
Kuatbaca - Institut Teknologi Bandung (ITB) kembali menerima mahasiswa baru dari berbagai penjuru Indonesia pada tahun akademik 2026. Keragaman asal daerah terlihat dari latar belakang sekolah menengah atas para mahasiswa yang diterima di kampus tersebut.
Pada penerimaan mahasiswa baru tahun ini, asal sekolah para mahasiswa ITB tercatat mencakup 38 provinsi. Sebaran tersebut menunjukkan bahwa daya tarik ITB tidak hanya terpusat di Pulau Jawa, tetapi juga menjangkau calon mahasiswa dari berbagai wilayah Indonesia.
Komposisi tersebut menjadi gambaran bahwa persaingan untuk masuk ke perguruan tinggi negeri berbasis teknologi dan sains itu diikuti peserta dari latar belakang geografis yang cukup beragam.
Selain berasal dari berbagai provinsi, ITB juga menerima mahasiswa yang datang dari wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar atau 3T. Pada angkatan 2026, terdapat 97 mahasiswa baru yang berasal dari daerah dengan karakteristik tersebut.
Kehadiran mahasiswa dari wilayah 3T menjadi bagian penting dalam memperluas akses pendidikan tinggi berkualitas. Kesempatan untuk menempuh pendidikan di perguruan tinggi seperti ITB diharapkan dapat membuka peluang bagi putra-putri daerah untuk mengembangkan kemampuan sekaligus membawa pengetahuan tersebut kembali ke daerah asal.
Daerah asal mahasiswa 3T yang tercatat antara lain Kepulauan Riau, Riau, Aceh, Maluku, serta sejumlah wilayah di Papua. Dari kawasan Papua, mahasiswa berasal dari Papua, Papua Barat, Papua Tengah, Papua Selatan, Papua Barat Daya, hingga Papua Pegunungan.
Selain mahasiswa dari daerah 3T, penerimaan mahasiswa baru ITB 2026 juga mencakup peserta melalui jalur afirmasi pendidikan. Sebanyak 10 mahasiswa tercatat masuk melalui skema tersebut.
Jalur afirmasi menjadi salah satu instrumen untuk memberikan kesempatan pendidikan kepada calon mahasiswa dari kelompok atau wilayah tertentu yang membutuhkan dukungan akses. Dengan demikian, komposisi mahasiswa ITB tidak hanya ditentukan oleh capaian akademik, tetapi juga mempertimbangkan pemerataan kesempatan pendidikan.
Kehadiran mahasiswa afirmasi tersebut sekaligus memperlihatkan upaya memperluas akses ke pendidikan tinggi bagi calon mahasiswa dari latar belakang yang beragam.
Dari keseluruhan mahasiswa yang diterima, terdapat sejumlah provinsi yang menjadi penyumbang asal sekolah terbanyak. Daftar tersebut menggambarkan wilayah mana saja yang memiliki kontribusi besar dalam mengisi angkatan mahasiswa baru ITB tahun ini.
Namun, dominasi beberapa provinsi tidak berarti bahwa penerimaan mahasiswa ITB hanya terkonsentrasi di wilayah tertentu. Dengan cakupan asal sekolah yang mencapai 38 provinsi, kampus tetap menunjukkan karakter sebagai perguruan tinggi yang menerima calon mahasiswa dari berbagai daerah.
Sebaran tersebut juga dapat menjadi gambaran mengenai minat siswa SMA terhadap pendidikan tinggi di bidang teknologi, sains, seni, dan disiplin ilmu lainnya yang tersedia di ITB.
Dari sisi gender, komposisi mahasiswa baru ITB 2026 masih menunjukkan jumlah mahasiswa laki-laki yang lebih besar dibandingkan perempuan.
Mahasiswa laki-laki mencakup sekitar 57,7 persen dari keseluruhan mahasiswa baru. Sementara itu, mahasiswa perempuan berada di kisaran 43,3 persen.
Meski secara keseluruhan jumlah laki-laki masih lebih tinggi, terdapat sejumlah fakultas yang justru memiliki proporsi mahasiswa perempuan lebih besar. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa ketertarikan mahasiswa perempuan terhadap bidang pendidikan yang tersedia di ITB semakin terlihat.
Pada jenjang sarjana, Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD) menjadi salah satu fakultas dengan proporsi mahasiswa perempuan paling tinggi.
