
Kuatbaca.com - Sistem pendidikan di Sekolah Nasional Terintegrasi (SNT) memiliki mekanisme berbeda dibandingkan sekolah negeri pada umumnya. Salah satu kebijakan yang menjadi perhatian adalah siswa yang menyelesaikan pendidikan SMP di SNT dapat langsung melanjutkan ke jenjang SMA di sekolah yang sama tanpa harus mengikuti proses seleksi ulang.
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu'ti menjelaskan kebijakan tersebut merupakan konsekuensi dari konsep SNT yang mengintegrasikan jenjang SMP dan SMA dalam satu sistem pendidikan. Dengan demikian, siswa yang telah diterima dan menyelesaikan pendidikan SMP di SNT tidak perlu kembali bersaing dengan calon peserta didik baru ketika hendak masuk SMA.
"Tapi untuk yang SMP, lulusan SMP SNT karena terintegrasi, dia otomatis bisa diterima di SMA (SNT tersebut). Jadi tidak pakai seleksi lagi, makanya kita sebut terintegrasi," kata Mu'ti saat ditemui usai MPLS SNT 7 Bogor, Jawa Barat, Senin (10/8/2026).
Kebijakan ini sekaligus memberikan kesinambungan pendidikan bagi peserta didik selama berada di lingkungan SNT. Setelah menyelesaikan SMP, siswa dapat meneruskan pendidikan ke tingkat SMA dengan sistem yang masih berada dalam satu ekosistem sekolah.
1. Konsep SNT Dirancang untuk Menjaga Kesinambungan Pendidikan
Keberadaan SNT tidak hanya diarahkan untuk menyediakan pendidikan pada tingkat SMP dan SMA, tetapi juga membangun jalur pembelajaran yang berkesinambungan. Siswa yang telah masuk sejak jenjang SMP diharapkan memperoleh proses pendidikan yang terarah hingga menyelesaikan SMA.
Pemerintah berharap lulusan SNT nantinya tidak berhenti pada pendidikan menengah. Para siswa didorong untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi sehingga kemampuan akademik maupun nonakademik yang telah dikembangkan selama berada di SNT dapat diteruskan ke jenjang berikutnya.
"Lulusannya nanti harapannya tentu kalau mereka sudah selesai dari Sekolah Nasional Terintegrasi ini dapat melanjutkan ke jenjang perguruan tinggi lebih baik," katanya.
Dengan model tersebut, SNT diharapkan menjadi salah satu wadah untuk mempersiapkan peserta didik dengan kemampuan akademik, karakter, serta kompetensi lain yang dibutuhkan untuk melanjutkan pendidikan tinggi.
2. Penerimaan Siswa SNT Tetap Menggunakan Seleksi Ketat
Meskipun siswa SMP yang sudah berada di dalam sistem SNT dapat langsung melanjutkan ke SMA, proses untuk masuk ke SNT sejak awal tetap tidak mudah. Pemerintah menerapkan seleksi untuk memastikan peserta didik yang diterima sesuai dengan karakteristik dan tujuan pendidikan sekolah tersebut.
Jumlah peserta didik juga sengaja dibatasi. Pada angkatan pertama, setiap SNT hanya menerima total 80 siswa, yang terdiri dari 40 peserta didik SMP dan 40 peserta didik SMA.
"Kemudian muridnya, kita memang batasi karena menjaga mutu. Maka untuk angkatan pertama ini, jenjang SMP itu kita hanya menerima 40 murid. Kemudian untuk SMA juga kita hanya menerima 40 murid. Jadi jumlahnya hanya 80 murid di masing-masing SNT," kata Mendikdasmen.
Pembatasan jumlah siswa tersebut ditujukan untuk menjaga kualitas proses pembelajaran. Dengan jumlah peserta didik yang relatif sedikit, sekolah diharapkan dapat memberikan pendampingan yang lebih terarah kepada setiap siswa.
3. Seleksi SNT Menggunakan Tes Skolastik
Untuk memperoleh peserta didik yang sesuai dengan sasaran program, SNT menggunakan tes skolastik sebagai bagian dari proses penerimaan. Seleksi tersebut diarahkan untuk melihat kemampuan calon siswa, baik dari sisi akademik maupun potensi lainnya.
