
JAKARTA - Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda sejumlah wilayah Kalimantan tidak hanya mengganggu aktivitas masyarakat. Kabut asap yang menyelimuti permukiman dan jalan raya juga membawa ancaman terhadap kesehatan, terutama ketika kualitas udara memburuk dan jarak pandang menurun drastis.
Dampak asap bahkan dirasakan warga yang tinggal jauh dari lokasi titik api. Di Banjarmasin, misalnya, sejumlah warga mengeluhkan mata perih dan sesak napas setelah beberapa hari terpapar udara bercampur asap.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa persoalan karhutla tidak berhenti ketika api berada di suatu wilayah. Asap yang terbawa angin dapat menyebar ke daerah lain dan meningkatkan risiko kesehatan masyarakat.
Berikut sejumlah risiko kesehatan yang perlu diperhatikan di tengah kabut asap karhutla Kalimantan.
Kabut asap karhutla telah mengganggu kenyamanan warga di sejumlah wilayah Kalimantan Selatan.
Rudi, warga Banjarmasin, mengeluhkan sesak napas setelah selama beberapa hari menghirup udara yang bercampur asap. Keluhan tersebut dirasakan sejak pagi ketika ia mulai beraktivitas.
Selain gangguan pernapasan, paparan asap juga membuat matanya terasa perih. Kondisi tersebut semakin terasa ketika ia harus mengendarai sepeda motor menuju tempat kerja.
Banjarmasin sendiri bukan menjadi wilayah utama dengan titik api terbanyak. Namun, asap dari wilayah sekitar dapat terbawa angin dan memengaruhi kualitas udara di daerah yang berada di sekitarnya.
Hal ini menunjukkan bahwa dampak karhutla dapat meluas melewati lokasi kebakaran dan dirasakan oleh masyarakat yang tidak berada tepat di sekitar titik api.
Dampak kabut asap juga terlihat dari menurunnya jarak pandang di sejumlah kawasan Banjarbaru, Kalimantan Selatan.
Salah satu lokasi yang terdampak berada di kawasan Pengayuan, Jalan Jurusan Pelaihari, Liang Anggang. Kabut asap membuat jarak pandang di jalan tersebut dilaporkan hanya sekitar 5 hingga 10 meter.
Kondisi seperti ini meningkatkan risiko kecelakaan lalu lintas. Pengendara yang melintas harus mengurangi kecepatan dan meningkatkan kewaspadaan karena kendaraan maupun objek lain di depan menjadi sulit terlihat.
Sejumlah warga bahkan memilih menghindari kawasan dengan kabut asap pekat. Mereka rela menempuh rute yang lebih jauh demi mengurangi paparan asap sekaligus menjaga keselamatan selama perjalanan.
Bagi pengendara sepeda motor, paparan asap juga dapat terasa lebih kuat karena mereka berada langsung di ruang terbuka selama perjalanan.
Ahli Kesehatan Masyarakat dan Lingkungan dari Griffith University Australia, Dicky Budiman, menjelaskan bahwa penurunan jarak pandang akibat kabut asap perlu mendapat perhatian serius.
Menurut dia, jarak pandang yang semakin pendek dapat menjadi indikator kondisi udara yang buruk. Kabut yang sangat pekat mengindikasikan tingginya konsentrasi partikel polutan seperti PM2.5 dan PM10 di udara.
Partikel berukuran sangat kecil tersebut dapat masuk ke sistem pernapasan ketika seseorang menghirup udara yang tercemar.
Dalam situasi karhutla, masyarakat tidak seharusnya hanya mengandalkan angka indeks kualitas udara. Kondisi yang terlihat secara langsung, seperti asap semakin pekat dan jarak pandang menurun, juga menjadi tanda bahwa aktivitas di luar ruangan perlu dipertimbangkan kembali.
Terlebih ketika masyarakat mulai mengalami gejala seperti mata perih, batuk, tenggorokan terasa tidak nyaman, atau sesak napas.
Paparan asap karhutla dapat menimbulkan risiko kesehatan dengan tingkat dan durasi yang berbeda.
Dicky membagi risiko tersebut menjadi risiko akut dan risiko subakut hingga kronis. Risiko akut dapat muncul setelah seseorang terpapar kabut asap dalam waktu relatif singkat, mulai dari hitungan jam hingga sekitar satu minggu.
Gangguan yang dapat muncul antara lain keluhan pada saluran pernapasan, iritasi mata, serta memburuknya kondisi pada orang yang sebelumnya memiliki gangguan pernapasan.
Sementara itu, paparan yang berlangsung lebih lama dapat menimbulkan risiko yang lebih serius. Paparan berulang selama berbulan-bulan hingga bertahun-tahun dapat memberikan dampak kesehatan yang berbeda dibandingkan paparan singkat.
Karena itu, persoalan kabut asap tidak semestinya hanya dilihat sebagai gangguan sementara terhadap jarak pandang atau aktivitas masyarakat.
Ketika kabut asap semakin tebal dan kualitas udara memburuk, masyarakat perlu mengurangi aktivitas di luar ruangan, terutama kegiatan yang tidak mendesak.
Penggunaan masker yang sesuai juga dapat menjadi salah satu langkah untuk mengurangi paparan partikel di udara. Masyarakat juga perlu memperhatikan kondisi kelompok yang lebih rentan terhadap polusi udara, termasuk anak-anak, lansia, serta orang dengan gangguan pernapasan.
Pengendara yang harus melintasi kawasan berkabut juga perlu memperhatikan keselamatan. Kecepatan kendaraan sebaiknya disesuaikan dengan jarak pandang dan kondisi jalan.
Apabila muncul keluhan kesehatan yang berat atau terus memburuk, masyarakat sebaiknya mencari pertolongan medis.
Kabut asap karhutla pada akhirnya bukan hanya persoalan lingkungan. Ketika asap menyebar ke permukiman, mengurangi jarak pandang, dan menyebabkan warga mengalami gangguan pernapasan, dampaknya telah berubah menjadi persoalan kesehatan masyarakat.
Karena itu, penanganan karhutla perlu dilakukan secara cepat dan menyeluruh, tidak hanya untuk memadamkan api, tetapi juga untuk melindungi masyarakat dari paparan asap yang dapat berlangsung selama kebakaran maupun setelahnya.