
Kuatbaca.com - Gempa bumi yang mengguncang wilayah Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), menimbulkan dampak terhadap sejumlah infrastruktur transportasi. Beberapa bandara dan pelabuhan di wilayah terdampak dilaporkan mengalami kerusakan dengan tingkat yang beragam, mulai dari retakan pada bangunan hingga kerusakan pada fasilitas utama.
Kementerian Perhubungan (Kemenhub) bergerak melakukan pemeriksaan dan pemantauan kondisi di lapangan. Pemeriksaan tersebut diperlukan untuk memastikan fasilitas transportasi yang masih dapat digunakan tetap memenuhi aspek keselamatan, sementara lokasi yang mengalami kerusakan serius dapat segera mendapatkan penanganan.
Gempa dengan kekuatan magnitudo 7,7 tersebut juga membuat aspek keselamatan menjadi perhatian utama, terutama pada fasilitas yang berkaitan langsung dengan pergerakan pesawat dan kapal. Pemerintah perlu memastikan setiap layanan transportasi kembali berjalan berdasarkan hasil pemeriksaan teknis, bukan hanya pertimbangan operasional.
1. Lima Bandara di NTT Dilaporkan Mengalami Dampak
Direktorat Jenderal Perhubungan Udara Kemenhub telah mengerahkan personel untuk melakukan pengecekan terhadap sejumlah bandar udara di wilayah yang terdampak gempa. Berdasarkan laporan awal, terdapat lima bandara yang mengalami dampak akibat guncangan.
Kelima bandara tersebut adalah Bandara Komodo di Labuan Bajo, Bandara H. Hasan Aroeboesman di Ende, Bandara Umbu Mehang Kunda di Waingapu, Bandara Frans Sales Lega di Ruteng, serta Bandara Soa di Bajawa.
Kerusakan yang ditemukan tidak hanya berada pada satu jenis bangunan. Pemeriksaan mencakup terminal penumpang, gedung administrasi, fasilitas Pertolongan Kecelakaan Penerbangan dan Pemadam Kebakaran (PKP-PK), hingga berbagai fasilitas pendukung operasional bandara.
2. Retakan Bangunan Menjadi Salah Satu Dampak Gempa
Guncangan gempa menyebabkan munculnya retakan pada sejumlah bangunan di area bandara. Kerusakan seperti ini perlu diperiksa secara menyeluruh karena retakan yang terlihat pada permukaan belum tentu menggambarkan kondisi struktur bangunan secara keseluruhan.
Dalam keterangan tertulis Direktorat Jenderal Perhubungan Udara yang diterbitkan pada Sabtu (15/8/2026), disebutkan bahwa kerusakan mencakup bangunan terminal, gedung administrasi, gedung PKP-PK, dan fasilitas pendukung lainnya.
Kondisi tersebut membuat pemeriksaan teknis menjadi bagian penting sebelum seluruh fasilitas digunakan secara normal. Bandara merupakan infrastruktur vital bagi NTT karena transportasi udara memiliki peran besar dalam menghubungkan wilayah kepulauan, termasuk daerah wisata seperti Labuan Bajo.
3. Bandara Soa Bajawa Mengalami Kerusakan Sedang
Salah satu lokasi yang mendapat perhatian adalah Bandara Soa di Bajawa. Berdasarkan laporan awal, bandara tersebut mengalami kerusakan dengan kategori sedang pada runway serta beberapa bangunan dan fasilitas pendukung.
Selain kerusakan pada sejumlah fasilitas, ditemukan pula retakan baru di beberapa titik. Kondisi runway menjadi perhatian khusus karena landasan merupakan fasilitas utama yang berkaitan langsung dengan keselamatan penerbangan.
Pemeriksaan lebih lanjut diperlukan untuk menentukan tingkat kelayakan fasilitas tersebut. Setiap kerusakan pada runway harus ditangani berdasarkan standar keselamatan penerbangan sebelum aktivitas penerbangan dapat berjalan secara normal.
4. Pelayanan Navigasi Penerbangan Juga Terdampak
Dampak gempa tidak hanya dirasakan pada bangunan fisik bandara. Sejumlah unit pelayanan navigasi penerbangan juga terdampak akibat guncangan.
Unit yang dilaporkan mengalami dampak meliputi Cabang Pembantu Labuan Bajo, Cabang Pembantu Ende, Unit Maumere, Unit Bajawa, dan Unit Ruteng. Fasilitas navigasi memiliki peran penting dalam menjaga keamanan lalu lintas penerbangan sehingga kondisi setiap unit harus dipastikan aman sebelum digunakan.
Pada lokasi tertentu yang mengalami kerusakan pada gedung tower, pelayanan navigasi untuk sementara dipindahkan ke lokasi lain yang dinilai lebih aman. Langkah tersebut dilakukan untuk menjaga keberlangsungan layanan sekaligus mengurangi risiko bagi petugas.
5. Kemenhub Siapkan Rencana Darurat untuk Navigasi
Untuk menghadapi kemungkinan gangguan layanan, pihak terkait juga menyiapkan contingency plan atau rencana penanganan kondisi darurat. Rencana tersebut dibutuhkan agar pelayanan navigasi penerbangan tetap dapat berlangsung meskipun fasilitas utama mengalami kerusakan.
Keselamatan penerbangan menjadi pertimbangan paling utama dalam setiap keputusan. Personel penyelenggara pelayanan navigasi di wilayah terdampak juga dilaporkan berada dalam kondisi selamat.
Dengan adanya rencana alternatif, pelayanan transportasi udara diharapkan tetap dapat berjalan secara terukur sambil menunggu pemeriksaan dan perbaikan fasilitas yang terdampak gempa.
6. Pelabuhan Laurentius Say Maumere Mengalami Kerusakan
Selain bandara, gempa Flores NTT juga memberikan dampak terhadap sejumlah pelabuhan. Salah satu yang mengalami kerusakan cukup signifikan adalah Pelabuhan Laurentius Say di Maumere.
Guncangan menyebabkan sebagian struktur dermaga dan bangunan terminal penumpang roboh. Situasi tersebut menjadi semakin serius karena ketika gempa terjadi, kapal KM Bukit Siguntang sedang berada di dermaga.
Setelah kejadian, langkah pengamanan dilakukan terhadap kapal, penumpang, awak kapal, petugas, serta kawasan pelabuhan yang mengalami kerusakan. Pengamanan diperlukan untuk mencegah terjadinya risiko lanjutan akibat kondisi struktur yang belum sepenuhnya dinyatakan aman.
7. Pelabuhan Labuan Bajo Mengalami Keretakan
Pelabuhan di Labuan Bajo juga mengalami dampak akibat gempa. Pada Pelabuhan Marina Labuan Bajo, kerusakan ditemukan pada bagian kantor dan terminal penumpang berupa retakan pada tembok serta bagian dermaga.
Sementara itu, Pelabuhan Multipurpose Wae Kelambu dilaporkan mengalami keretakan pada tembok bangunan kantor dan gudang. Kerusakan tersebut menunjukkan bahwa guncangan gempa dirasakan di sejumlah fasilitas penting yang menopang aktivitas transportasi dan logistik di Labuan Bajo.
Dampak gempa juga sempat berpengaruh terhadap aktivitas wisata. Sejumlah perjalanan wisata mengalami pembatalan sementara sebagai langkah antisipasi terhadap kondisi pascagempa.