
Kuatbaca - Ribuan pencari kerja memadati kegiatan bursa kerja yang digelar di GOR Ciracas, Jakarta Timur. Di antara lautan pelamar yang membawa map berisi dokumen lamaran, terdapat sosok perempuan yang menarik perhatian karena perjuangannya yang tidak biasa.
Apni Nelya, yang akrab disapa Evi, datang dengan membawa harapan sederhana namun sangat berarti. Perempuan berusia 37 tahun itu berjalan perlahan menggunakan tongkat untuk membantu setiap langkahnya. Di tangan kirinya tergenggam map berisi berkas lamaran kerja, sementara di sampingnya, putra semata wayangnya yang masih berusia enam tahun setia menemani.
Bagi sebagian orang, menghadiri job fair mungkin hanya menjadi rutinitas mencari peluang kerja. Namun bagi Evi, kehadirannya di lokasi tersebut merupakan usaha besar untuk mengubah kondisi hidup yang selama beberapa tahun terakhir dipenuhi berbagai cobaan.
Ia tidak datang dengan target pekerjaan bergaji tinggi ataupun posisi bergengsi. Yang diinginkannya hanyalah kesempatan untuk kembali bekerja agar dapat memenuhi kebutuhan dasar keluarganya dan memberikan kehidupan yang lebih baik bagi anaknya.
Beberapa tahun lalu, kehidupan Evi berjalan seperti kebanyakan pekerja lainnya. Ia pernah bekerja sebagai helper di sebuah perusahaan garmen di wilayah Depok, Jawa Barat. Saat itu, ia masih mampu menjalankan aktivitas sehari-hari dan memperoleh penghasilan untuk membantu memenuhi kebutuhan keluarga.
Namun, keadaan berubah ketika ia didiagnosis mengidap penyakit autoimun. Gangguan kesehatan tersebut perlahan memengaruhi kondisi fisiknya hingga aktivitas yang sebelumnya terasa biasa menjadi jauh lebih berat.
Seiring berjalannya waktu, kemampuan Evi untuk bekerja terus menurun. Kondisi kesehatannya membuat ia harus menjalani pengobatan secara rutin dan akhirnya terpaksa meninggalkan pekerjaannya.
Penyakit autoimun tidak hanya berdampak pada kesehatan, tetapi juga memengaruhi kondisi ekonomi keluarganya. Kehilangan pekerjaan berarti kehilangan sumber penghasilan utama, sementara kebutuhan hidup tetap harus dipenuhi setiap hari.
Cobaan yang dialami Evi tidak berhenti pada persoalan kesehatan. Dua tahun lalu, rumah tangganya berakhir sehingga ia harus membesarkan anaknya seorang diri.
Sejak saat itu, tanggung jawab sebagai pencari nafkah sekaligus orang tua sepenuhnya berada di pundaknya. Tanpa pekerjaan tetap, memenuhi kebutuhan sehari-hari menjadi tantangan yang tidak mudah.
Untuk bertahan hidup, Evi mengandalkan bantuan dari berbagai pihak. Uluran tangan para tetangga, yayasan sosial, hingga para dermawan menjadi penopang kehidupan sehari-harinya.
Meski demikian, ia tidak ingin terus bergantung pada belas kasih orang lain. Baginya, bekerja kembali merupakan jalan terbaik untuk memperoleh penghasilan yang lebih pasti sekaligus menjaga harga diri sebagai seorang ibu yang ingin mandiri.
Kesulitan ekonomi yang berkepanjangan membuat Evi dan putranya kehilangan tempat tinggal tetap. Selama kurang lebih empat bulan terakhir, mereka harus berpindah-pindah tempat untuk bermalam.
Dalam kondisi tertentu, masjid menjadi tempat beristirahat yang memberikan perlindungan sementara. Kehidupan berpindah-pindah tentu bukan situasi yang mudah, terlebih bagi seorang anak yang masih berada dalam usia sekolah.
Di tengah keterbatasan tersebut, Evi tetap berusaha menjaga semangat anaknya. Ia ingin putranya tetap memiliki kesempatan memperoleh pendidikan yang layak meski kondisi keluarga sedang mengalami masa sulit.
Baginya, pendidikan merupakan bekal penting agar sang anak kelak memiliki masa depan yang lebih baik daripada yang sedang mereka alami saat ini.
Keikutsertaan dalam bursa kerja menjadi salah satu upaya nyata yang dilakukan Evi untuk mengubah nasib. Dengan membawa dokumen lamaran, ia mendatangi sejumlah stan perusahaan yang membuka lowongan pekerjaan.
Meski kondisi kesehatannya membatasi aktivitas fisik, hal itu tidak mengurangi tekadnya untuk mencari peluang. Setiap langkah yang ditempuh menggunakan tongkat menjadi gambaran perjuangan seorang ibu yang tidak ingin menyerah pada keadaan.
Bursa kerja sendiri menjadi salah satu sarana yang mempertemukan perusahaan dengan para pencari kerja. Kegiatan seperti ini memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk melamar pekerjaan secara langsung, berkonsultasi dengan perekrut, hingga memperoleh informasi mengenai kebutuhan tenaga kerja dari berbagai sektor.
Bagi Evi, kesempatan tersebut menjadi harapan baru setelah cukup lama berada di luar dunia kerja akibat kondisi kesehatan dan persoalan keluarga.
Perjalanan hidup Evi mencerminkan bahwa tantangan ekonomi sering kali datang bersamaan dengan persoalan kesehatan dan keluarga. Meski menghadapi berbagai keterbatasan, ia memilih untuk terus berusaha daripada menyerah pada keadaan.
Kisahnya juga menggambarkan bahwa di balik angka-angka statistik mengenai pengangguran, terdapat cerita perjuangan setiap individu dengan latar belakang yang berbeda-beda. Ada yang kehilangan pekerjaan karena kondisi ekonomi, ada pula yang terpaksa berhenti bekerja akibat masalah kesehatan seperti yang dialami Evi.
Dengan tetap menghadiri bursa kerja, Evi menunjukkan bahwa harapan selalu ada selama seseorang terus berusaha. Ia berharap dapat memperoleh pekerjaan yang sesuai dengan kondisi fisiknya sehingga mampu membiayai kebutuhan sehari-hari, menyediakan tempat tinggal yang layak, dan memastikan putranya tetap bisa melanjutkan pendidikan.
Perjuangan Evi menjadi potret keteguhan seorang ibu yang terus melangkah meski hidup menghadirkan banyak ujian. Berbekal sebuah map berisi lamaran kerja dan tongkat sebagai penopang langkah, ia membuktikan bahwa semangat untuk bangkit tidak pernah padam. Harapan sederhana untuk mendapatkan pekerjaan menjadi alasan utama baginya untuk terus berjuang demi masa depan sang anak dan kehidupan yang lebih baik.