
Bogor — Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi menegaskan kembali bahwa riset kampus tidak cukup berhenti sebagai publikasi. Hasil penelitian perlu masuk ke jalur hilirisasi, bertemu kebutuhan industri, lalu diuji sebagai produk atau layanan yang bisa digunakan masyarakat.
Pesan itu disampaikan Direktur Jenderal Riset dan Pengembangan Kemdiktisaintek, Fauzan Adziman, dalam Prime STEP Bootcamp 2026 yang digelar IPB bersama Asian Development Bank. Kegiatan ini mempertemukan startup binaan, akademisi, mentor, investor, dan mitra strategis untuk memperkuat kapasitas startup berbasis sains dan teknologi menuju komersialisasi.
Fauzan menekankan bahwa kekuatan teknologi saja belum cukup untuk membuat startup berhasil. Menurutnya, investor juga melihat kualitas tim, kemampuan membaca kebutuhan pasar, dan konsistensi eksekusi. Dengan kata lain, tantangan utama hilirisasi bukan hanya menemukan teknologi baru, tetapi membangun organisasi yang mampu membawa teknologi itu keluar dari laboratorium.
Pernyataan ini penting karena banyak inovasi kampus berhadapan dengan celah yang sama: riset selesai, prototipe ada, tetapi proses validasi produk, model bisnis, jaringan industri, dan akses pendanaan belum matang. Bootcamp seperti Prime STEP mencoba menutup celah itu dengan pendampingan yang lebih berkelanjutan.
Rektor IPB, Alim Setiawan Slamet, menyebut pengembangan startup membutuhkan ekosistem yang memberi pendampingan berkelanjutan. Kampus, dalam posisi ini, tidak hanya menjadi tempat riset, tetapi juga penghubung antara hasil penelitian, kebutuhan masyarakat, dan dunia industri.
Model pendampingan tersebut mencakup inkubasi, pendampingan bisnis, hingga komersialisasi inovasi. Pada kegiatan ini, IPB juga menandatangani perjanjian kerja sama dengan startup peserta sebagai bagian dari model pendampingan berkelanjutan.
Agenda startup berbasis riset memang terdengar menjanjikan, tetapi ukurannya tidak boleh berhenti pada jumlah bootcamp, seremoni kerja sama, atau daftar peserta. Dampaknya baru terlihat jika startup mampu melewati uji pasar, mendapatkan mitra industri, menciptakan penggunaan nyata, dan bertahan setelah pendanaan awal habis.
Karena itu, dorongan hilirisasi riset perlu dibaca sebagai pekerjaan panjang. Pemerintah, kampus, investor, dan industri harus menjaga agar jalur komersialisasi tidak berubah menjadi program seremonial. Jika ekosistemnya kuat, riset kampus bisa bergerak lebih jauh: dari jurnal dan prototipe menuju solusi yang benar-benar dipakai.
sumber: kemdiktisaintek.go.id