Mu'ti menyebut peserta didik yang dicari bukan hanya mereka yang memiliki nilai akademik tinggi, tetapi juga anak-anak yang mempunyai kemampuan di atas rata-rata dalam berbagai bidang.
"Jadi tes yang kita pakai adalah tes skolastik yang itu menjadi satu kesatuan dalam seleksi murid di Sekolah Nasional Terintegrasi ini. Jadi fokusnya memang untuk murid yang punya kemampuan di atas rata-rata, baik secara akademik maupun non-akademik," kata Mu'ti.
Pada penerimaan tahun ajaran 2026-2027, antusiasme terhadap SNT terlihat dari jumlah pendaftar. Sebanyak 2.068 calon siswa mengikuti proses penerimaan untuk 17 SNT yang tersebar di sejumlah wilayah Indonesia.
Dari ribuan pendaftar tersebut, hanya 1.360 peserta didik yang dinyatakan diterima. Jumlah itu terbagi secara proporsional menjadi 680 siswa SMP dan 680 siswa SMA.
"Dari yang mendaftar 2.068, telah lulus 1.360 untuk anak-anak kita di 17 lokasi ini. Terdiri dari 680 murid SMP dan 680 murid SMA. Adik-adik ini adalah angkatan pertama SNT tahun 2026-2027," ujar Direktur Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Nonformal dan Informal Kemendikdasmen Gogot Suharwoto.
4. Bukan Hanya Siswa, Guru dan Kepala Sekolah Juga Diseleksi
Seleksi ketat dalam pembangunan SNT ternyata tidak hanya diterapkan kepada calon siswa. Pemerintah juga melakukan proses penyaringan terhadap tenaga pendidik dan kepala sekolah yang akan bertugas di lingkungan SNT.
Langkah tersebut dilakukan karena kualitas sekolah tidak hanya bergantung pada fasilitas maupun karakteristik peserta didik. Guru dan pimpinan sekolah juga memiliki peran penting dalam menciptakan lingkungan belajar yang sesuai dengan tujuan SNT.
Untuk posisi kepala sekolah, jumlah pendaftar mencapai 1.800 orang. Dari jumlah tersebut, hanya 17 orang yang dipilih untuk memimpin SNT.
"Kami telah menyeleksi 17 Kepala Sekolah dari 1.800 pendaftar di seluruh Indonesia. Jadi kepala sekolah yang terpilih di SNT Bogor adalah kepala sekolah pilihan," kata Gogot.
Sementara itu, proses seleksi guru juga berlangsung dengan tingkat persaingan yang tinggi. Pemerintah melakukan penyaringan terhadap puluhan ribu lulusan Pendidikan Profesi Guru (PPG) Prajabatan sebelum menentukan tenaga pendidik yang akan ditempatkan di SNT.
5. SNT Berbeda dari Sekolah Rakyat dan Sekolah Unggulan Garuda
Masyarakat juga perlu memahami bahwa SNT memiliki konsep yang berbeda dari beberapa program sekolah unggulan pemerintah lainnya. Salah satu perbedaan utama adalah SNT tidak menerapkan sistem pendidikan berasrama.
Peserta didik tetap tinggal bersama keluarga dan mengikuti pembelajaran di sekolah. Penempatan SNT di berbagai kota juga menjadi bagian dari strategi agar siswa tidak harus tinggal jauh dari lingkungan keluarga.
"Kemudian jenjangnya juga sesuai arahan beliau yang terakhir itu hanya untuk SMP dan SMA. Mereka tidak berasrama. Sehingga yang diharapkan kenapa satu kota? Supaya mereka tidak jauh tinggalnya dan supaya setiap satu daerah atau kota ada sekolah yang unggul," katanya.
Model nonasrama ini membuat SNT memiliki karakter tersendiri. Pemerintah berupaya menghadirkan sekolah berkualitas di berbagai daerah tanpa harus membuat peserta didik tinggal di lingkungan sekolah sepanjang masa pendidikan.