
JAKARTA – Penutupan Sistem Informasi Akademik Next Generation (SIAK-NG) oleh Universitas Indonesia (UI) menjadi akhir dari sebuah era yang telah menemani perjalanan akademik ribuan mahasiswa selama bertahun-tahun. Seiring dimulainya migrasi menuju Student Lifecycle Management (SLCM), banyak alumni mengenang berbagai pengalaman yang pernah mereka alami saat menggunakan sistem tersebut. Mulai dari berburu mata kuliah, menunggu persetujuan Kartu Rencana Studi (KRS), hingga menghadapi server yang melambat saat diakses secara bersamaan menjadi bagian dari cerita yang sulit dilupakan.
Universitas Indonesia resmi menghentikan operasional SIAK-NG sebagai bagian dari transformasi sistem administrasi akademik menuju platform SLCM. Selama bertahun-tahun, SIAK-NG menjadi pusat berbagai layanan akademik mahasiswa, mulai dari pengisian KRS, pengecekan nilai, jadwal kuliah, hingga administrasi lainnya. Migrasi ke sistem baru diharapkan menghadirkan layanan yang lebih modern, terintegrasi, dan mampu menjawab kebutuhan sivitas akademika di era digital.
Banyak alumni mengingat proses pengisian KRS sebagai salah satu momen paling menegangkan selama menjalani perkuliahan. Setiap awal semester, mahasiswa harus memastikan mata kuliah yang diinginkan dapat diambil sesuai jadwal dan kuota yang tersedia. Ketegangan semakin meningkat ketika persetujuan dari dosen pembimbing akademik belum juga diberikan menjelang batas akhir pengisian. Situasi tersebut membuat mahasiswa harus terus memantau sistem sambil berkomunikasi dengan dosen agar proses administrasi dapat selesai tepat waktu.
Salah satu cerita yang paling sering dikenang para alumni adalah kondisi server SIAK-NG yang melambat ketika ribuan mahasiswa mengakses sistem secara bersamaan menjelang penutupan pengisian KRS. Tidak sedikit mahasiswa yang harus berulang kali menyegarkan halaman demi memastikan data tersimpan dengan benar. Kondisi tersebut kerap memunculkan rasa cemas karena keterlambatan proses administrasi dapat memengaruhi keikutsertaan mahasiswa dalam perkuliahan pada semester berikutnya.
Selain persoalan teknis, alumni juga mengenang tampilan antarmuka SIAK-NG yang relatif sederhana dan nyaris tidak mengalami perubahan selama bertahun-tahun. Bagi sebagian lulusan UI, desain tersebut justru menjadi ciri khas yang mudah dikenali dan membangkitkan nostalgia setiap kali muncul kembali di media sosial. Meski tampil sederhana, sistem tersebut telah menjadi bagian penting dalam perjalanan akademik berbagai generasi mahasiswa Universitas Indonesia.
Dengan berakhirnya penggunaan SIAK-NG, Universitas Indonesia kini memasuki babak baru melalui implementasi Student Lifecycle Management (SLCM). Sistem baru ini diharapkan mampu menghadirkan layanan akademik yang lebih cepat, stabil, dan terintegrasi sehingga berbagai proses administrasi dapat dilakukan dengan lebih efisien. Bagi para alumni, SIAK-NG mungkin telah menjadi kenangan, namun bagi mahasiswa saat ini, SLCM diharapkan menjadi fondasi baru yang mendukung pengalaman belajar yang lebih nyaman dan sesuai dengan perkembangan teknologi digital.