
Kuatbaca.com -Fenomena menurunnya jumlah peserta didik baru di sejumlah sekolah dasar negeri (SDN) di berbagai daerah menjadi perhatian Komisi X DPR RI. Dalam beberapa tahun terakhir, terdapat sekolah yang hanya menerima satu hingga beberapa siswa pada awal tahun ajaran, sementara sekolah lain justru mengalami kelebihan pendaftar.
Kondisi tersebut dinilai tidak hanya berkaitan dengan jumlah anak usia sekolah yang terus berubah, tetapi juga mencerminkan tantangan yang lebih luas dalam sistem pendidikan nasional. Ketimpangan jumlah siswa antar sekolah menunjukkan adanya perbedaan daya tarik yang dipengaruhi oleh berbagai faktor, mulai dari kualitas pembelajaran, fasilitas, hingga persepsi masyarakat terhadap mutu sekolah.
Komisi X DPR menilai persoalan ini memerlukan perhatian serius agar tidak menimbulkan kesenjangan yang semakin besar antara sekolah negeri maupun swasta.
1. DPR Minta Pemerintah Cermati Ketimpangan Jumlah Siswa
Ketua Komisi X DPR RI, Hetifah Sjaifudian, meminta pemerintah melakukan evaluasi secara menyeluruh terhadap fenomena sekolah yang kekurangan murid di sejumlah wilayah.
Menurutnya, laporan yang diterima menunjukkan kondisi tersebut memang terjadi di beberapa daerah, meskipun belum menjadi persoalan yang bersifat nasional.
Hetifah Sjaifudian mengatakan:
"Fenomena sejumlah SD negeri yang hanya menerima satu hingga beberapa siswa baru memang menjadi perhatian kami. Dari berbagai laporan yang kami terima, kondisi ini terjadi di sejumlah daerah, meski tidak bersifat nasional."
Ia menilai pemerintah perlu melihat persoalan tersebut secara komprehensif agar solusi yang diambil tidak hanya bersifat jangka pendek.
2. Ada Sekolah Kekurangan Murid, Ada yang Justru Kelebihan Pendaftar
Di sisi lain, Hetifah menyoroti masih adanya sekolah yang menerima pendaftar dalam jumlah sangat besar setiap tahun. Perbedaan tersebut menunjukkan distribusi peserta didik yang belum merata.
Menurutnya, kondisi itu menjadi indikator bahwa masyarakat cenderung memilih sekolah tertentu yang dianggap memiliki kualitas lebih baik dibandingkan sekolah lainnya.
Hetifah mengatakan:
"Di sisi lain, masih banyak sekolah yang justru kelebihan peminat. Ini menunjukkan adanya ketimpangan distribusi peserta didik yang perlu dicermati secara serius."
Ketimpangan tersebut dapat berdampak pada efektivitas pengelolaan sekolah, distribusi guru, hingga pemanfaatan sarana dan prasarana pendidikan.
3. Perubahan Demografi dan Kesenjangan Mutu Jadi Penyebab
Komisi X DPR menilai terdapat sejumlah faktor yang menyebabkan perbedaan jumlah siswa di setiap sekolah. Salah satunya adalah perubahan demografi yang membuat jumlah anak usia sekolah menurun di beberapa wilayah.
Selain itu, kualitas pendidikan juga dinilai menjadi pertimbangan utama masyarakat ketika memilih sekolah untuk anak-anak mereka.
Hetifah menjelaskan:
"Selain adanya perubahan demografi yang membuat jumlah anak usia sekolah mulai menurun di beberapa wilayah, juga terdapat kesenjangan mutu antarsekolah. Masyarakat tentu cenderung memilih sekolah yang dinilai memiliki kualitas pembelajaran, fasilitas, dan prestasi yang lebih baik. Di saat yang sama, banyak sekolah swasta kini semakin kompetitif dengan menawarkan program unggulan dan layanan yang menarik bagi orang tua."
