
Kuatbaca.com-Operasional penerbangan komersial di Bandara Sultan Thaha Jambi mengalami gangguan signifikan akibat kepungan kabut asap tebal yang dipicu oleh kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di wilayah sekitar. Partikel asap pekat yang menyelimuti area landasan pacu (runway) memangkas jarak pandang mendatar (visibility) hingga berada jauh di bawah ambang batas minimum standar keselamatan penerbangan sipil. Kondisi cuaca buruk tersebut memaksa otoritas penerbangan dan pihak maskapai mengambil langkah darurat demi memprioritaskan keamanan serta keselamatan seluruh penumpang dan awak pesawat.
Dampak dari keterbatasan jarak pandang tersebut menyebabkan dua penerbangan komersial dari maskapai Batik Air dan Super Air Jet gagal mendarat di landasan Bandara Sultan Thaha sesuai jadwal. Pilot memutuskan untuk melakukan pengalihan pendaratan (divert) ke bandara alternatif terdekat, seperti Bandara Internasional Sultan Mahmud Badaruddin II di Palembang, setelah sempat berputar-putar di ruang udara (holding) menunggu kondisi cuaca membaik. Penundaan dan pengalihan ini memicu efek domino terhadap jadwal keberangkatan berikutnya, mengakibatkan penumpukan ratusan penumpang di ruang tunggu terminal keberangkatan bandara.
Manajemen pengelola Bandara Sultan Thaha bersama AirNav Indonesia terus memantau pergerakan kualitas udara dan jarak pandang secara real-time berkoordinasi dengan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). Bagi para calon penumpang yang terdampak keterlambatan maupun pembatalan jadwal, pihak maskapai penerbangan menyediakan kompensasi sesuai regulasi penerbangan, termasuk fasilitas penjadwalan ulang tiket (reschedule), pembatalan dengan pengembalian dana penuh (refund), hingga penyediaan konsumsi ringan di area tunggu bandara.
Gangguan terhadap aksesibilitas transportasi udara di Provinsi Jambi ini kian mempertegas urgensi penanganan karhutla secara cepat, masif, dan menyeluruh oleh tim satuan tugas darurat gabungan. Asap kebakaran lahan gambut tidak hanya mengancam kesehatan saluran pernapasan masyarakat di darat, melainkan juga melumpuhkan urat nadi konektivitas logistik dan mobilitas orang antarwilayah. Pemerintah daerah dan aparat penegak hukum didesak untuk terus mengoptimalkan pemadaman titik api serta menindak tegas para pelaku pembakaran lahan agar ruang udara Jambi kembali bersih dan aman bagi navigasi penerbangan.