, mematuhi larangan parkir, dan tidak memindahkan pembatas jalan. Penataan kota tidak hanya bergantung pada kebijakan pemerintah dan pengelola gedung, tetapi juga membutuhkan kesadaran masyarakat dalam menjaga keselamatan bersama. Pagar yang lebih rendah diharapkan membuat kawasan pusat perbelanjaan tetap terbuka sekaligus membantu mengarahkan pergerakan pengunjung. Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya menjaga Surabaya sebagai kota yang tertib, aman, dan memiliki tampilan ruang publik yang nyaman. Pemerintah berharap penyesuaian dapat dilakukan melalui kesepakatan sehingga fungsi pagar tetap berjalan tanpa menimbulkan kesan berlebihan atau mengganggu wajah kota.

pemerintah

Fenomena Terkini






Trending