
1. Tim Ekspedisi Patriot Unair Latih Remaja Menjadi Konselor Sebaya
Remaja di kawasan transmigrasi Prafi, Kabupaten Manokwari, Papua Barat, mendapatkan pembekalan keterampilan untuk menghadapi persoalan pergaulan dan membantu teman sebaya yang sedang mengalami masalah. Program tersebut dilaksanakan oleh Tim 4 Ekspedisi Patriot Universitas Airlangga (Unair) melalui Pelatihan Kader Remaja yang melibatkan siswa dari tiga sekolah di Distrik Prafi. Para peserta dibekali pengetahuan dasar untuk mengenali tanda-tanda ketika teman membutuhkan bantuan, membangun komunikasi yang baik, serta memahami pentingnya mengendalikan emosi sebelum mengambil keputusan. Kehadiran konselor sebaya diharapkan menjadi langkah awal untuk menciptakan lingkungan sekolah yang lebih terbuka dan mendukung kesehatan emosional remaja. Melalui pendekatan ini, siswa dapat memiliki teman bicara yang lebih dekat dengan keseharian mereka sebelum persoalan yang dihadapi diteruskan kepada guru pendamping atau tenaga kesehatan. Program tersebut juga menjadi bagian dari upaya meningkatkan kepercayaan diri generasi muda di kawasan transmigrasi agar mampu mengambil peran positif dalam lingkungan sekolah maupun masyarakat.
2. Pelatihan Mengajarkan Siswa Mengenali Emosi dan Berpikir Sebelum Bertindak
Salah satu materi utama dalam pelatihan kader remaja adalah kemampuan mengenali emosi dan memahami cara merespons situasi secara tepat. Keterampilan ini penting karena masa remaja merupakan periode ketika siswa menghadapi berbagai perubahan, tekanan pergaulan, serta tantangan dalam membangun hubungan sosial. Dengan memahami emosi yang muncul, remaja diharapkan dapat mempertimbangkan konsekuensi dari tindakan mereka dan tidak terburu-buru mengambil keputusan ketika sedang marah, kecewa, atau mengalami konflik. Materi yang diberikan juga mencakup cara membangun rasa percaya diri, berpikir kritis, serta mendekati teman yang terlihat membutuhkan dukungan. Sadiqah Adzana Islami, siswa kelas 9C SMP Negeri 8 Prafi yang mengikuti program tersebut, mengaku memperoleh banyak pengetahuan baru mengenai pengelolaan emosi. Ia pun berencana menyusun kegiatan bersama teman-temannya untuk membantu remaja lain belajar mengendalikan perasaan dan mempertimbangkan tindakan sebelum bertindak. Harapannya, keterampilan tersebut dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, baik saat berinteraksi dengan teman, menghadapi perbedaan pendapat, maupun menyelesaikan persoalan di sekolah.
3. Konselor Sebaya Menjadi Penghubung bagi Siswa yang Membutuhkan Bantuan
Konselor sebaya memiliki peran penting dalam menciptakan ruang komunikasi yang nyaman bagi para siswa. Kedekatan usia dan pengalaman sehari-hari dapat membuat seorang remaja lebih mudah memulai percakapan dengan teman dibandingkan langsung menyampaikan persoalannya kepada orang dewasa. Dalam pelatihan di Prafi, peserta dibekali kemampuan mengenali tanda-tanda teman yang membutuhkan bantuan serta cara mendekati mereka dengan sikap yang positif. Meski demikian, konselor sebaya bukan pengganti guru bimbingan konseling, psikolog, atau tenaga kesehatan profesional. Peran mereka lebih diarahkan untuk menjadi pendengar awal, memberikan dukungan dasar, dan membantu menghubungkan teman dengan orang dewasa tepercaya apabila masalah yang dihadapi membutuhkan penanganan lebih lanjut. Pendekatan tersebut juga perlu disertai pemahaman mengenai privasi dan batas kemampuan seorang teman dalam membantu. Dengan pendampingan yang tepat, organisasi konselor sebaya dapat menjadi salah satu sarana untuk memperkuat kepedulian antarsiswa, mendorong keberanian meminta pertolongan, serta mengurangi kemungkinan masalah pribadi berkembang tanpa dukungan yang memadai.
4. Guru Menilai Program Konselor Sebaya Membantu Menghadapi Tantangan Pergaulan Remaja
Pihak sekolah menyambut baik pelatihan yang digagas Tim 4 Ekspedisi Patriot Unair karena dinilai dapat mendukung pembinaan karakter dan perilaku siswa. Guru SMP Negeri 8 Prafi, Riyanto, menilai kegiatan tersebut memberikan tambahan wawasan bagi sekolah dalam mendampingi remaja menghadapi berbagai persoalan pergaulan. Menurutnya, pembinaan siswa tidak cukup hanya dilakukan melalui penyampaian aturan dan larangan, tetapi juga perlu dibarengi pemahaman mengenai cara membangun hubungan sosial yang sehat. Melalui kegiatan konselor sebaya, siswa didorong untuk melakukan aktivitas yang positif, saling mendukung, serta lebih terbuka dalam menghadapi persoalan. Program ini juga dapat membantu guru memahami kebutuhan pendampingan siswa melalui komunikasi yang lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari mereka. Keberadaan kader remaja diharapkan menjadi mitra bagi sekolah dalam menumbuhkan kepedulian, tanggung jawab, dan kebiasaan menyelesaikan konflik secara lebih bijaksana. Agar manfaatnya berkelanjutan, organisasi konselor sebaya perlu mendapat arahan dari guru pendamping serta memiliki jalur rujukan yang jelas apabila menemukan masalah serius yang tidak dapat ditangani sendiri oleh siswa.
5. Tiga Sekolah di Prafi Bentuk Organisasi Konselor Sebaya untuk Pemberdayaan Remaja
Ketua Tim 4 Ekspedisi Patriot Unair, Prof. Endang Retno Surjaningrum, menjelaskan bahwa pelatihan tersebut berangkat dari temuan lapangan mengenai rendahnya rasa percaya diri yang dapat dialami sebagian remaja di kawasan transmigrasi. Karena itu, pembekalan tidak hanya berfokus pada kemampuan membantu teman, tetapi juga mendorong siswa mengenali potensi diri dan mengembangkan cara berpikir yang lebih kritis. Pendekatan pembelajaran dirancang dengan bahasa positif agar siswa memahami alasan di balik perilaku yang diharapkan, bukan sekadar mengikuti aturan karena takut mendapat teguran. Generasi muda diharapkan dapat tumbuh menjadi individu yang kreatif, percaya diri, dan mampu berkontribusi terhadap perkembangan wilayahnya. Setelah pelatihan berlangsung, tiga sekolah yang menjadi sasaran program telah membentuk organisasi konselor sebaya masing-masing dengan dukungan guru pendamping. Pembentukan organisasi ini menjadi langkah awal agar materi yang diperoleh tidak berhenti setelah kegiatan selesai. Dengan pendampingan berkelanjutan, konselor sebaya diharapkan mampu membangun budaya saling mendukung di sekolah sekaligus memperkuat peran remaja sebagai penggerak kegiatan positif di kawasan transmigrasi Prafi, Manokwari, Papua Barat.