Persaingan antar sekolah, baik negeri maupun swasta, membuat orang tua semakin selektif dalam menentukan tempat pendidikan bagi anak.
4. Pemerataan Kualitas Pendidikan Dinilai Lebih Penting
Menurut Hetifah, persoalan sekolah yang sepi peminat tidak dapat diselesaikan hanya melalui kebijakan penerimaan peserta didik baru.
Ia menilai pemerintah perlu memperkuat kualitas sekolah yang selama ini kurang diminati agar mampu memberikan layanan pendidikan yang setara.
Hetifah mengatakan:
"Pemerintah perlu mempercepat pemerataan kualitas pendidikan, memperkuat sekolah-sekolah yang kurang diminati, serta melakukan perencanaan berbasis data kependudukan dan proyeksi jumlah anak usia sekolah. Dengan demikian, penataan jumlah sekolah, rombongan belajar, distribusi guru, hingga pembangunan satuan pendidikan dapat dilakukan secara lebih tepat sasaran."
Pendekatan berbasis data dinilai penting agar kebijakan pendidikan dapat disusun sesuai kebutuhan di setiap daerah.
5. DPR Ingin Kepercayaan Masyarakat terhadap Semua Sekolah Meningkat
Komisi X DPR RI menegaskan bahwa setiap anak berhak memperoleh pendidikan berkualitas tanpa harus bergantung pada sekolah tertentu.
Karena itu, peningkatan mutu seluruh satuan pendidikan menjadi langkah yang dinilai paling efektif untuk mengurangi ketimpangan jumlah peserta didik.
Hetifah menyampaikan:
"Kepercayaan masyarakat terhadap seluruh satuan pendidikan harus dibangun melalui peningkatan kualitas yang nyata, sehingga tidak terjadi lagi kesenjangan yang terlalu lebar antara sekolah yang sangat diminati dan sekolah yang kekurangan murid."
Dengan kualitas yang lebih merata, masyarakat diharapkan memiliki lebih banyak pilihan sekolah yang sama-sama memberikan layanan pendidikan terbaik.
6. Sejumlah SD Negeri Tetap Semangat Sambut Murid Baru
Fenomena minimnya jumlah siswa baru terlihat di beberapa sekolah dasar negeri di Pulau Jawa. Meski hanya menerima sedikit peserta didik, sekolah tetap berupaya memberikan sambutan terbaik pada hari pertama masuk sekolah.
Di Kota Semarang, misalnya, terdapat SD negeri yang hanya menerima tiga siswa baru. Meski jumlahnya sedikit, sekolah tetap menyelenggarakan kegiatan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) dengan tema khusus untuk menciptakan suasana belajar yang menyenangkan.
Kepala sekolah, Hajar Riatiani, mengatakan:
"Yang mendaftar online ada lima. Tapi dua tidak daftar ulang, jadi yang fix masuk hanya tiga siswa."
Ia menambahkan:
"Berapa pun muridnya, tetap kita sambut dengan meriah. Setiap tahun kita ganti tema. Kali ini temanya sirkus, ada badutnya juga."
Semangat serupa juga terlihat di Kabupaten Boyolali. SDN 2 Cepokosawit hanya menerima satu siswa baru pada tahun ajaran ini. Meski demikian, pihak sekolah tetap berkomitmen memberikan layanan pendidikan secara maksimal.
Guru kelas 1 SDN 2 Cepokosawit, Andiyani Mudrikah, mengatakan:
"Ya awalnya merasa, apa ya, minder ada. Tapi balik lagi, kita harus, seberapa pun muridnya, harus tetap semangat, kita layani sebaik-baiknya."
Ia menambahkan:
"Jadi harus optimal juga untuk mengajarnya."
Sementara itu, kondisi serupa juga terjadi di Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur. Salah satu SD negeri hanya menerima dua siswa baru pada tahun ajaran ini, namun kegiatan belajar tetap dimulai sebagaimana mestinya.