
Kuatbaca.com - Kalimantan Barat (Kalbar) menghadapi ancaman serius kebakaran hutan dan lahan atau karhutla. Data pemantauan satelit BMKG hingga 20 Agustus 2026 menunjukkan terdapat 3.759 titik panas (hotspot) yang tersebar di berbagai wilayah Kalbar. Jumlah tersebut menjadi perhatian karena sebagian titik berada pada tingkat kepercayaan tinggi dan berpotensi berkaitan dengan aktivitas kebakaran.
1. Ketapang Menjadi Daerah dengan Hotspot Terbanyak
Kabupaten Ketapang tercatat sebagai wilayah dengan jumlah hotspot paling tinggi. Dari total titik panas yang terpantau di Kalbar, sebanyak 1.795 hotspot berada di Ketapang. Bahkan, 81 di antaranya masuk kategori tingkat kepercayaan tinggi. Kondisi tersebut membuat Ketapang menjadi salah satu daerah yang mendapat perhatian khusus dalam penanganan karhutla.
Tidak seluruh hotspot memiliki tingkat keyakinan yang sama terhadap kemungkinan terjadinya kebakaran. Dari 3.759 titik yang terdeteksi, sebanyak 224 titik memiliki tingkat kepercayaan tinggi, kemudian 3.389 titik berada pada tingkat kepercayaan menengah, sementara 146 titik masuk kategori rendah. Data ini digunakan sebagai salah satu indikator untuk menentukan wilayah yang perlu mendapatkan pemantauan dan penanganan lebih lanjut.
2. Sanggau hingga Melawi Juga Dipenuhi Hotspot
Selain Ketapang, sejumlah kabupaten lain turut mencatat jumlah titik panas yang cukup besar. Sanggau berada di posisi berikutnya dengan 466 hotspot, disusul Landak sebanyak 268 titik dan Kubu Raya 254 titik. Sementara itu, Kayong Utara mencatat 200 titik panas dan Melawi sebanyak 190 titik. Sebaran tersebut menunjukkan bahwa ancaman karhutla tidak terkonsentrasi di satu daerah saja.
3. Cuaca Kering Membuat Risiko Karhutla Meningkat
Situasi menjadi semakin mengkhawatirkan karena kondisi cuaca diperkirakan masih minim hujan hingga 27 Agustus 2026. Periode kering membuat vegetasi dan lahan menjadi lebih mudah terbakar. Jika tidak segera ditangani, api dapat meluas dengan cepat, terutama di kawasan yang memiliki lahan gambut, semak belukar, maupun area perkebunan.
Dampak karhutla tidak hanya dirasakan dari luasnya area yang terbakar. Asap hasil pembakaran juga mulai mengganggu aktivitas masyarakat. Di beberapa wilayah Kalbar, kabut asap dilaporkan membuat jarak pandang menurun drastis, terutama pada pagi hari. Kondisi ini berpotensi mengganggu mobilitas darat hingga aktivitas penerbangan apabila jarak pandang turun melewati batas aman.
Kabut asap tebal sempat menyebabkan jarak pandang di Kabupaten Ketapang dan Kubu Raya berada di bawah satu kilometer pada waktu tertentu. Situasi seperti ini perlu diwaspadai karena jarak pandang yang rendah dapat meningkatkan risiko kecelakaan lalu lintas dan menyulitkan berbagai aktivitas masyarakat.
4. Kualitas Udara Mulai Mengkhawatirkan
Peningkatan jumlah hotspot turut berpengaruh terhadap kualitas udara di sejumlah kawasan. Asap karhutla membawa partikulat halus, termasuk PM2.5, yang dapat masuk jauh ke dalam sistem pernapasan. Ketika konsentrasinya meningkat, masyarakat berisiko mengalami gangguan kesehatan, khususnya kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, serta orang dengan kondisi kesehatan tertentu.
Salah satu kondisi paling mengkhawatirkan terpantau di Sungai Tebelian, Kabupaten Sintang. Konsentrasi PM2.5 tercatat mencapai 309,1 mikrogram per meter kubik. Angka tersebut menunjukkan kondisi udara yang sangat buruk dan membutuhkan perhatian serius, terutama apabila paparan berlangsung dalam waktu lama.