
Peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) Kemerdekaan Republik Indonesia ke-81 di Desa Sukamulya, Kecamatan Singaparna, Kabupaten Tasikmalaya, berlangsung meriah dan penuh nuansa kebersamaan. Warga dari berbagai kalangan ikut terlibat dalam rangkaian kegiatan yang tidak hanya menghadirkan hiburan, tetapi juga membawa pesan sosial dan edukasi bagi generasi muda. Momentum kemerdekaan tahun ini dimanfaatkan masyarakat untuk mempererat hubungan antarwarga sekaligus menghadirkan ruang bagi anak-anak untuk bermain, berkarya, dan berinteraksi secara langsung. Berbagai kegiatan dirancang agar perayaan Agustus tidak sekadar menjadi agenda seremonial, tetapi meninggalkan pengalaman yang berkesan bagi anak-anak serta dapat dikenang oleh generasi berikutnya. Antusiasme warga terlihat sejak kegiatan pembukaan hingga berbagai acara yang melibatkan anak-anak, pemuda, tokoh masyarakat, dan pemerintah desa.
Rangkaian perayaan HUT RI ke-81 di Desa Sukamulya diawali dengan kegiatan peresmian sejumlah fasilitas masyarakat. Camat Singaparna Tono Haeruman bersama Kepala Desa Sukamulya Anzil Hidayat melakukan prosesi pemotongan pita sebagai tanda dimulainya rangkaian kegiatan. Dalam kesempatan tersebut, gapura Legok Oncom RW 03 dan pos ronda baru secara resmi diperkenalkan kepada masyarakat. Kehadiran fasilitas tersebut diharapkan dapat memperkuat identitas lingkungan sekaligus mendukung aktivitas warga, khususnya dalam menjaga keamanan dan meningkatkan interaksi sosial. Selain peresmian fasilitas lingkungan, acara pembukaan juga ditandai dengan dimulainya turnamen Tok Tak yang diikuti peserta dari sejumlah kecamatan. Peserta berasal dari Singaparna, Padakembang, Sukarame, Cigalontong, Mangunreja, hingga Leuwisari. Keterlibatan peserta dari berbagai wilayah membuat perayaan kemerdekaan di Sukamulya tidak hanya menjadi kegiatan internal desa, tetapi juga menjadi ruang pertemuan dan silaturahmi antarwarga.
Kemasan kegiatan HUT RI di Sukamulya semakin menarik dengan hadirnya berbagai pertunjukan dan aktivitas yang melibatkan anak-anak. Warga dapat menyaksikan pertunjukan adat, pentas seni tari anak, hingga pameran karya mewarnai yang menampilkan kreativitas generasi muda Desa Sukamulya. Kegiatan tersebut memberikan kesempatan kepada anak-anak untuk tampil di depan masyarakat sekaligus meningkatkan keberanian dan rasa percaya diri. Selain pertunjukan seni, panitia juga menghidupkan kembali permainan tradisional seperti pecle atau engklek. Permainan yang dahulu menjadi bagian dari keseharian anak-anak tersebut sengaja dihadirkan kembali sebagai alternatif aktivitas di tengah semakin kuatnya penggunaan perangkat digital. Permainan tradisional dianggap mampu menciptakan interaksi langsung karena anak-anak harus bertemu, berkomunikasi, bergerak, dan bekerja sama dengan teman-temannya. Suasana bermain bersama juga dapat melahirkan pengalaman yang lebih berkesan karena anak-anak memiliki cerita yang dapat mereka bagikan kepada keluarga dan generasi berikutnya.
Di balik kemeriahan peringatan kemerdekaan, terdapat pesan khusus yang ingin disampaikan penyelenggara kepada masyarakat, terutama terkait penggunaan gadget di kalangan anak-anak. Tokoh muda sekaligus penggagas kegiatan, Selamet Firdaus, menempatkan pembentukan karakter generasi penerus sebagai salah satu fokus utama acara. Anak-anak dinilai perlu mendapatkan pengalaman positif sejak usia dini karena lingkungan dan kebiasaan di sekitar mereka turut memengaruhi perkembangan karakter. Penggunaan gadget secara berlebihan menjadi salah satu tantangan yang semakin sering dihadapi keluarga. Karena itu, kegiatan seperti permainan tradisional, olahraga, seni, dan aktivitas bersama dapat menjadi pilihan untuk mendorong anak kembali aktif berinteraksi dengan lingkungan. Pesan yang muncul dari kegiatan tersebut bukan berarti teknologi harus dijauhkan sepenuhnya dari anak, melainkan penggunaan gawai perlu diimbangi dengan aktivitas fisik, komunikasi tatap muka, kreativitas, dan kehidupan sosial yang sehat. Peran orang tua, keluarga, sekolah, serta lingkungan masyarakat menjadi penting untuk menciptakan pola tumbuh kembang yang seimbang.
Kesuksesan rangkaian HUT RI ke-81 di Desa Sukamulya tidak terlepas dari keterlibatan berbagai elemen masyarakat, khususnya kalangan pemuda. Sejumlah tokoh dan penggerak lokal ikut mengambil peran dalam merancang serta menjalankan kegiatan, di antaranya Ujang Rahmat atau A Opan, Fuad Noor sebagai konseptor gapura Legok Oncom, serta Mamat Mulyadi dan Firza sebagai bagian dari pelaksana kegiatan. Kolaborasi tersebut menunjukkan bahwa semangat kemerdekaan dapat diwujudkan melalui kegiatan nyata yang dekat dengan kehidupan masyarakat. Dukungan warga juga menjadi faktor penting sehingga berbagai agenda dapat berlangsung dengan suasana yang hangat dan meriah. Lebih dari sekadar lomba dan hiburan Agustusan, kegiatan di Sukamulya menjadi sarana memperkuat gotong royong, menjaga tradisi, serta menciptakan ruang tumbuh bagi anak-anak. Semangat tersebut menjadi pengingat bahwa menjaga generasi penerus bukan hanya tanggung jawab keluarga, tetapi juga membutuhkan dukungan lingkungan sekitar. Dengan kebersamaan, permainan tradisional, kegiatan seni, dan interaksi sosial, perayaan HUT RI ke-81 di Sukamulya berhasil membawa pesan bahwa kemerdekaan juga dapat dirayakan dengan membangun generasi yang aktif, kreatif, dan tidak sepenuhnya bergantung pada gadget.