Sekitar 78 persen mahasiswa baru FSRD merupakan perempuan. Komposisi ini menunjukkan kuatnya minat calon mahasiswa perempuan terhadap bidang seni, desain, kreativitas, dan disiplin ilmu yang berkaitan dengan industri kreatif.
Kondisi tersebut berbeda dengan Fakultas Teknik Mesin dan Dirgantara (FTMD), yang didominasi mahasiswa laki-laki. Sekitar 81 persen mahasiswa baru di fakultas tersebut merupakan laki-laki.
Perbedaan komposisi ini sekaligus memperlihatkan bahwa pilihan bidang studi masih menghasilkan pola demografi mahasiswa yang berbeda di setiap fakultas.
Hal lain yang menarik dari angkatan mahasiswa baru ITB 2026 adalah usia mahasiswa yang cukup muda. Tahun ini terdapat mahasiswa yang mulai menjalani pendidikan tinggi ketika usianya baru menginjak 15 tahun.
Mahasiswa tersebut adalah Kevin VN Sitanggang yang diterima di Fakultas Teknik Pertambangan dan Perminyakan (FTTM). Usianya tercatat 15 tahun ketika memulai pendidikan di ITB.
Selain Kevin, terdapat pula mahasiswa berusia 16 tahun 1 bulan, yakni Aqila Ganita Hijrah dari Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian (FITB).
Kehadiran mahasiswa dengan usia relatif muda tersebut menjadi salah satu gambaran mengenai beragamnya profil akademik mahasiswa yang diterima ITB. Mereka tidak hanya datang dengan latar belakang daerah yang berbeda, tetapi juga memiliki rentang usia yang cukup beragam.
Keragaman geografis angkatan baru ITB semakin terlihat dari keberadaan mahasiswa yang berasal dari wilayah sangat jauh dari lokasi kampus.
Dua mahasiswa tercatat datang dari wilayah paling jauh, yakni Merauke dan Jayawijaya. Keduanya harus menempuh perjalanan panjang untuk dapat melanjutkan pendidikan di ITB.
Keberadaan mahasiswa dari Papua tersebut menjadi simbol bahwa akses terhadap pendidikan tinggi semakin terbuka bagi calon mahasiswa dari kawasan Indonesia timur.
Komposisi mahasiswa baru tahun 2026 memperlihatkan bahwa ITB tidak hanya menjadi tujuan pendidikan bagi siswa yang berasal dari kota-kota besar di Pulau Jawa. Kehadiran mahasiswa dari 38 provinsi memperlihatkan jangkauan kampus yang semakin luas.
Bagi mahasiswa dari luar Jawa, terutama mereka yang berasal dari wilayah 3T dan kawasan timur Indonesia, keberhasilan masuk ITB tentu menjadi pencapaian tersendiri. Mereka akan berhadapan dengan lingkungan akademik baru sekaligus membawa pengalaman dan latar belakang daerah masing-masing.
Keragaman tersebut pada akhirnya dapat menjadi kekuatan tersendiri dalam lingkungan kampus. Pertemuan mahasiswa dari berbagai daerah memungkinkan terjadinya pertukaran pengalaman, perspektif, serta pengetahuan yang tidak hanya berasal dari ruang kelas.
Sebaran mahasiswa baru ITB 2026 juga dapat dilihat sebagai salah satu potret perkembangan akses pendidikan tinggi di Indonesia. Masih terdapat tantangan besar untuk memastikan calon mahasiswa dari seluruh wilayah memiliki kesempatan yang sama, terutama mereka yang berasal dari daerah dengan keterbatasan fasilitas pendidikan.
Karena itu, keberadaan mahasiswa dari wilayah 3T, peserta afirmasi, serta mahasiswa dari daerah yang jauh seperti Merauke dan Jayawijaya menjadi bagian penting dari cerita penerimaan mahasiswa baru ITB tahun ini.
Di sisi lain, data tersebut juga menunjukkan bahwa minat terhadap pendidikan tinggi berkualitas tidak mengenal batas geografis. Selama kesempatan dan akses tersedia, siswa dari berbagai pelosok Indonesia memiliki peluang untuk bersaing dan menempuh pendidikan di salah satu perguruan tinggi terkemuka di Tanah Air.
Dengan komposisi mahasiswa yang berasal dari puluhan provinsi, angkatan baru ITB 2026 bukan hanya mencerminkan keberagaman asal daerah. Lebih dari itu, mereka menjadi gambaran generasi muda Indonesia yang datang dengan latar belakang berbeda untuk belajar, berkembang, dan mempersiapkan diri menghadapi tantangan masa depan.