
1. Mahasiswa Membubarkan Diri Usai Bentangkan Spanduk di Tugu Tani
Massa demonstrasi mahasiswa membubarkan diri dari kawasan Patung Pahlawan Tugu Tani, Menteng, Jakarta Pusat, pada Selasa malam, 20 Oktober 2026. Aksi tersebut berakhir setelah para peserta memanjat patung dan membentangkan spanduk besar berisi tuntutan rakyat, kemudian membacakan pernyataan sikap secara bersama-sama.
Berdasarkan pantauan di lokasi, massa mulai meninggalkan titik aksi secara tertib sekitar pukul 18.45 WIB. Pembubaran berlangsung setelah rangkaian penyampaian aspirasi dilakukan di kawasan tersebut.
Aksi mahasiswa ini sempat memengaruhi arus lalu lintas di sekitar Tugu Tani, terutama di Jalan Menteng Raya. Kehadiran massa dan mobil komando membuat akses jalan sempat ditutup sehingga kendaraan harus menyesuaikan perjalanan. Setelah para peserta bergerak meninggalkan lokasi, kondisi lalu lintas berangsur kembali normal.
2. Sempat Terjadi Keributan Saat Polisi Hendak Melepas Spanduk
Situasi sempat memanas ketika petugas kepolisian berupaya mencabut spanduk yang dibentangkan di atas Patung Pahlawan Tugu Tani. Ketegangan terjadi tidak lama setelah massa mulai bergerak mundur dari titik demonstrasi.
Sejumlah peserta aksi merespons tindakan petugas dengan sorakan dan menyanyikan beberapa lagu. Salah satu lagu yang dinyanyikan mengingatkan pada tragedi di Stadion Kanjuruhan, Malang, yang menewaskan 135 orang akibat penggunaan gas air mata dalam peristiwa tersebut.
Kapolsek Metro Menteng AKBP Braiel Arnold Rondonuwu kemudian berupaya menenangkan peserta aksi. Ia meminta mahasiswa agar meninggalkan lokasi secara tertib untuk menghindari keributan yang lebih besar.
Ketegangan itu tidak berlangsung lama. Massa kemudian berpencar bersama kelompok masing-masing dan meninggalkan kawasan Tugu Tani. Situasi di lokasi pun berangsur kondusif setelah peserta demonstrasi membubarkan diri.
3. Jalan Menteng Raya Kembali Dibuka, Kendaraan Berangsur Lancar
Berakhirnya demonstrasi berdampak pada pemulihan arus lalu lintas di sekitar Tugu Tani. Jalan Menteng Raya yang sebelumnya sempat ditutup akibat keberadaan mobil komando kembali dibuka setelah massa meninggalkan lokasi.
Kendaraan yang melintas dari arah Menteng menuju Jalan Medan Merdeka Timur kembali dapat bergerak. Arus lalu lintas terpantau lancar, meskipun sesekali terjadi kepadatan akibat antrean kendaraan di lampu merah persimpangan Tugu Tani.
Kondisi ini menjadi perkembangan positif bagi pengendara yang melintasi kawasan Jakarta Pusat setelah sebelumnya menghadapi hambatan akibat demonstrasi. Meski demikian, pengguna jalan tetap disarankan memperhatikan kondisi lalu lintas terkini karena kepadatan dapat berubah mengikuti volume kendaraan.
Pembukaan kembali akses jalan juga membantu memulihkan mobilitas masyarakat di sekitar lokasi aksi. Pengendara yang hendak menuju kawasan Menteng maupun Medan Merdeka Timur dapat kembali menggunakan jalur tersebut sesuai kondisi di lapangan.
4. Mahasiswa Tegaskan Aksi Belum Berakhir, Siapkan Demonstrasi 28 Oktober
Meski demonstrasi pada Selasa malam telah berakhir, mahasiswa menegaskan bahwa pembubaran massa bukan berarti perjuangan mereka selesai. Ketua BEM Universitas Indonesia, Yatalathof Imawan, menyampaikan rencana untuk kembali menggelar aksi dengan jumlah peserta dan eskalasi yang lebih besar pada peringatan Hari Sumpah Pemuda, 28 Oktober 2026.
Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa mahasiswa masih berencana melanjutkan penyampaian aspirasi pada agenda berikutnya. Mereka ingin memastikan tuntutan yang disuarakan dalam demonstrasi kali ini tetap menjadi perhatian pihak-pihak terkait.
Rencana aksi lanjutan itu juga menjadi penanda bahwa dinamika demonstrasi berpotensi kembali memengaruhi aktivitas masyarakat di sejumlah titik Jakarta. Apabila aksi kembali digelar, pengendara perlu memantau informasi mengenai lokasi demonstrasi, rekayasa lalu lintas, serta kemungkinan penutupan jalan.
Hingga aksi pada 20 Oktober berakhir, arus lalu lintas di sekitar Tugu Tani telah kembali lancar. Namun, perkembangan rencana demonstrasi berikutnya masih perlu dipantau untuk mengetahui dampaknya terhadap aktivitas publik.
5. Lima Tuntutan Mahasiswa Menjadi Fokus Penyampaian Aspirasi
Dalam demonstrasi tersebut, mahasiswa yang tergabung dalam Komite Sadar membawa lima tuntutan utama. Salah satu tuntutan yang tercantum dalam informasi aksi adalah penetapan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta bencana banjir sebagai bencana nasional.
Mahasiswa juga menuntut adanya jaminan dan pemulihan kesehatan bagi warga terdampak, disertai penindakan terhadap korporasi yang dinilai bertanggung jawab atas krisis tersebut. Tuntutan itu mencakup proses hukum terhadap pihak terkait serta pencabutan izin perusahaan yang terbukti bertanggung jawab sesuai ketentuan yang berlaku.
Isu bencana dan dampaknya terhadap masyarakat menjadi bagian penting dari aspirasi yang dibawa peserta aksi. Melalui demonstrasi, mahasiswa berupaya mendorong pemerintah dan lembaga terkait memberikan perhatian terhadap penanganan bencana, pemulihan kondisi warga, serta pertanggungjawaban pihak yang terbukti melakukan pelanggaran.
Rincian lengkap empat tuntutan lainnya tidak tercantum dalam bahan berita yang tersedia. Meski demikian, mahasiswa telah menyatakan bahwa penyampaian aspirasi akan berlanjut pada agenda berikutnya. Sementara itu, kondisi lalu lintas di kawasan Tugu Tani pada Selasa malam kembali normal setelah massa membubarkan diri.