Taxiway Bandara Komodo Retak Usai Gempa M 7,7, Penerbangan Tetap Berjalan dengan Pembatasan

Kuatbaca.com - Bandara Internasional Komodo di Labuan Bajo, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT), tetap melayani penerbangan setelah wilayah tersebut diguncang gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 pada Sabtu, 15 Agustus 2026. Meski aktivitas penerbangan tidak dihentikan, pengelola bandara menerapkan pembatasan pada sejumlah area yang terdampak untuk memastikan seluruh kegiatan penerbangan tetap berlangsung dalam kondisi aman.
Salah satu fasilitas yang mengalami dampak adalah taxiway. Jalur tersebut merupakan bagian penting dari sisi udara bandara karena menjadi penghubung antara runway atau landasan pacu dengan apron, yakni area tempat pesawat melakukan aktivitas parkir, naik-turun penumpang, serta berbagai kegiatan operasional lainnya.
1. Retakan Ditemukan pada Area Taxiway
Pasca gempa, petugas Bandara Komodo langsung melakukan pemeriksaan terhadap berbagai fasilitas. Hasil pemeriksaan awal menunjukkan runway dan apron masih berada dalam kondisi baik sehingga tetap dapat digunakan untuk mendukung penerbangan.
Namun, ditemukan retakan pada salah satu bagian taxiway. Kondisi tersebut membuat area terkait tidak langsung digunakan seperti biasa. Pembatasan dilakukan sebagai langkah pencegahan sembari menunggu pemeriksaan teknis yang lebih mendalam.
Kepala Kantor Unit Penyelenggara Bandar Udara (UPBU) Komodo, Ceppy Triono, mengatakan operasional penerbangan tetap berjalan dengan pembatasan pada area tertentu.
“Bandara Internasional Komodo, Labuan Bajo, tetap melaksanakan operasional penerbangan dengan pembatasan pada area tertentu pascakejadian gempa bumi magnitudo 7,7.”
2. Pemeriksaan Langsung Dilakukan Setelah Gempa
Tidak lama setelah gempa terjadi, jajaran Bandara Komodo melakukan pemeriksaan menyeluruh. Pengecekan tidak hanya ditujukan pada bangunan, tetapi juga mencakup personel, peralatan, fasilitas sisi udara, hingga fasilitas sisi darat.
Langkah tersebut dilakukan untuk mendapatkan gambaran mengenai kondisi aktual bandara sekaligus menentukan bagian mana yang masih dapat digunakan dan area mana yang harus diamankan. Pemeriksaan semacam ini penting setelah terjadi gempa dengan kekuatan besar karena kerusakan tidak selalu terlihat secara langsung.
Berdasarkan pemeriksaan awal, runway dan apron tidak mengalami kerusakan yang mengganggu penggunaannya. Fokus penanganan kemudian diarahkan pada taxiway yang mengalami retakan serta sejumlah bangunan di kawasan bandara.
3. Area Taxiway Dibatasi demi Keselamatan Penerbangan
Retakan pada taxiway membuat pengelola Bandara Komodo mengambil langkah pembatasan sementara. Keputusan tersebut bukan berarti seluruh aktivitas penerbangan dihentikan, melainkan mengatur penggunaan fasilitas agar bagian yang terdampak tidak menimbulkan risiko.
Ceppy menjelaskan bahwa pembatasan dilakukan sebagai bagian dari upaya menjaga keselamatan penerbangan.
“Sebagai langkah antisipasi dan untuk menjamin keselamatan penerbangan, area tersebut untuk sementara dilakukan pembatasan dan pemeriksaan teknis lebih lanjut sebelum dapat digunakan kembali secara normal.”
Pemeriksaan lanjutan akan menjadi dasar untuk menentukan apakah area yang mengalami retakan membutuhkan perbaikan tertentu sebelum kembali digunakan secara penuh. Dengan pendekatan tersebut, aktivitas penerbangan tetap dapat berlangsung tanpa mengabaikan kondisi infrastruktur pascagempa.
4. Sejumlah Bangunan Bandara Juga Terdampak
Dampak gempa tidak hanya ditemukan pada taxiway. Sejumlah fasilitas bangunan di kawasan Bandara Komodo juga mengalami dampak dan masih menjalani pemeriksaan untuk mengetahui tingkat kerusakannya.
Beberapa fasilitas yang diperiksa antara lain Fire Station atau fasilitas pemadam kebakaran bandara, bagian terminal sisi darat, serta gedung administrasi. Tim teknis melakukan pemeriksaan dan pengamanan pada area yang terdampak untuk memastikan kondisi bangunan sebelum digunakan kembali.
Pengelola bandara juga melakukan identifikasi tingkat kerusakan sebagai dasar untuk menentukan tindakan selanjutnya. Area yang masih aman akan dimanfaatkan untuk mendukung pelayanan, sedangkan bagian yang membutuhkan perbaikan akan tetap dibatasi.
5. Pemulihan Terminal Dilakukan Secara Bertahap
Terminal menjadi salah satu fasilitas yang mendapat perhatian karena memiliki hubungan langsung dengan pelayanan penumpang. Pengelola Bandara Komodo berupaya mempercepat proses pemulihan agar masyarakat tetap dapat menggunakan layanan penerbangan.
Menurut Ceppy, proses pemulihan dilakukan secara bertahap dengan mempertimbangkan kondisi setiap fasilitas.
“Khusus pada area terminal, upaya percepatan pemulihan terus dilakukan agar pelayanan kepada masyarakat dan pengguna jasa penerbangan dapat tetap berlangsung.”
Penataan area, pembersihan, pengamanan fasilitas, dan pemeriksaan teknis dilakukan secara bersamaan sesuai kebutuhan. Meski demikian, kecepatan pemulihan tetap harus berjalan beriringan dengan kepastian bahwa area yang kembali digunakan memang aman dan layak.
6. Area yang Aman Tetap Dioptimalkan
Di tengah proses perbaikan, tidak seluruh bagian Bandara Komodo harus ditutup. Area terminal yang telah diperiksa dan dinyatakan aman tetap dapat dimanfaatkan untuk melayani penumpang.
Sebaliknya, lokasi yang membutuhkan pemeriksaan atau penanganan lebih lanjut akan dibatasi hingga mendapatkan kepastian teknis. Pola ini memungkinkan aktivitas bandara tetap berjalan sembari proses pemulihan dilakukan.
Ceppy menegaskan bahwa keselamatan menjadi dasar dalam setiap keputusan operasional pascagempa.
“Keselamatan adalah prioritas utama kami. Setelah gempa terjadi, kami langsung bergerak melakukan pemeriksaan dan pengamanan terhadap seluruh fasilitas yang terdampak.”